KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Rabu, 31 Oktober 2012

Makam Nabi Muhammad Bakal Dihancurkan?


Banyak pihak mengkhawatirkan proyek perluasan masjid Nabawi di Kota Madinah oleh pemerintah Arab Saudi. Pasalnya proyek ini bakal menghancurkan makam Nabi Muhammad. Pusara Rasulullah itu terletak di dalam masjid paling suci kedua setelah Masjid Al-Haram di Kota Makkah.

Menurut Dr Irfan al-Alawi dari Yayasan Riset Wawasan Islam diamnya kaum muslim atas rencana itu sebagai bencana sekaligus ironi. “Film tentang Nabi Muhammad baru-baru ini mengakibatkan protes (kaum muslim) di seantero jagat, namun penghancuran tempat kelahiran nabi, tempat dia salat, dan menegakkan Islam malah dibiarkan tanpa kecaman,” katanya, seperti dilansir surat kabar the Independent, Selasa (30/10).

Dr Irfan al-Alawi mengakui perluasan Masjid Nabawi memang diperlukan, tapi rencana pemerintah Negeri Dua Kota Suci itu sungguh mencemaskan. Menurut Alawi, perluasan itu sebagian besar dilakukan di sebelah barat masjid, di mana di situ terdapat makam Nabi Muhammad bersama Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Karena itu, dia takut tiga makam ini juga bakal lenyap.

Berdasarkan laporan the Gulf Institute yang berpusat di Ibu Kota Washington D.C., Amerika Serikat, dalam dua dekade terakhir Riyadh telah melumatkan 95 persen dari seluruh bangunan berusia lebih dari seribu tahun di Makkah dan Madinah. Perluasan Masjid Al-Haram juga mengundang protes dan kecaman pelbagai pihak. Di sekitar Kabah kini bermunculan pelbagai pusat belanja, hotel, dan gedung jangkung.

Di sana kini terdapat komplkes Jabal Umar, terdiri dari apartemen, hotel, dan menara jam tertinggi sejagat. Buat mewujudkan proyek ini, Saudi membuldoser benteng Ajyad dibangun di masa kekhalifahan Usmaniyah. Rumah nabi juga berubah menjadi perpustakaan dan kediaman istri pertamanya, Khadijah, sekarang menjadi toilet.

Saudi beralasan perluasan itu buat menampung jamaah umrah dan haji kian membludak. Pada 2025, diperkirakan bakal tumplek 17 juta jamaah haji. Termasuk perluasan Masjid Nabawi – bakal dimulai bulan depan – nantinya bisa menampung sekitar 1,6 juta jemaah.

Hingga berita ini dilansir, Riyadh belum bisa dimintai komentar soal rencana penghancuran makam Nabi itu.

Lima tahun lalu, beredar selebaran dari Kementerian Urusan Islam Saudi atas rekomendasi Mufti Agung Saudi Abdul Aziz al-Syekh. Isinya mendesak penghancuran makam Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar. Seruan ini disokong para ulama Wahabi, sekte terbesar di Saudi, termasuk Syekh Ibnu al-Uthaymin.

Sumber: Merdeka.com

Selasa, 23 Oktober 2012

Kegiatan Ekstra Kulikuler Wadah Generasi Muda Temukan Identitas Dirinya

Sepak bola, salah satu contoh kegiatan ekstra kulikuler

Usia remaja identik dengan masa pencarian identitas dan eksistensi diri. Pada masa itu, remaja sedang mencari identitas dirinya, apakah akan seperti A, B, atau C. Selaian identitas dirinya ingin diakui, usia remaja juga merupakan masa yang penuh dengan energi, penuh dengan gejolak.

Pelepasan energi pada hal-hal yang salah dan tidak pada tempatnya itu akan mendorong para remaja melakukan hal-hal yang tidak positif. Jadi perlu memperhatikan anak-anak muda yang energinya begitu besar ini, waktu mereka sebagian besar digunakan untuk apa? Hal tersebut diungkapkan Psikolog Pendidikan Universitas Indonesia (UI) Dr. Tjut Rifameutia pada Lazuardi Birru.

Menurut Doktor lulusan Fakultas Psikologi UI dalam bidang Psikologi Pendidikan ini, dengan adanya model-model yang jelas sebetulnya walaupun para remaja mengambil A bagian ininya, B bagian yang lain, C untuk bagian yang lain pula, kemudian bagian-bagian itu akan menjadi identitas dirinya, tentu harapannya itu hal-hal yang lebih baik.

“Keinginan remaja itu selain identitas dirinya diakui, sebenarnya masa remaja itu penuh dengan energi, bergejolak, jadi banyak sekali energinya,” imbuhnya.

Karena itu, lanjut Tjut, kegiatan ektra kulikuler menjadi penting. Disamping itu juga ada kegiatan di sekolah, ada lest dan sebaginya. Menurut dia, pada dasarnya mereka ini berkumpul dan bergaul dengan kelompoknya, tapi ada juga para remaja yang tidak mudah berbaur dengan kelompoknya.

Orang-orang seperti ini, kata Tjut, mungkin saja dimasuki oleh orang lain yang dia pikir lebih menerima diri dia (remaja yang sulit berbaur dengan kelompoknya, red). “Khawatir kan dia masuk pada yang salah, sementara dia mencari identitas dirinya,” kata dia.

“Seandainya itu terjadi akan mudah buat dia menerima apa saja karena dia merasa diterima, menerima apa saja, mungkin melakukan apapun yang dia pikir adalah dari orang yang menganggap dirinya. Kan dia lagi mencari identitas dirinya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Tjut mengatakan perlu kiranya menghargai juga pendapat-pendapat remaja karena kalau dia merasa tidak dihargai, maka dia akan cari orang lain yang bisa menghargai. “Mula-mula pintu masuknya dari situ, namun lama-lama bisa digunakan atau dimanfaatkan,” kata Psikolog UI ini.

Selain itu, penting juga meluangkan waktu untuk diskusi, dialog antara guru dengan siswa, orangtua dengan anak karena itu sangat penting untuk membangun kepercayaan dan membantu para remaja menemukan identitasnya. “Itu sangat penting sehingga kalau ada apa-apa anak atau siswa ini tahu ke mana dan pada siapa dia harus datang dan bicara,” ungkapnya.

Jadi dengan diskusi dan dialog antara guru dan siswa, orangtua dan anak, kata Tjut, tidak kosong, karena orang yang kosong ini susah dan akan mudah dimasuki. Selain itu, pendidikan agama juga harus kuat dan benar, pendidikan keluarga harus baik, dan pendidikan yang di sekolah tentu tidak hanya pelajaran, tapi pelajaran itu diharap bisa membangun satu karakter tertentu. “Harapannya tentu karakter yang positif,” pungkasnya

Waspada, Jaringan Teroris Poso Ingin Konflik Terjadi

Simulasi 

Aksi-aksi kekerasan di Poso selama ini tidak berdiri sendiri, tetapi serangkaian aksi teror untuk memprovokasi dan membuat konflik atau membuka “luka lama”. Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, di Jakarta, seperti dilansir Kompas.com, 22/10/2012.

“Sel-sel jaringan mereka di sana sudah terbentuk. Mereka dapat mengaktifkan sel-sel untuk memprovokasi dan menghidupkan konflik,” kata Ansyaad.

Selama ini, menurut Ansyaad, kelompok teror di Poso merekrut orang dari Jawa, Medan, dan NTB untuk melakukan latihan aksi teror di daerah itu. Ia mengingatkan, pemerintah daerah juga perlu berperan mengawasi orang-orang dari luar Poso yang ingin membuat KTP.

Ansyaad menambahkan, konflik di Poso memang sudah tidak ada. Namun, Poso masih rawan dan dapat diprovokasi. Karene itu, masyarakat di Poso diharapkan tidak terprovokasi.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri mengatakan, kepolisian mendeteksi ada kelompok dari luar Poso yang ingin memprovokasi dan menciptakan konflik di wilayah tersebut.

“Ada pihak-pihak yang kita lihat ingin menimbulkan suasana kekacauan atau membentuk konflik baru di Poso, yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari luar. Ini sangat kuat kita lihat,” kata dia , seperti dilansir Metrotvnews.com, 22/10/2012.

Menurut dia, hal itu dilihat dari para tersangka kasus terorisme yang ditangkap sebelumnya. Mereka rata-rata mengaku pernah latihan militer di Poso. Ada pula tersangka yang ditangkap di Poso. Padahal mereka bukan penduduk asli wilayah tersebut.

“Selama ini yang tertangkap itu, misalnya yang di Surakarta, pernah di Poso. Pelatihan di sana. Badri cs (jaringan bom Depok) pernah di Poso. Tambah lagi ada orang-orang yang dicurigai masuk ke wilayah itu,” kata Boy.

Karena itu, Boy meminta masyarakat tidak terprovokasi ulah para pendatang yang ingin membuat kacau. Menurut Boy, pelaku sengaja memprovokasi untuk menciptakan konflik horisontal. Dengan adanya hal tersebut, masyarakat diharapkan memperkuat semangat persaudaraan mereka.

“Insiden ini bukan hanya ujian untuk polisi tapi juga pada masyarakat agar semangat persaudaraan terus terpupuk. Karena peristiwa seperti ini selalu menjadikan alasan atau pengantar untuk kembali menciptakan kondisi di masa lalu,” ungkapnya.

Senin, 22 Oktober 2012

Penegakan HAM Harus Selaras dengan Nilai-Nilai Pancasila


Penegakan Hak Aasasi Manusia (HAM) di Indonesia harus selaras dengan prinsip Pancasila. Jika tidak sejalan, maka HAM hanya merusak tata nilai luhur kehidupan bangsa. Hal tersebut diungkapkan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi.

“Kembalikan HAM untuk Pancasila dan Indonesia. Jadi HAM yang mendukung ketuhanan, HAM yang mendukung kemanusiaan, HAM yang mendukung persatuan Indonesia, HAM yang mendukung demokrasi yang setimbang dengan leadership, dan HAM yang mendukung keadilan sosial,” kata Kiai Hasyim dalam Tabayun Kebangsaan, di Jakarta.

Meski penting dilakukan, kata Kiai Hasyim, penegakan HAM harus tetap mewaspadai sejumlah kepentingan yang menyusup di belakangnya. Menurut dia, jangan sekali-kali menentang HAM karena HAM diperlukan sepanjang masa sebagai hak adami di dalam syari’at Nabi Muhammad SAW yang perlu dijaga, jangan sampai hak itu dikendarai, dipergunakan untuk kepentingan kemungkaran dan pengrusakan terhadap bangsa ini.

Dalam hal ini, Kiai Hasyim mempertanyakan ideologi HAM yang berkembang di Indonesia. Ia mencurigai, banyak kepentingan asing berusaha masuk ke Indonesia dengan dalih penegakan HAM. Karena itu, Kiai Hasyim mengusulkan ada peraturan yang menjelaskan HAM.

“Itu harus dibuat undang-undangnya yang menentukan jenis kelamin HAM. Kalau tidak, dia akan dikendarai oleh orang tak bertanggung jawab untuk membuat distorsi-distorsi dalam Republik Indonesia,” tegasnya.

Islam Membawa Pesan Damai, Bukan Teror


Islam merupakan agama cinta damai yang memberikan pencerahan bagi alam semesta. Sebagai dinus salam, Islam tidak mangacu pada nama suku, nama bangsa, nama tokoh, melainkan mengacu pada sebuah nilai, yaitu nilai kedamaian dan keselamatan (assalam atau assilmu). “Jadi Islam sekali lagi adalah sebuah dinus salam, the religion of peace,” kata Dr. KH Abdul Malik Madani, MA, Katib ‘Am Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU).

Menurut Anggota Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat ini, ciri-ciri Islam sebagai agama perdamaian dan keselamatan tampak jelas dalam syi’ar-syi’ar Islam, seperti ucapan salam. Kalimat salam “Assalamualaikum” itu, lanjut Kiai Malik, menggambarkan bagaimana komitmen seorang muslim terhadap kehidupan yang damai.

“Semoga keselamatan dan kedamaian senantiasa menyertai Anda wahai saudaraku,” demikian Kiai Malik menjelaskan tentang makna Islam sebagai dinus salam.

Mantan Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan bisa juga dikatakan bahwa kalimat “assalam” sebagai salah satu diantara sembilan puluh sembilan al-Asma’ul Husna, yang artinya Allah yang maha salam, Allah sumber keselamatan dan kedamaian. “Semoga Allah senantiasa melindungi kalian, demikian pula rahmat dan barokahnya,” ungkapnya.

Jadi, lanjut Kiai Malik, jelas sekali bahwa Islam merupakan agama yang membawa pesan damai dan keselamatan bagi alam semesta. Menurut dia, jelas Islam tidak mengajarkan terorisme, tidak mengajarkan kekerasan, dan tidak mengajarkan ajaran yang meresahkan bagi umat manusia.

Dosen Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga ini meyakini bahwa tindakan keji terorisme jelas tidak mungkin dinisbatkan kepada Islam, namun kepada orang-orang yang mengaku dirinya sebagai muslim bisa saja terjadi karena kesalahan dalam memahami ayat-ayat Alquran dan ajaran Islam sebagai agama yang cinta damai dan memberi keselamatan bagi alam semesta itu.

Senin, 15 Oktober 2012

Wakil Ketum PBNU: Saling Mengkafirkan, Bibit Terorisme


Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali mengatakan, salah satu cara mencegah terorisme adalah meniru cara ulama NU dalam mendidik umat. Para ulama NU tidak ekstrem, menjauhkan diri dari sikap merasa benar sendiri dan antiradikalisme.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Koordinasi Penanggulangan Terorisme yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Muslimat NU dan beberapa organisasi kepemudaan, kalangan santri, pegiat LSM, unsur Pemda, Polri dan TNI, di Semarang, Kamis, 11/10/2012.

Menurut dia, NU sejak awal didesain sebagai organisasi yang moderat dengan memberi kebebasan untuk bermadzhab dan mengembangkan pemikiran. “Bibit terorisme itu suka mengafirkan dan menyesatkan orang lain. Sedangkan konsep NU adalah bebas bermadzhab dan antiradikalisme, mengedepankan akhlak. Ajaran para kiai yang meniru dakwah Nabi dan para wali inilah yang perlu kita lestarikan dan kembangkan,” ungkapnya.

Waketum PBNU dalam paparannya menyampaikan, Indonesia terus diserang dari masa ke masa. Pernah dijajah bangsa asing dan dirusak bangsa sendiri. Sering sekali Indonesia dijadikan target serangan. Namun saat ini musuh kita tidak jelas. Diantaranya terorisme yang perlu diwaspadai terus-menerus.

“Kita hadir di sini adalah untuk menjaga NKRI. Kita sekarang ada dalam zaman globalisasi. Musuh kita tidak kelihatan. Diantaranya teroris. Maka kita harus pintar, kreatif dan jaga persatuan serta tetap waspada,” kata dia.

Dalam kesempatan itu ia mengajak para hadirin untuk membangun komunikasi yang intens dan erat bekerjasama mencegah terorisme sejak dini. Setidaknya dari lingkungan sekitar rumah dan pemukiman.

Minggu, 14 Oktober 2012

Ancaman bom di pesawat Lion Air melalui telepon


Pesawat Lion Air yang berada di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta mendapatkan ancaman bom. Petugas menerima ancaman bom melalui telepon.

"Tadi yang menelepon seorang laki-laki ke (counter) Lion Air," kata Manager Operasional Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto, Agus Adrianto, kepada wartawan di Yogyakarta, Minggu (14/10).

Agus menjelaskan, pria tersebut tak banyak bicara saat menelepon. Dia hanya menyebutkan bom berada di sekitar pesawat jurusan Yogyakarta-Denpasar.

"Saya tanya lokasi dia tidak mau ngaku. yang pasti mau ada teror bom," jelasnya.

Agus tidak tahu persis jam berapa peneror menelepon ke counter Lion Air. Pesawat yang harusnya berangkat sekitar pukul 20.00 WIB itu akhirnya batal diberangkatkan.

"Sampai sekarang masih belum diberangkatkan," tandasnya.

Pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 568 jurusan Bandara Adisutjipto, Yogyakarta - Ngurah Rai Denpasar Bali mendapat ancaman teror bom. Ancaman berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB.

"Benar ada laporan dari pihak manajemen Lion Air Yogyakarta," kata Kapolres Sleman, Yogyakarta, AKBP Hery Sutrisman di kantornya, Minggu (14/10), seperti dilansir Antara.

Selasa, 09 Oktober 2012

PN Jakbar Gelar Sidang 2 Terdakwa Terorisme

ilustrasi

Hari ini Pengadilan Negeri Jakarta Barat menggelar sidang 2 terdakwa kasus terorisme atas perkara yang berbeda. Keduanya yaitu Cahya Fitrianta alias Fadliansyah (26) yang terlibat pengumpulan dana kegiatan pelatihan militer di hutan Depok, dan Mulyadi (40), terdakwa teroris Cirebon tahun 2008. Keduanya merupakan jaringan kelompok Abu Umar.

“Agenda sidang hari ini ada dua tapi atas dua kasus yang berbeda. Untuk Cahya merupakan persidangan perdana, sedangkan Mulyadi menjalani pemeriksaan keterangan ahli dari JPU,” kata Anggota Tim Penasehat Hukum terdakwa, Akhyar SH di PN Jakarta Barat, Senin (8/10/2012).

Untuk Cahya, agenda sidang perdana adalah pembacaan surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait dugaan pendanaan kegiatan pelatihan militer kaum Mujahidin Anggota Abu Umar di Poso.

“Cahya didakwa atas peran dalam mengumpulkan dana militer. Bekerja sama dengan Rizki Gunawan. Sedangkan Mulyadi berperan ikut serta dalam pelatihan militer kelompok Mujahid Abu Humar di hutan Depok” paparnya.

Dana yang dikumpulkan oleh Cahya bersama Rizki Gunawan untuk membeli senjata api dan operasional selama pelatihan, dan memberikan dukungan dana dalam kasus pengeboman gereja Bethel Injil Sepenuh di Surakarta. Dana tersebut diperoleh dari hasil hacking di situs MLM online.

“Cahya mengumpulkan dana militer bekerja sama dengan Rizki Gunawan dengan meretas kemudian dimasukan ke rekening isterinya Cahya yakni Nurul, yang jumlahnya, 5-8 Milyar” terangnya.

Cahya ditangkap oleh Tim Densus 88 di salah satu penginapan di Bandung bersama isterinya pada bulan April 2012 silam.

Sedangkan didakwa melakukan kegiatan pelatihan militer di hutan Depok termasuk juga kepemilikan senjata api. Mulyadi termasuk ke dalam mujahid Poso kelompok dari Abu Umar.

Mulyadi adalah terdakwa teroris Cirebon jaringan Abu Umar yang menyerahkan diri pada 8 Februari silam.

Dalam persidangan sebelumnya, Mulyadi didakwa melanggar Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Ia dikenakan pasal 7 tentang permufakatan jahat melakukan tindak pidana terorisme, pasal 9 tentang memasukkan, menjual, mengedarkan, memiliki, menyimpan, dan menguasai senjata api dan bahan peledak tanpa hak untuk kegiatan terorisme.


Sumber: detik

Teroris Hacker Dijerat UU Pencucian Utang


Cahya Fitrianta alias Fadliansyah, terdakwa tindak pidana pendanaan pelatihan militer dijerat UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Ia membiayai kegiatan pelatihan militer di Poso dengan cara membajak situs investasi online lalu menjualnya setelah memanipulasi data para anggotanya.

Sidang perdana terhadap Cahya Fitrianta berlangsung sore ini, Senin (8/10/2012), di PN Jakarta Barat. Sepanjang sidang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum ini, Cahya yang mengenakan rompi tahanan berwarna jingga belum juga didampingi oleh pengacara.

“Terdakwa telah dengan sengaja mengumpulkan dana dengan sebagian atau seluruhnya, digunakan untuk kegiatan terorisme,” tegas jaksa penuntut, Rini Hartati.

Di dalam dakwaannya, jaksa mendakwa Cahya melakukan pemufakatan jahat dengan sengaja mengumpulkan dana untuk membiayai kegiatan pelatihan militer di Poso, Sulawesi Tengah, pada 2011. Modus operandinya adalah masuk membobol situs investasi www.speedline.com kemudian memanipulasi status anggota yang tidak aktif menjadi aktif dan merubah nilai balance-nya sesuai nilai yang dia inginkan lalu menjualnya secara online.

Hasil penjualan yang berhasil diperoleh anggota jaringan terorisme Abu Umar tersebut, sebesar Rp 500 juta. Uang yang diketahui sebagai hasil pidana tersebut kemudian Cahya tranfer ke beberapa rekening bank atas nama dirinya dan sang istri, Nurul Asmi Fitriani.

“Selain pasal tentang terorisme, atas perbuatannya terdakwa juga dikenai pasal 3 UU 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang,” papar jaksa.

Atas dakwaan tersebut, Cahya menyatakan akan menyerahkan sepenuhnya kepada pengacara. Namun sepanjang sidang perdana ini, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai teknisi ponsel tersebut belum didampingi oleh pengacara.

Meski sempat ditawari majelis hakim untuk mendapatkan kuasa hukum, Cahya menolaknya. “Nanti saya dengan penasihat hukum saya saja,” kata Cahya sebelum dibawa kembali ke ruang tahanannya di Polres Jakbar.

Rabu, 03 Oktober 2012

Polda Maluku Bentuk Tim Khusus Ungkap Bom Mardika


Kepolisian Daerah (Polda) Maluku membentuk tim khusus guna mengungkap aksi teror bom yang terjadi di kawasan Terminal Mardika Ambon, Senin (1/10/2012) dini hari.

Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Maluku Komisaris Besar S G Manik, Rabu (3/10/2012) sore, mengatakan, pembentukan tim khusus tersebut sebagai upaya untuk mempercepat pengungkapan kasus teror bom yang selalu meresahkan masyarakat. Tim ini sendiri akan dipimpin langsung oleh dirinya setelah mendapat surat keputusan dari Kapolda Maluku.

“Tim ini dibentuk untuk pengungkapan kasus tersebut. Ini, kan, juga bagian dari upaya teror yang perlu diungkap,” kata Manik.

Saat ini, kata Manik, polisi telah memeriksa tujuh saksi untuk dimintai keterangan. Ia juga mengungkapkan, ledakan keras yang terjadi pada Senin  dini hari tersebut merupakan ledakan bom rakitan  yang sengaja ditaruh para pelaku di depan toko Dewi di Kawasan Terminal Mardika.

Menurutnya, jenis bom yang diledakkan berdaya ledak rendah karena hanya menggunakan komponen pupuk urea dan solar yang sengaja dipadatkan dengan memakai sumbu sebagai pemicu ledakan.

“Komponen rangkaian bom rakitan itu menggunakan pupuk urea dan solar yang dipadatkan serta sumbu sebagai pemicu ledakan. Ini sesuai hasil temuan Tim Jihandak Polda Maluku,” ujarnya.

Soal motif teror tersebut, ia mengakui, pihaknya belum dapat memastikannya. Ia juga tidak mau berspekulasi kalau teror bom tersebut ada kaitannya dengan operasi penertiban PKL di Pasar Mardika yang terjadi sehari pasca-ledakan tersebut. Ia juga belum dapat memastikan apakah pelaku terkait jaringan teroris ataukah bukan.

“Saya juga mendengar informasi tersebut kalau sehari sebelum peledakan itu ada penertiban PKL di Pasar Mardika. Kita tidak ingin berandai-andai karena kita butuh fakta hukum,” ungkapnya.

Setelah dibentuk tim khusus tersebut, ia optimistis polisi segera menangkap pelaku teror bom di Terminal Mardika tersebut. Ia bahkan mengatakan tidak kurang dari dua minggu ke depan pelaku teror akan segera tertangkap. “Paling dua minggu pelakunya sudah kita tangkap. Saya yakin itu,” katanya.

Selasa, 02 Oktober 2012

Mantan Terpidana Kasus Terorisme Suarakan Stop Kekerasan


Sejumlah mantan terpidana kasus kekerasan berbasis ideologi menyatakan tekad untuk menghentikan kasus-kasus kekerasan atas dasar agama. Karena kenyataannya, model gerakan jihad di Tanah Air lebih banyak menimbulkan korban.

“Saatnya mengubah model jihad dengan menghindari kekerasan,” ujar Ali Fauzi di acara Seminar sehari bertema, “Mencari Akar dan Solusi Fenomena Sosial Aksi Kekerasan Berbasis Ideologi di Jawa Timur” di Paciran Lamongan, Minggu, 30 September 2012.

Ali Fauzi, yang juga mantan instruktur militer di Afganistan, Poso, Moro dan Ambon ini, menyatakan itu dalam acara testimoni yang dilakukan tiga mantan terpidana teroris. Tiga orang tersebut yaitu Haris, 46 tahun; Yusuf, 35 tahun; dan Habib, 31 tahun.

Mereka menyampaikan pengalaman hidupnya dalam keadaan wajah tertutup. Dalam ceritanya, tiga orang ini tercatat pernah mengikuti latihan militer di Afghanistan, Moro di Filipina dan di Poso serta Ambon Maluku.

Tiga orang tersebut, yaitu Haris, 46 tahun, asal Lamongan, semasa mudanya kuliah di Universitas Brawijaya Malang, kemudian pernah ikut latihan militer di Afganistan pada 1998 hingga 2003. Ilmu yang didapat dari latihan militer itu, seperti belajar menembak, merakit bom hingga mengoperasikan senjata berat seperti tank.

Ada juga Yusuf, 35 tahun, kelahiran Jombang, tercatat pernah menjadi terpidana penyimpanan bahan peledak seberat 700 kilogram bersama Abu Thalut di Semarang. Semasa muda pernah ikut latihan militer di Moro Filipina berikut ikut menjadi pejuang di Ambon. Satu orang lagi atas nama Habib, 31 tahun, asal Lamongan ini tercatat pernah ikut latihan militer di Ambon pada tahun 2001. Kemudian, sempat pergi ke Poso yang kemudian ditangkap aparat karena ikut merencanakan aksi teror. Dalam aksi itu, dua temannya saat kontak senjata dengan aparat.

Menurut Haris, pelbagai pengalaman hidup kekerasan sudah dialaminya di Afganistan. Misalnya, dia bersama dengan sejumlah ikhwan (sebutan pejuang Muslim) dari pelbagai Negara, pernah ikut menghancurkan pos milik tentara Soviet pada 2002.

Tingkatkan Nasionalisme, 4 Mata Pelajaran akan Difokuskan dalam Kurikulum 2013


Saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menggodok kurikulum tahun 2013. Dalam pembahasan ada empat mata pelajaran yang akan difokuskan untuk kurikulum baru. Keempat mata pelajaran tersebut adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama, serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

“Tapi bukan berarti mata pelajaran lain diabaikan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Pengembangan Khairil Anwar Notodiputro.

Keempat mata pelajaran tersebut dipilih karena dianggap bisa mempengaruhi rasa nasionalisme dan meningkatkan karakter generasi muda. Saat ini, pendidikan di Indonesia dirasa masih terlalu liberal.

Menurut Khairil, kurikulum ini akan mengalami banyak perubahan dibanding kurikulum sebelumnya yang dibuat tahun 2006. Selain isi pengajaran, juga mengubah cara penyampaian termasuk penyiapan dan penyediaan buku ajarnya. Kelak empat mata pelajaran itu harus menggunakan buku yang distandarkan oleh kementerian. Sedangkan mata pelajaran lain, boleh menggunakan buku pedoman yang lain namun harus di bawah pengawasan kementerian.

Khairil berharap tidak ada buku-buku pelajaran yang mempunyai konten terlalu liberal. “Semoga tidak lagi menemukan gambar (miyabi) itu di buku-buku pelajaran,” kata Khairil menanggapi buku pelajaran setingkat SMP yang memuat gambar artis porno di salah satu halamannya.

Sumber: Tempo.co

Budaya Gotong Royong ala Pancasila


Hari ini, tanggal 1 Oktober 2012, adalah Hari Kesaktian Pancasila. Dengan berbekal kesaktian dan semangat Pancasila, kita bisa mengentaskan kemiskinan melalui penyegaran hidup saling peduli, gotong-royong dan tindakan nyata pro keluarga miskin.

Bangsa kita dewasa ini sudah maju pesat dan makin mampu untuk saling berbagi. Apabila mau saja, dengan tindakan sederhana, tetapi nyata dan ikhlas, untuk anak bangsa yang terpuruk, akan dengan mudah mengubah seluruh bangsa ini bangkit mandiri menjadi bangsa besar sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kita tidak perlu malu untuk dengan rendah hati kembali kepada cita-cita para pendiri bangsa, mengakui bahwa dewasa ini budaya gotong-royong yang digali dan ingin dijadikan pedoman untuk kehidupan bangsa, tidak seluruhnya dikembangkan dan dijadikan pedoman pembangunan bangsa.

Gerakan pembangunan perlu disegarkan kembali, dengan pertama-tama menghidupkan budaya gotong royong bukan hanya melalui pidato saja, tetapi dengan keteladanan oleh para pemimpin dan panutan bangsa, dan utamanya oleh anak bangsa yang kehidupannya sudah lebih mapan berkat perjuangan para pendahulu bangsa. Contoh-contoh nyata kehidupan gotong-royong perlu dikobarkan dan diangkat tinggi-tinggi kepermukaan.

Salah satu upaya yang dewasa ini yang mendapat perhatian sangat luas di kalangan masyarakat adalah pembentukan forum atau pos pemberdayaan keluarga (posdaya) di desa-desa dan pedukuhan-pedukuhan. Di dalam forum atau pos pemberedayaan itu, seluruh anak bangsa diajak bergabung, membicarakan masalah bukan sekedar untuk dibeberkan sebagai tontonan, tetapi masyarakat diajak bekerja gotong-royong mencari penyelesaian dan bekerja cerdas, mandiri dan keras menyelesaikan masalah yang dihadapi dan mengantar serta mendukung keluarga terpuruk di wilayahnya menjadi keluarga sejahtera.

Keluarga miskin yang mempunyai anak balita diajak mengirim anak balitanya ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bukan diantar oleh orangtuanya, ibunya atau bapaknya, tetapi dianjurkan agar para penduduk lanjut usia di daerahnya, kakek atau neneknya, atau kakek dan nenek tetangganya, mengantar dan menunggu anak balita itu belajar bersama guru-guru tercinta di pusat-pusat pendidikan tersebut.

Tujuannya, memupuk saling kerja sama agar pasangan muda yang sedang membangun dapat mempersiapkan diri bekerja dan memperoleh pendapatan yang cukup untuk bekal hidup yang lebih mandiri. Penduduk lanjut usia membangun kepedulian dan kasih sayang kepada tiga generasi, yaitu anak-anak, dewasa dan sesama lansia, serta ikut mempersiapkan masa depan bangsa dengan kebanggaan.

Dalam semangat gotong-royong berbasis Pancasila, pertama-tama perlu diupayakan agar tidak ada seorang pun anak usia sekolah yang tidak sekolah. Masalahnya, bukan sekolah gratis atau sekolah unggulan, tetapi seperti ditegaskan dalam falsafah Pancasila, adalah keadilan untuk semua dan persiapan menjadi sejahtera bagi anak bangsa secara merata.

Karena itu, keluarga yang tergabung dalam posdaya harus sepakat berjuang keras agar semua anak usia sekolah, utamanya anak keluarga miskin, dapat dibantu untuk sekolah setinggi-tingginya, agar kelak dapat memotong rantai kemiskinan yang secara kultural menjadi bagian hidup dari generasi ke generasi berikutnya tanpa ada akhir. Keluarga mampu dengan semangat gotong-royong mengangkat anak keluarga kurang mampu tanpa harus memindahkannya ke rumah, tetapi cukup dengan menjamin agar anak-anak keluarga miskin bisa sekolah dengan baik.

Dalam semangat Pancasila itu pula, keluarga miskin dan telantar perlu dijamin agar tetap sehat, bukan hanya dengan memberi kesempatan berobat gratis, tetapi utamanya memberi fasilitasi untuk mencegah agar setiap keluarga memahami budaya hidup sehat dan mencegah penyakit secara dini. Mereka diharapkan hidup dengan gizi yang mencukupi. Biarpun halaman rumahnya sempit, tetapi setiap keluarga dapat mengubahnya menjadi kebun bergizi yang setiap kali bisa dipetik hasilnya untuk makanan sehari-hari. Halaman sempit dikembangkan dengan tanaman bertingkat sehingga asupan sayur dan bahan makanan bergizi menjadi lebih murah dan memberi manfaat yang tinggi.

Hidup gotong-royong dapat dilakukan dengan mengangkat keluarga miskin dan anak-anaknya yang sudah dewasa menjadi pekerja magang dalam usaha ekonomi sebagai awal dari upaya menjadikan mereka pengusaha baru di masa depan. Hal itu bermakna menularkan semangat entrepreneur dan kemandirian pada masa depan anak anak muda sebagai bagian dari anak bangsa dengan usaha yang mandiri dan menguntungkan. Semangat Pancasila mengharuskan setiap anak bangsa yang mampu bukan mematikan usaha baru, tetapi justru menjadikannya mitra usaha yang didukung dan didorong untuk maju.

Pengembangan koperasi Centra Kulakan Posdaya di Bantul, Kulon Progo dan Pacitan adalah contoh awal, di mana suatu centra kulakan yang dikelola oleh koperasi primer, tujuannya bukan untuk menjadi warung eceran yang besar dan laris, tetapi keberhasilannya justru diukur dari pelayanannya kepada warung-warung kecil milik atau yang dikelola oleh keluarga miskin yang bekerja sama dengan keluarga mampu di desa.

Keluarga miskin menjadi mitra keluarga mampu di pedesaan dan diantar melalui kerja keras dan disiplin tinggi untuk mengelola warung, yang menjamin supply barang kebutuhan pokok kepada keluarga di sekitarnya. Kalau upaya ini berhasil, tidak mustahil keluarga miskin yang bekerja keras dengan disiplin itu akhirnya mampu memotong rantai kemiskinan.

Semangat gotong-royong menjadi basis kerja sama yang lebih erat antara keluarga mampu dan keluarga miskin. Kalau ini bisa ditularkan ke daerah lain, tidak mustahil budaya dan semangat Pancasila kembali menjadi pedoman yang ampuh untuk mengantar masa depan bangsa yang lebih sejahtera.