KERAGAMAN ETNIS
Kamis, 29 Maret 2012
Rabu, 28 Maret 2012
MAKRIFAT, HAKEKAT, TARIKAT, SYARIAT
Pemahaman yang beredar dalam khasanah sufistik, tasawuf atau mistik Islam bahwa perjalanan spiritual itu dimulai dari menjalankan syariat, memasuki jalan suluk tarekat dengan berdzikir, kemudian berolah pikir di aras hakekat, hingga berujung pada mengenal Tuhan setelah bermakrifat/ bertemu dengan-Nya.
Mohon maaf bila pemahaman tersebut perlu didekonstruksi dan didiskusikan ulang. Sebab keyakinan kita atas hal itu bisa jadi salah.
Menurut saya, proses bahwa perjalanan spiritual itu justeru tidak dimulai dari syari’at, tarekat, hakikat, hingga ma’rifat. Namun lihatlah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, teladan umat muslim justeru yang terjadi adalah kebalikannya:
Perjalanan spiritual justeru dimulai dari MA’RIFAT, TAREKAT, HAKIKAT dan akhirnya sampai pada SYARIAT.
MAKRIFAT adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Muhammad SAW bertemu Jibril, HAKIKAT saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk IQRA, TAREKAT saat Muhammad SAW berjuang untuk menegakkan jalanNya dan SYARIAT adalah saat Muhammad SAW mendapat perintah untuk sholat saat Isra Mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.
Itulah sebabnya, SYARIAT SHOLAT ADALAH PUNCAK PENDAKIAN SPIRITUAL yang terkadang justeru dilalaikan oleh kaum sufi dan para ahli spiritual. Padahal, Nabi MUHAMMAD SAW memberi tuntunan tidak seperti itu.
SHOLAT adalah komunikasi tertinggi serta pertemuan antara TUHAN dan MANUSIA. Sholat juga merupakan PERTEMUAN TITIK MODULASI DIMENSI YANG LAHIR DAN BATIN ANTARA TUHAN YANG MAHA LAHIR DAN MAHA BATIN dengan manusia yang merupakan makhluk satu-satunya yang memiliki SDM untuk mempertemukan titik temu dari dua dimensi tersebut dalam dirinya.
TITIK TEMU itu terletak pada KESADARAN. NAH, Bagaimana penjelasan tentang PERJUMPAAN TUHAN dengan MANUSIA? Monggo KITA sholat dengan khusyuk. CARI TITIK PALING HENING dan NIKMATILAH WAJAH TUHAN DAN BERMESRAANLAH DENGAN DIA, YANG MAHA TERKASIH.
MA’RIFAT, HAKIKAT, TAREKAT DIAKSES dengan alat epistemologis PANCAINDERA AKAL-RASA-BUDI dan akhirnya PENDAKIAN SPIRITUAL sampai pada SYARIAT, yaitu DIAKSES DENGAN SEMUA ALAT EPISTEMOLOGIS MANUSIA: PANCAINDERA, AKAL, RASA, BUDI dan ini yang special yaitu HIDAYAH WAHYU untuk kemudian dimanifestasikan dalam PERILAKU…
Itu sebabnya, bila Sholatnya bagus maka PERILAKU PASTI BAIK, SEHINGGA DARI PERILAKULAH KITA BISA MENAKAR APAKAH SESEORANG ITU SUDAH BERMANUNGGAL DENGAN TUHAN. PERILAKU adalah ibadah yang menjadi SYAHADAT manusia yang sudah mencapai taraf INSAN KAMIL, yaitu bermanunggalnya makrokosmos dengan mikrokosmos, jagad alit dan jagad gede, manunggaling kawulo kelawan gusti.
Sampun.Pareng-paren ki sanak..,. ngapunten mbok bilih wonten ingkang lepat. Nuwun gunging ombak samudra pangaksami. Monggo paring pencerahan bersama.
Wong Alus
Selasa, 27 Maret 2012
Republik Cinta Damai
Jauh sebelum Indonesia, mengenal istilah penjajahan, kolonialisme, demokrasi, reformasi dll, kita mengenal Bumi Pertiwi adalah tempat perteduhan bagi banyak suku, kaum dan bahasa. Sekalipun berbeda-beda, negeri ini sudah mengenal spirit Bhineka Tunggal Ika.
Jauh sebelum kita mengenal birokrasi, prosedur, sistem, tata laksana apalagi undang-undang ataupun ISO dll, Bumi Pertiwi tempat kita berpijak, bertani, bercocok tanam, menangkap ikan, bahkan berburu telah mengenal budaya gotong-royong, bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Jauh sebelum kita mengenal istilah social media, komunitas, sosialita, infotainment, bangsa ini telah menikmati kehidupan berkelompok, silaturahmi, saling mengunjungi dan saling memberi ketika ada sanak saudara ataupun tetangga yang sedang berkesusahan.
Jauh sebelum negeri ini, mengenal korupsi, kolusi, nepotisme dll, bangsa ini telah mengenal barter, sebagai ajak tukar menukar barang, ketika ada yang membutuhkan kita bisa bertukar barang, semuanya demi kebaikan bersama.
Jauh sebelum bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka, rakyat Indonesia telah memahami bahwa bangsa ini adalah bangsa yang gemah ripah loh jinawi.
Jauh sebelum istilah modernisme ataupun pasca modernisme muncul, bangsa ini telah belajar untuk menggunakan keahlian tangan untuk menghasilkan usaha-usaha kecil nan kreatif, seni ukir, batik, tenun, pahat, lukis dll, bahkan mendunia…
Namun kini, sementara di kota-kota besar, gedung-gedung pencakar langit mulai berdiri megah, ketika bangsa ini mencoba untuk menunjukkan jati diri sebagai bangsa yang besar. Justru semuanya harus dibayar dengan tangisan Sang Ibu Pertiwi, yang harus merelakan sebagian besar lahan-lahan suburnya harus digali, dibabat habis, digerogoti oleh tangan-tangan rakus yang tidak peduli dengan kelestarian Ibu Pertiwi.
Kini, sementara banyak orang mulai lulus dari berbagai perguruan tinggi baik lokal maupun internasional, perilaku penduduk negeri ini belum lebih baik lagi, bahkan terkesan barbar, dan tidak tahu diri, sikut sana sikut sini.
Justru orang semakin pintar, malah kejahatan krah putih semakin merajalela.
Kini, Republik ini kian lama kian tergerus oleh spirit ideologi-ideologi yang primordial, hanya untuk kelompok dan kepentingan diri sendiri.
Kini, Republik ini kian lama, kian tercerai-berai oleh keinginan masing-masing golongan untuk berkuasa, untuk menunjukkan siapa yang paling agung di Nusantara ini.
Aku rindu… pekik Ibu Pertiwi…
Aku rindu… tanah leluhur, pusaka Indonesia nan abadi itu kembali seperti dulu…
Belum ada dengki, belum ada tipu daya, belum ada kerakusan, belum ada kebiadaban, belum ada kemunafikan, belum ada konspirasi, belum ada kezaliman, belum ada… angkara murka…
Dulu, negeri ini hanyalah negeri nan ramah gemulai …
Dulu, negeri ini hanyalah negeri nan asri…
Dulu, negeri ini hanyalah negeri nan elok jelita…
Dulu, negeri ini hanyalah negeri nan damai sentosa…
Aku rindu republik ini menjadi seperti dulu lagi
Republik Cinta Damai, mungkinkah?
Salam perdamaian! Indonesia untuk Semua!
Muslim Diharapkan tidak Reaksioner
Persepsi negatif terhadap Islam dapat diubah dengan melakukan perubahan dalam cara pandang umat Islam sendiri. Umat Islam kadang bersikap reaksioner, cenderung memandang negatif dan tidak seimbang dalam setiap persoalan termasuk soal persepsi negatif tentang Islam.
Seperti misi pembalasan terhadap Amerika dan sekutunya yang dinilai berlaku zalim terhadap negara-negara muslim, menjadi dalih atas aksi terorisme di bumi Indonesia. Para pelaku mengklaim bahwa tindakannya dipicu ulah provokasi Amerika dan sekutunya. Selain itu pasca peristiwa 11 September 2001, image Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tercoreng karena dikaitkan dengan aksi terorisme yang dilakukan kelompok Al-Qaidah. Karena itu, tugas umat Islam adalah mengembalikan citra Islam sebagai agama pembawa kedamaian dan tidak ada kaitannya dengan tindak terorisme.
“Inilah kelemahan umat Islam, saking fanatis dan kuatnya membanggakan agama hingga tidak kuat mengendalikan emosinya,” kata mantan terpidana kasus terorisme Nasir Abbas.
Menurutnya, hal ini justru dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dengan menuduh Islam sebagai teroris. Sebagian umat Islam lalu terpancing amarahnya dengan menyerang dan mengebom kepentingan Amerika dan sekutunya. Dampaknya, stigma itu justru dikuatkan sendiri dengan tindakan sebagian oknum yang merasa dirinya membela Islam.
“Umat Islam itu suka latah, bereaksi spontan tanpa berpikir panjang. Ketika Geertz Wilders, politisi di parlemen Belanda, membuat film provokatif yang menyudutkan Islam, dan seorang kartunis Denmark menggambar Nabi Muhammad membawa bom, sebagian dari kita lantas melakukan protes dengan perusakan, ini kan kontraproduktif,” keluh Nasir.
Dengan tindakan reaksioner tersebut malah membenarkan tuduhan bahwa umat Islam itu ganas. Mestinya, demikian pria asli Malaysia ini menyarankan, umat Islam khususnya di Indonesia, bersikap bijaksana, tidak perlu melakukan kekerasan untuk merespon apa pun fakta yang memojokkan Islam.
Nasir mengakui, siapa pun bisa terprovokasi. “Kita juga terprovokasi saat Amerika menyerang Afghanistan dan Irak. Tapi kita kan berpikir jernih, apa respon yang tepat untuk menyikapi itu,” katanya.
Maka Nasir tidak setuju dengan dalih bahwa pelaku teror terprovokasi. Perihal pemicu teror ia melihat, ada doktrin yang ditekankan untuk dilaksanakan yaitu seruan pembalasan. Itulah yang dibesar-besarkan oleh Osama bin Laden.
“Karena Osama punya nama besar pada era Taliban. Dia menjadi panutan. Apa saja yang dikatakan Osama, dibenarkan saja. Ini ditambah dengan sikap latah sebagian umat Islam yang mendahulukan emosi. Jadilah aksi teror merebak di sini,” ungkapnya.
Nasir sendiri kerap bertanya kepada pelaku tentang motif tindakan mereka, apakah tindakan teror yang mereka klaim sebagai jihad itu murni karena mencari ridha Allah atau karena marah terhadap Amerika?
“Pasalnya, jika dilandasi kemarahan berarti tidak lagi ikhlas demi Allah. Dan batal lah klaim mereka,” tegas Nasir.
Nasir berkaca melalui sejarah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau pernah batal menebas leher musuh di medan peperangan karena sebelumnya diludahi oleh sang musuh. Padahal musuh sudah merasa bangga karena akan mati di medan pertempuran, sehingga dia bertanya apa alasannya?
“Sayyidina Ali menjawab, ‘jika aku membunuhmu karena marah telah kamu ludahi, lebih baik aku tidak membunuh kamu.’ Itulah teladan perang yang sesungguhnya. Berperang itu bukan karena marah hingga membabi-buta. Dalam peperangan tetap ada etika. Nah, aksi teror yang marak sekarang karena marah, itu kan nggak benar,” papar alumni pelatihan militer Afghanistan ini.
Bahkan menurutnya, aksi teror belakangan yang mengincar polisi sebagai target, sama sekali tidak terkendali, otodidak, dan tidak mengusung tujuan selain melampiaskan kemarahan pada aparat. “Itulah mengapa umat Islam harus kita cerdaskan,” imbuhnya.
Sementara itu Imam Masjid Al-Hikmah New York, Shamsi Ali mengatakan, persepsi negatif terhadap Islam dapat diubah dengan melakukan perubahan dalam cara pandang umat Islam sendiri. Menurut Shamsi, umat Islam kadang bersikap reaksioner, cenderung memandang negatif dan tidak seimbang dalam setiap persoalan termasuk soal persepsi negatif tentang Islam. “Kita harus mencontoh Rasulullah dalam hal ini,” kata dia, seperti dikutip republika, (21/02).
Sebagai contoh saja, lanjut Shamsi, dalam usaha Nabi Muhammad SAW membebaskan kota suci Mekkah. Ia menerima perjanjian Hudaibiyah yang melarang umat Islam untuk memasuki kota Mekkah. Umat Islam selanjutnya dihasut dengan beragam pandangan negatif. Bagi sahabat perjanjian itu tidaklah adil. Namun bagi Nabi Muhammad SAW, perjanjian itu merupakan modal umat Islam untuk memasuki Mekkah.
Contoh lain, lanjut dia, di AS ada pendeta yang memiliki niatan membakar Alquran. Bagi komunitas Muslim AS, niatan buruk itu menjadi peluang untuk membuka pandangan masyarakat AS tentang Alquran. “Mereka tentu penasaran, mengapa pendeta itu begitu membenci Alquran,” ungkapnya.
Peluang itu lalu dimanfaatkan dengan membagi-bagikan secara gratis Alquran. Akhirnya mereka menjadi tahu tentang Alquran. “Jadi, cara terbaik mengubah persepsi, ubah terlebih dahulu diri kita sendiri dalam menghadapi masalah,” pungkasnya.
Muslim diharapkan tidak reaksioner menanggapi isu-isu agama, baik diluar maupun dalam negeri. Termasuk dalam konteks mulai merebaknya bentrok antar kelompok yang bersifat horisontal. Miris melihatnya sesama umat beragama saling bertikai atas permasalahan sepele, yang kemudian menjadi besar dan membawa label agama.
Kesadaran berbangsa dan bernegara ini harus dilandasi konsep toleransi yang kuat agar sesama warga bangsa Indonesia tidak mudah terprcah belah. Seandainya mulai sekarang kita membiasakan menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan mufakat, niscaya kedamaian, ketentraman dan keamanan berlangsung di bumi nusantara yang kita cintai ini. Hanya kemauan dan kesadaran menjaga kebersamaan dan persatuan lah yang mampu menjawab tantangan tersebut. Maukah kita? Wallahu a’lam bisshowab
Profil S.M Kartosoewirjo
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905 – meninggal 5 September1962 pada umur 57 tahun) adalah seorang ulama karismatik yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya pada tahun 1949.
Pada tahun 1901, Belanda menetapkan politik etis (politik balas budi). Penerapan politik etis ini menyebabkan banyak sekolah modern yang dibuka untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang anak negeri yang berkesempatan mengenyam pendidikan modern ini. Hal ini disebabkan karena ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu. [1]
Pada umur 8 tahun,
Kartosoewirjo masuk ke sekolah Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK). Sekolah ini menjadi sekolah nomor dua bagi kalangan bumiputera. Empat tahun kemudian, ia masuk ELS di Bojonegoro(sekolah untuk orang Eropa). Orang Indonesia yang berhasil masuk ELS adalah orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi. Di Bojonegoro, Kartosoewirjo mengenal guru rohaninya yang bernama Notodiharjo, seorang tokoh Islam modern yang mengikuti alur pemikiran Muhammadiah. Ia menanamkan pemikiran Islam modern ke dalam alam pemikiran Kartosoewirjo. Pemikiran Notodiharjo ini sangat memengaruhi sikap Kartosoewirjo dalam meresponi ajaran-ajaran Islam.[2]
Setelah lulus dari ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands Indische Artsen School.Pada masa ini, ia mengenal dan bergabung dengan organisasi Syarikat Islam yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Ia sempat tinggal di rumah Tjokroaminoto. Ia menjadi murid sekaligus sekretaris pribadi H. O. S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto sangat memengaruhi perkembangan pemikiran dan aksi politik Kartosoewirjo. Ketertarikan Kartosoewirjo untuk mempelajari dunia politik semakin dirangsang oleh pamannya yang semakin memengaruhinya untuk semakin mendalami ilmu politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi. Tahun 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School karena ia dianggap menjadi aktivis politik serta memiliki buku sosialis dan komunis.[2]
S. M. Kartosoewirjo juga bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Koran harian Fadjar Asia. Ia membuat tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda. Dalam artikelnya nampak pandangan politiknya yang radikal. Ia juga menyerukan agar kaum buruh bangkit untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka, tanpa memelas. Ia juga sering mengkritik pihak nasionalis lewat artikelnya.[1]
Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah). Di PSII ia menemukan jodohnya. Ia menikah dengan Umi Kalsum, anak seorang tokoh PSII di Malangbong. Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII).
Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi. Menurutnya, PSII harus menolak segala bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa mengenal kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap Al-Qur’an. Ia tetap istiqomah pada pendiriannya, walaupun berbagai rintangan menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu sendiri, rintangan dari tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan pemerintah Kolonial.[1]
Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah. Perintahlong march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kartosoewirjo juga menolak posisi menteri yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Perdana Menteri.
Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo kemudian memproklamirkan NII pada 7 Agustus 1949. Tercatat beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat,Sulawesi Selatan dan Aceh. Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk menangkap Kartosoewirjo. Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung lama. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan menangkapnya setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Pemerintah Indonesia kemudian menghukum mati Kartosoewirjo pada September 1962. (by wikipedia)
Kedamaian
Kedamaian bukan berarti kita harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan, atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah suasana hati dan pikiran yang tenang dan damai. Kedamaian hati adalah kemampuan menjaga keseimbangan dan kebijaksanaan di segala situasi dan tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Dan itu tergambar dari sikap si burung.
Doa Nabi Khidir AS
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
اَللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِى عَظَمَتِكَ دُونَ اللُّطَفَاءِ، وَعَلوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ ، وَعَلِمْتَ مَاتَحْتَ أَرْضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ ، وَكَانَتْ وَسَاوِسُ الصُدُورِ كَاْلعَلاَنِيَّةِ عِنْدَكَ ، وَعَلاَنِيَّةُ اْلقَوْلِ كَالسِّرِ فِى عِلْمِكَ ، وَانْقَادَ كُلُّ شَىْءٍ لِعَظَمَتِكَ ، وَخَضَعَ كُلُّ ذِى سُلْطَانٍ لسُلْطَانِكَ ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا والْأَخِرَةِ كُلُّهُ بِيَدِكَ، اِجْعَلْ لِى مِنْ كُلِّ هَمٍ أَصْبَحْتُ أَوْ أَمْسَيْتُ فِيهِ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، اللَّهُمَّ إِنَّ عَفْوَكَ عَنْ ذُنُوبِى ، وَتَجَاوَزَكَ عَنْ خَطِيئَتىِ ، وَسِتْرَكَ عَلَى قَبِيحِ عَمَلِى ، أَطمِعْني أَنْ أَسْألَكَ مَا لاَ أَسْتَوْجِبُهُ مِنْكَ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيهِ ، أَدْعُوكَ اَمِنًا وَأَسْألُكَ مُسْتَأْنِسًا . وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِلَىَّ، ، وَأَنَا الْمُسِيئُ إلىَ نَفْسِى فِيِمَا بَيْنِى وَبَيْنِكَ ، تَتَوَدَّدُ إِلىَّ بِنِعْمَتِكَ، وَأَتَبَغَّضُ إلَيْكَ بِالْمعَاصِى، وَلَكِنَّ الثِّقَةَ بِكَ حَمَلَتْنِى علَى الْجَرَاءَةِ عَلَيْكَ، فَعُدْ بِفَضْلِكَ وإحْسَانِكَ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الَّرَحِيم، وَصَلَّى الله ُعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ .
Wahai Allah, Sebagaimana Engkau telah berlemah lembut dalam Keagungan Mu melebih segenap kelembutan, dan Engkau Maha Luhur dan Keagungan Mu melebihi semua Keagungan, Dan Engkau Maha Mengetahui terhadapa apa apa yg terjadi di Bumi sebagaimana Engkau Maha Mengetahui apa apa yg terjadi Arsy Mu, dan semua yg telah terpendam merisaukan hati adalah jelas terlihat dihadapan Mu, dan segala yg terang terangan diucapkan adalah Rahasia Yang terpendam dalam Pengetahuan Mu, dan patuhlah segala sesuatu pada Keagungan Mu, dan tunduk segala penguasa dibawah Kekuasaan Mu, maka jadilah segenap permasalahan dunia dan akhirat dalam Genggaman Mu, Maka jadikanlah segala permasalahanku dan kesulitanku segera terselesaikan dan termudahkan pada pagiku atau soreku ini, Wahai Allah kumohon maaf Mu atas dosa dosaku, dan kumohon pengampunan Mu atas kesalahan kesalahanku, dan kumohon tabir penutup Mu dari keburukan amal amalku, berilah aku dan puaskan aku dari permohonanku yg sebenarnya tidak pantas diberikan pada Ku karena kehinaanku, kumohon pada Mu keamanan, dan kumohon pada Mu Kedamaian bersama Mu, Sungguh selalu berbuat baik padaku, sedangkan aku selalu berbuat buruk terhadap diriku atas hubunganku dengan Mu, Kau Ulurkan Cinta kasih sayang lembut Mu padaku dengan kenikmatan kenikmatan Mu, sedangkan aku selalu memancing kemurkaan Mu dg perbuatan dosa, namun kuatnya kepercayaanku pada Mu membawaku untuk memberanikan diri lancang memohon pada Mu, maka kembalikanlah dengan Anugerah Mud an Kebaikan Mu padaku, Sungguh Engkau Maha Menerima hamba hamba yg menyesal dan Engkau Maha Berkasih sayang,
Dan shalawat serta salam atas Sayyidina Muhammad serta keluarga dan limpahan salam, dan segala puji bagi Allah Pemilik Alam semesta.
Senin, 26 Maret 2012
Riya' Memakan Pahala
Riya' Memakan Pahala
Syidad bin Ausi berkata, "Suatu hari saya melihat Rasulullah S.A.W sedang menangis, lalu saya pun bertanya kepada beliau, "Ya Rasulullah, mengapa Anda menangis?"
Sabda Rasulullah S.A.W, "Ya Syidad, aku menangis karena khawatir terhadap umatku akan perbuatan syirik, ketahuilah bahwa mereka itu tidak menyembah berhala tetapi mereka berlaku riya' dengan amalan perbuatan mereka."
Rasulullah bersabda lagi, "Para malaikat penjaga akan naik membawa amal perbuatan para hamba dari puasanya, salatnya, sedekahnya dan sebagainya. Para malaikat itu mempunyai suara seperti suara lebah dan mempunyai sinar matahari dan bersama mereka itu 3.000 malaikat dan mereka membawa ke langit ketujuh."
Malaikat yang diserahi ke langit berkata kepada para malaikat penjaga, "Berdirilah kamu semua dan pukulkanlah amal perbuatan ini ke muka pemiliknya dan semua anggotanya dan tutuplah hatinya, sungguh saya menghalangi sampainya kepada Tuhan saya setiap amal perbuatan yang tidak dikehendaki untuk Tuhan selain daripada Allah (membuat sesuatu amal bukan karena Allah)."
"Berlaku riya' di kalangan ahli fiqih adalah karena menginginkan jabatan supaya mereka menjadi sebutan. Di kalangan para ulama pula untuk menjadi populer di kota dan di kalangan umum. Allah S.W.T telah memerintahkan agar saya tidak membiarkan amalnya melewati saya akan sampai selain kepada saya."
Malaikat penjaga membawa amal orang-orang saleh dan kemudian dibawa oleh malaikat di langit sehingga terbuka semua aling-aling dan sampai kepada Allah S.W.T. Mereka berhenti di hariban Allah dan memberikan persaksian terhadap amal orang tersebut yang betul-betul saleh dan ikhlas karena Allah.
Kemudian Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, "Kamu semua adalah para malaikat Hafazdah (malaikat penjaga) pada amal-amal perbuatan hamba-Ku, sedang Aku-lah yang mengawasi dan mengetahui hatinya, bahwa sesungguhnya dia menghendaki amal ini bukan untuk-Ku, laknat para malaikat dan laknat segala sesuatu di langit."
Terbitnya Sang Fajar
Karena itu, mampu tetap merasa damai di tengah "kekacauan" atau situasi yang riuh rendah menuntut kedewasaan diri kita saat menjalaninya. Memang tak mudah dan perlu latihan berkali-kali agar hati kita bisa menemukan kedamaian dalam situasi seperti itu.
Mari, kita jaga hati dan pikiran sendiri agar selalu tenang dan damai sehingga kebahagiaan akan menjadi milik kita selamanya.
Pesan Sang Prolamator
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)
“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno)
“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)
“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno)
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
“……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno)
“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)
“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
“……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno)
“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)
“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)
sejarah kehidupan
Sebuah kemegahan yang menjadi simbol pencapaian
Pendekatan yang terus timbulkan persengketaan
Apakah simbol atau hakekat yang dicari ?
Kini, ia tetap hadir sebagai Museum
Semua bisa masuk dan tersenyum
Tak lagi ada perebutan
Sejarah kehidupan.....
inilah kedamaian......
Jumat, 23 Maret 2012
Penyebaran ISLAM Damai di Jawa dan Nusantara
Sebagian besar pendudk Jawa yang masuk Islam adalah dari kalangan rakyat biasa. Mereka yang tergolong dari Kasta Brahmana biasanya enggan menyingkir ke tempat-tempat sunyi, diantaranya mereka ke Tengger dan P.Bali, ini dapat dimengerti karena kalangan Brahmana tidak dapat bergaul sederajad dengan Kasta Waisya atau Sudra yang kedudukannya dianggap lebih dan hina. Dengan masuk Islam berarti mereka merasa dicopot kedudukannya dan derajad yang lebih tinggi karena Islam tidak membeda-bedakan umatnya.
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Islam datang ke Indonesia adalah dengan cara damai. Tidak seperti agama Nasrani yang datang ke Nusantara bersamaan dengan kaum penjajah.
Kita ketahui bersama bahwa penyebaran Islam di tanah Jawa dan Nusantara ini dilakukan secara damai. Kenapa ini bisa terjadi ?
1. Pola penyiar agama Islam yang datang mula-mula adalah para pedagang dan ahli Sufi dan para Wali.
2. Para mubaligh itu menggunakan metoda dakwah yang tepat sasaran yaitu sebagaimana tersebut dalam Al-Quran yang berbunyi, "Hendaklah engkau ajak orang kerajaan Allah dengan hikmah (kebijaksanaan), dengan peringatan-peringatan yang ramah serta bertukar pikiran dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya." (QS. An Nahl: 125).
3. Para mubaligh Islam tersebut dapat menyelami dan memahami watak dan jiwa bangsa Indonesia.
4. Sifat toleransi dari bangsa Indonesia itu sendiri yang dapat menerima setiap yang datang dari luar kemudian disesuaikan dengan kepribadian sendiri.
5. Penyiaran Islam di Jawa sebagian besar melalui saluran tasawuf atau metafisika.
6. Dengan mengawinkan kepercayaan lama dengan kepercayaan baru inilah yang menyebabkan agama Islam dapat tersiar dengan damai.
Sekarang agama Islam sudah tersiar ke seluruh Indonesia adalah menjadi tugas sarjana-sarjana Islam untuk meluruskan Islam dari berbagai hal yang berbau tahayul dengan cara bijaksana tanpa menuding peran Wali yang telah menyebarkan dan memperkenalkan Islam kepada penduduk Nusantara.
Setiap jaman ada tantangannya, ibarat hutan, para wali telah membabatnya dan menjadikannya sebagai tempat tinggal yang nyaman, adalah generasi berikutnya yang harus menyempurnakan pekerjaan para wali tersebut.
Kamis, 22 Maret 2012
Perjuangan Tanpa Kekerasan
Perjuangan Para Rasul Dilaksanakan Tanpa Menggunakan Kekerasan
Bertujuan mengubah paradigma masyarakat yang menggunakan hukum/isme selain dari Allah agar kembali menggunakan hukum/isme/aturan Allah. Ini dilaksanakan sebagaimana halnya Musa (alaihissalam) berdakwah di Mesir, perjuangan da'wah Isa/Yesus (alaihissalam) dan dua belas murid di Palestina serta da'wah Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) di Makkah.
Adapun peperangan terjadi ketika suatu negara yang dipimpin Rasul diserang oleh kekuatan yang berniat menghancurkan Din yang sudah diimplementasikan dalam bentuk kedaulatan / negara.
Bentuk Penolakan
Mereka adalah generasi penerus bangsa, yang berani menyatakan tidak dengan kekerasan mengapa kita tidak...mereka menolak bentuk kegiatan terorisme apapun bentuknya yang membuat bangsa ini hancur. tak bermartabat.
perdamaian bukan kata..
perdamaian bukan sekedar melepas terbang merpati-merpati putih keangkasa...
perdamaian bukan sekedar berteriak kata "PEACE..!! sekeras-kerasnya...
perdamaian tidak cukup dengan kata-kata cinta yang mendayu-dayu,,,
tidak cukup dengan cerita-cerita romantis dua sejoli yang kasmaran tanpa pernah menentang idealis-idealis permusuhan....
perdamaian adalah hal dimana aku ,kamu,dia dan mereka tersenyum,tertawa dan saling menghormati di dalam perbedaan-perbedaan yang beraneka ragam tanpa harus menjadi sama dan seragam....
Boleh Jihad Tanpa Jahat
Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.
Tapi mengapa masih ada segilintir manusia yang melakukan pemusnahan manusia dengan mengatasnakan jihad....Apakah ini dibilang jihad....
kadang kita berpikir yang melakukan jihad merupakan orang tidak berakal memaksakan kehendak, orang tidak berakal, putus asa, ingin perhatian, kelak akan menemukan bidari di surga. dengan kata lain mereka adalah Maniac.
Tapi mengapa masih ada segilintir manusia yang melakukan pemusnahan manusia dengan mengatasnakan jihad....Apakah ini dibilang jihad....
kadang kita berpikir yang melakukan jihad merupakan orang tidak berakal memaksakan kehendak, orang tidak berakal, putus asa, ingin perhatian, kelak akan menemukan bidari di surga. dengan kata lain mereka adalah Maniac.
Hati-Hati Provokasi Mengatasnamakan Agama
Terorisme tidak bisa dikategorikan sebagai Jihad; Jihad dalam bentuk perang harus jelas pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam peperangan, seperti halnya perang yang dilakukan Nabi Muhammad yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum Muslimin yang berada di Makkah (termasuk perampasan harta kekayaan kaum Muslimin serta pengusiran).
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !".(QS 4:75)
Perang yang mengatasnamakan penegakan Islam namun tidak mengikuti Sunnah Rasul tidak bisa disebut Jihad. Sunnah Rasul untuk penegakkan Islam bermula dari dakwah tanpa kekerasan!, bukan dalam bentuk terorisme, hijrah ke wilayah yang aman dan menerima dakwah Rasul, kemudian mengaktualisasikan suatu masyarakat Islami (Ummah) yang bertujuan menegakkan Kekuasaan Allah di muka bumi.
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah<-islam), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk."
Langganan:
Postingan (Atom)










