KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Senin, 19 November 2012

UGM dan MK Kenalkan Pancasila pada Generasi Muda Lewat Iklan


Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi membuat Iklan Layanan Masyarakat tentang Pancasila yang ditayangkan di stasiun televisi nasional. Iklan ini membidik sasaran pengenalan Pancasila kepada kawula muda. “Tayang setiap selasa malam,” kata Ketua Tim Peneliti Strategi Nasional Pembudayaan Pancasila, PSP UGM, Dr. Daud Tanudirja, dalam siaran persnya akhir pekan ini.

Menurut Daud, iklan layanan yang bertema pancasila ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan pengenalan nilai-nilai pancasila di kalangan generasi muda. Televisi dianggap sebagai media pembudayaan Pancasila yang memiliki pengaruh paling kuat. “Materi iklan kita dapatkan dari penelitian yang dilakukan selama dua tahun,” kata Daud.

Menurut Daud pemberian materi dan pembudayaan pembelajaran melalui pendidikan pancasila di sekolah yang relatif singkat mengakibatkan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila menjadi sederhana. Karena itu iklan layanan masyarakat akan bisa memberi penjelasan lebih baik. “Kalau hanya sekolah mereka tidak mampu menjiwai nilai-nilai Pancasila dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Selain kurangnya jam pelajaran di sekolah, kata Daud ruang-ruang yang menjadi sarana belajar bagi generasi muda untuk mendalami pancasila juga masih minim. Dia menilai kesulitan dalam mencerna nilai-nilai Pancasila inilah yang harus dijembatani oleh pihak-pihak terkait, khususnya pemerintah dan media massa seperti televisi, koran, radio, dan jejaring sosial.

Pengajar Sosiatri UGM Prof. Dr. Janianton Damanik, M.Si mengatakan Pancasila adalah jawaban atas keberagaman dan perbedaan yang ada dalam bangsa Indonesia. Sayangnya, dalam hal penghayatan dan pengamalan mengalami penurunan tingkat pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila. “Penurunan ini selain dikarenakan tidak adanya materi Pancasila sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri juga disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif,” katanya.

Sabtu, 17 November 2012

Teroris Masih Keluar Masuk Bali

Kapolda Bali Irjen (Pol) Budi Gunawan

Kasus terorisme yang terjadi di Poso dan daerah lainnya akhir-akhir ini, menjadi perhatian khusus Polda Bali. Yang saat ini sangat menjadi perhatian adalah pintu masuk Bali dari berbagai arah, baik Pelabuhan Padang Bai, Gilimanuk maupun pelabuhan Celukan Bawang Singaraja.

 “Ada beberapa pintu masuk Bali, di Gilimanuk, Padang Bai, jalur-jalur tradisional satuan-satuan kita yang berperan aktif melaksanakan mengawasan, pengetatan, dan juga alat-alat IT juga kita perhatikan. Selalu kita up-date itu,” kata Kapolda Bali Irjen (Pol) Budi Gunawan seperti dilansir laman jaringnews, Rabu (14/11).

 Kapolda juga menyampaikan, semua data tentang teroris sudah dikantongi Polda Bali. Ini untuk mempermudah pendataan terhadap semua orang yang masuk ke Pulau Dewata tersebut. Bali, lanjut Budi, sudah mempunyai peralatan pendeteksi yang mampu untuk mengantisipasi, khususnya di jalur masuk wilayah Bali.

 “Semua data, perkembangan soal teroris selalu kita ikuti. Semua ada muaranya, ada target, sampai antisipasi terakhir, target sudah bisa kita amankan,” tambahnya.

Dia menambahkan, hingga kini masih ada orang yag diduga teroris keluar-masuk Bali. Akan tetapi masih dalam batas pengawasan Kepolisian daerah Bali. Jajaran Polda Bali terus meningkatkan kewaspadaan dan membatasi gerak-gerik teroris agar peristiwa teror bom tahun 2002 dan 2005 silam tidak terulang lagi.

Kapolda minta masyarakat tetap tenang dan mempercayakan pengamanan kepada personel Polda Bali yang tetap berusaha maksimal mencegah aksi teror.

“Ya keluar masuk teroris di Bali itu pasti ada, tapi masih dalam batas kemampuan pengawasan kita. Yakin dan percaya pada kita, kita jamin keamanan,” tukas Budi seperti dikutip laman Kompas.

KH Masdar: Inti Agama adalah Akhlak


Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi mengatakan, inti agama adalah akhlak, yang melampaui syariat.

Belakangan ini, ia melihat aspek akhlak mulai hilang dalam diri umat Islam dengan mengutamakan pendekatan syariah secara dangkal. Kebencian terhadap kelompok lain yang tidak mengikuti kelompok mereka menjadi akidah baru yang menurut definisi kebenaran mereka, sudah tidak sah keimanannya.

“Rasulullah sendiri pernah mengatakan, innama buitstu liutammima makaarimal akhlak atau ia diperintahkan untuk memperbaiki akhlak umat manusia,” kata Kiai Masdar.

Akhlak berintikan kejujuran dan berbuat baik kepada orang lain. Sayyidina Umar, dengan pendekatan akhlak, ketika menghukum seorang pencuri Onta, menggunakan perspektif akhlak. Para pencuri tidak dihukum karena setelah diusut, ia tidak dikasih makan oleh majikannya sehingga terpaksa mencuri. Ia lalu memutuskan majikannya berkewajiban mengganti onta yang telah diambil sebagai tanggung jawab atas kelalainnya memenuhi kewajiban.

Ia berpendapat, hukuman potong tangan, yang selalu dikampanyekan oleh pengikut Wahabi dan salafi, sangat formalistik.

Dijelaskannya, hukuman hudud atau potong tangan bagi para pencuri harus dilihat dalam konteks turunnya ayat tersebut. Dalam tradisi jahiliyah, hukuman atas sebuah kesalahan selalu lebih kejam dari tindakan yang dilakukan.

Sebelum turunnya ayat tentang khisas, terdapat sebuah peristiwa, yaitu dibunuhnya seorang anggota suku Yahudi oleh kelompok lain. Suku Yahudi tersebut menuntut tiga hal, pertama, yang terbunuh harus dihidupkan kembali, kalau tidak bisa, keluarga si pembunuh harus bisa memenuhi rumahnya dengan bintang gemintang di langit. Kalau tidak bisa, seluruh kampung pembunuh akan kami habisi. Inilah prinsip pembalasan mesti lebih kejam dari tindakan.

Lalu, turunlah sebuah ayat tentang khisas, untuk membatasi maksimal hukuman yang boleh dikenakan. “Ada batas maksimum hukuman yang boleh dikenakan, tapi kalau dihukum dibawahnya tetap boleh dan tetap Islami,” jelasnya.

Maka dari itu, dikenal hukum jinayat atau pidana Islam. Nyawa dibalas dengan nyawa, tetapi ada alternatif lain atau tidak harus dibunuh, melainkan diganti dengan onta atau denta lainnya, bahkan diberi pengampunan. Semuanya tetap dalam konteks ajaran Islam.

“Jangan dikira bahwa yang namanya hukum syar’i mesti maksimun. Kalau tidak menghukum mati, dianggap tidak Islami. Khisas setimpal maknanya sebagai hukuman maksimum. Kalau ganti rugi, lebih bertumpu pada kelapangdadaan, ini akhlak,” tegasnya.

Senin, 12 November 2012

Bali Democracy Forum Menjadi Barometer Keharmonisan Perdamaian Dunia


Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengharapkan bahwa Bali Democracy Forum yang diselenggarakan di Nusa Dua Bali, bisa menjadi barometer keharmonisan perdamaian dunia. Ahmadinejad mengatakan, untuk meraih masa depan yang lebih baik tidak ada cara selain partisipasi dari semua negara dalam tatanan global untuk menciptakan keharmonisan tersebut. Demikian ia katakan dalam jumpa pers Kamis, (8/11). Dalam kesempatan tersebut ia juga mengatakan bahwa dengan BDF, ada tujuan suci, yaitu membangun kemakmuran oleh pemerintah masing-masing peserta.

Pagi ini presiden Iran tersebut sudah diagendakan untuk bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pertemuan tersebut, kedua kepala negara akan melakukan pembicaraan yang terkait dengan kerjasama kedua negara. Pembicaraan dilakukan pada pukul 10.00 Waktu Indonesia Tengah.

Teroris Poso Lari ke Gunung Malino


Aparat polisi menduga para anggota kelompok teror Poso yang sebelumnya bersembunyi di kawasan Gunung Biru Tamanjeka telah melarikan diri menuju ke lokasi baru yaitu ke pegunungan Malino yang berada di wilayah kabupaten Morowali provinsi Sulawesi Tengah, Jumat (9/11/2012). Namun tidak menutup kemungkinan anggota kelompok itu berupaya melarikan di ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjend Pol Dewa Parsana dalam konferensi pers di Mapolres Poso kepada wartawan, Kamis (9/11/2012), mengatakan bahwa operasi penegakan hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian telah membuat para pelaku kekerasan dan teror yang sebelumnya disinyalir kuat berada di wilayah gunung Biru telah melarikan diri.

Dari informasi intelijen diduga anggota dari kelompok itu telah melarikan diri ke wilayah pegunungan Malino yang secara administratif  berada di daerah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kemungkinan pelarian anggota kelompok itu ke wilayah pegunungan Malino kini masih terus dikembangkan untuk kebutuhan pengejaran yang  kemungkinan besar akan dilakukan ke wilayah itu.

Polri juga tidak menutup kemungkinan bahwa selain ke arah pegunungan Malino di Morowali, anggota kelompok itu juga berupaya untuk melarikan diri ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Pihak kepolisian daerah Sulawesi Tengah telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian di kedua provinsi itu untuk memperketat pengamanan  di perbatasan untuk mengantisipasinya.

Kawasan gunung Biru Tamanjeka yang sebelumnya diduga kuat sebagai basis dari pergerakan kelompok pelaku aksi teror dan kekerasan oleh pihak kepolisian daerah Sulawesi Tengah diyakini telah steril karena dalam operasi penyisiran yang dilakukan melibatkan 2 SSK Brimob dan 2  SSK personel TNI, petugas tidak menemukan atau menangkap satupun pelaku.

Operasi penyisiran di gunung biru Tamanjeka secara efektif telah dihentikan pada Jumat 9 november 2012. Warga masyarakat setempat sudah diperbolehkan untuk kembali beraktivitas di kebun maupun di ladang.

Hari Pahlawan Momentun Kukuhkan Karakter Bangsa di Kalangan Pelajar


Belasan ribu pelajar SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK se-Kabupaten Madiun mengikuti apel akbar pendidikan karakter bangsa di Gedung Olahraga (GOR) Pangeran Timur, Caruban, Kabupaten Madiun, Sabtu malam, 10 November 2012. Acara ini sekaligus juga untuk memperingati hari pahlawan.

Apel akbar pendidikan karakter bangsa ini diprakarsai Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun. Belasan ribu siswa beserta guru ikut menyalakan lilin sebagai lambang semangat dan pengorbanan.

“Ini untuk memotivasi generasi bangsa ini. Generasi penerus harus siap mengisi pembangunan sesuai kemauan para pendahulu bangsa ini,” kata Bupati Madiun Muhtarom seusai apel akbar. Menurut dia, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai jasa pendahulunya.

Apel akbar pendidikan karakter bangsa ini dipimpin Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0803 Madiun Letnan Kolonel (Inf) I Wayan Sandi Susila. “Kegiatan seperti ini penting di tengah terjadinya disharmonisasi sosial di mana-mana,” katanya seusai apel.

Ia menambahkan, dengan menanamkan pendidikan karakter, maka generasi muda, khususnya, akan sadar dan memegang teguh karakter bangsa. “Sehingga kehidupan akan berjalan kondusif,” katanya.

Dalam apel akbar itu dilakukan penandatanganan ikrar dan penyalaan lilin sebanyak 14.762 buah yang akan diusulkan ke Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Jumlah lilin yang dinyalakan melebihi target 10 ribu buah.

Jumat, 02 November 2012

Mencegah Kampus dari Terorisme


Dalam dua pekan terakhir ini, kita semua dipertontonkan berbagai pemberitaan mengenai tindakan-tindakan beraroma aksi terorisme. Gelombang aksi tersebut, saat ini seakan-akan kembali muncul ke permukaan, menyeruak dan terjadi di pelbagai daerah di Indonesia, termasuk Solo.

Bila dicermati, aksi terorisme yang paling menonjol barangkali adalah teror yang mengatasnamakan agama tertentu, dan ini jelas sangat gegabah dan berbahaya. Namun, hal yang menarik adalah justru ketika mencermati fakta bahwa para tersangka pelaku tindak terorisme tersebut masih berusia relatif muda. Di antaranya adalah ketiga tersangka pelaku teror di Solo, yakni Farhan yang masih berusia 19 tahun dan Mukhsin berusia 19 tahun serta Bayu berusia 24 [belakangan diketahui memalsukan umur]. Farhan dan Mukhsin tewas ditembak saat pengerebekan. Sedangkan Bayu, ditangkap di Karanganyar.

Untuk itu, mengingat usia mereka yang masih berada pada kisaran belasan tahun. Sejatinya, mereka sedang mengalami usia transisi dan transformasi akal dari remaja menuju dewasa. Mereka akan berusaha mencari jati diri. Seperti halnya yang dialami para mahasiswa.

Ini barangkali menjadi keprihatinan kita. Akibat aksi terorisme ini, ancaman disintergasi bangsa kembali mengintai. Generasi muda saat ini, sedikit banyaknya telah terkontaminasi paham radikalisme-terorisme. Kampus yang sejatinya menjadi tempat pencarian jati diri mahasiswa menjadi lahan empuk bagi perkembangan embrio terorisme. Mahasiswa akan cukup rentan tergoda dengan godaan-godaan paham baru yang mengisi jiwa mereka, termasuk paham radikalisme-terorisme.

Sebelum lebih jauh, penulis terlebih dahulu ingin memberikan sebuah kutipan dari Hery Sucipto dalam buku hasil lokakaryanya yang berjudul Meredam Gelombang Radikalisme meyatakan bahwa “Aksi terorisme dan radikalisme terjadi di semua agama di dunia. Jadi, bukan hanya monopoli Islam seperti yang dituduhkan kalangan Barat, karena dalam agama selalu terdapat kelompok minoritas-militan dan ekstrem-radikal.” (Hery. 2004; 8)

Dari kutipan di atas, penulis ingin memberikan pemahaman bahwa fenomena radikalisme-terorisme ini mampu menghinggapi semua agama. Oleh karena itu, embrio radikalisme-terorisme tidak hanya akan berkembang pada kampus yang memiliki mahasiswa yang homogen dalam kepercayaan agama—dalam hal ini Islam—melainkan juga pada kampus yang memiliki mahasiswa yang plural dalam kepercayaan agama.

Yang wajib kita ketahui adalah bahwa tak ada satu agama pun yang memberikan legitimasi atas tindakan radikalisme-terorisme ini. Bahkan sepakat untuk mengutuk tindakan tersebut. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Pemahaman Parsial

Ajaran agama khususnya Islam, menuntut para pengikutnya untuk memahami agama secara menyeluruh, tidak parsial. Mendambakan agama yang rahmatan lil alamin membutuhkan pemahaman agama yang komprehensif dan tidak setengah-setengah. Hal ini dibenarkan pula oleh Hasyim Muzadi bahwa salah satu penyebab penting terjadinya aksi kekerasan dan terorisme disebabkan oleh pemahaman agama yang simplitis, tidak komprehensif.

Kenyataan ini seakan diafirmasi oleh fakta-fakta yang membuktikan bahwa terjadi kekeliruan tentang konsep jihad yang dianut para terorisme—seperti diungkapkan Amrozi cs.—makna Jihad yang disempitkan, seakan hanya bermakan Al Qital (membunuh atau perang). Padahal jihad yang besar justru terletak pada tataran melawan hawa nafsu.

Lebih jauh, pemahaman parsial ini akan membawa kepada sikap fanatik yang cenderung eksklusif. Seakan-akan ia mewakili agama dan agama diwakili ia. Luar dirinya adalah kafir dan jika kafir maka halal darahnya. Dasar inilah yang menjadi legitimasi tindakan terorisme.

Ideologi radikalisme-terorisme ini akan semakin subur, ketika kepentingan-kepentingan nonagama diagamakan, seperti kepentingan politik dan ekonomi. Sampai saat ini konflik Israel-Palestina adalah bukti nyata akan hal ini. Di mana negara adidaya (Amerika) tidak adil dalam menyelesaikan konflik politik di negara tersebut, justru menimbulkan beberapa perlawanan dengan bentuk terorisme yang diagamakan.

Tugas Universitas

Kurikulum pendidikan agama di setiap universitas tentunya berbeda-beda, namun hal ini tak mengurangi tanggung jawab universitas untuk mencegah para mahasiswa mendekati embrio radikalisme-terorisme. Proyek deradikalisasi BNPT yang menuai kontroversi—karena lebih mengarah kepada deislamisasi—seharusnya diberikan sentuhan inovasi, sehingga dapat diterima oleh semua kalangan.

Idealnya sebagai kaum intelektual, mahasiswa tidak asal menelan mentah-mentah paham baru yang dia terima, tetapi harus melewati proses telaah secara kritis dan objektif. Berbagai gerakan dalam kampus, hendaknya diberikan pengawasan agar tidak terjebak pada brain washing melalui pemahaman agama secara parsial, tentunya berakibat pada terciptanya aksi terorisme baru.

Terakhir, semua ajaran agama mengajarkan kedamaian, maka dari itu, tak perlu kekerasan dan teror dalam menyelesaikannya. Dialog dan musyawarah adalah solusi terbaik dalam menyelesaikan sebuah konflik, baik politik maupun agama. Seperti sikap Nabi Muhammad dalam perjanjian Hudaibiyah. Mungkin itu.

Mantan NII: Islam Tak Mengajarkan Kekerasan


Di dunia ini tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Kalau pun ada yang melakukan kekerasan mengatasnamakan agama, itu karena disebabkan pemahaman yang tidak komprehensif dalam memahami ajaran agama yang dianutnya.

Misalnya Islam mengajarkan konsep rahmatan lil alamin, Katolik dan Protestan mengajarkan cinta kasih, Buddha mengajarkan ahimsa, Hindu mengajarkan moksa. Dalam konteks ini, tak ada satu pun agama di dunia yang membenarkan pengikutnya melakukan kekerasan.

Kasus kekerasan atas nama agama yang kerap terjadi di Tanah Air, seperti tindakan terorisme adalah salah satu contoh pemahaman terhadap agama yang sepotong-sepotong. Sehingga nama baik agama cendrung menjadi korban.

“Islam tidak pernah mengajarkan seperti itu. Permasalahannya adalah legalisasi ayat dan penafsiran serampangan untuk melegitimasi tindakan kekerasan,” kata pendiri NII Crisis Center,  Sukanto pada Lazuardi Birru.

Jadi, menurut mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) ini, sesungguhnya bukan teroris yang mengikuti Alquran melainkan Alquran yang “dipaksa” mengikuti hasrat mereka. Mereka melakukan pembunuhan dengan dalih ayat tertentu.

Menurut dia, memang ada ayat-ayat dan Hadis tentang pembunuhan, namun itu harus dilihat untuk siapa dan kapan waktunya. “Tidak bisa ayat itu dimaknai secara literal bahwa orang kafir ya harus dibunuh. Tafsir soal ayat itu terus menjadi perdebatan di internal NII maupun Jamaah Islamiyah,” demikian Sukanto menjelaskan.

“Jika memang orang Islam disuruh membunuh semua orang kafir, nyatanya Nabi Muhammad tidak membunuh semua orang yang menjadi musuhnya,” imbuhnya.

Intoleransi Bertransformasi Menjadi Terorisme


Terbongkarnya rencana kelompok Harakah Sunni Untuk Masyarakat Indonesia (HASMI) untuk mengebom beberapa target mengukuhkan asumsi bahwa intoleransi rentan berkembang menjadi terorisme. Pasalnya, HASMI tidak pernah terlibat dalam aksi-aksi teror yang berlangsung di Indonesia sebelumnya.

Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, mengatakan, transformasi intoleransi menjadi terorisme itu akibat kelompok garis keras merasa mendapat angin, karena pemerintah gagal menumpas kelompok radikal yang menyasar kaum minoritas. “Terdapat eskalasi dalam transformasi dari intoleransi menjadi terorisme,” kata Noor Huda.

Jauh sebelumnya, hasil penelitian SETARA Institute tentang transformasi organisasi Islam radikal di Jawa Tengah dan Yogyakarta menunjukkan, kelompok radikal yang berwatak intoleran telah dijadikan media bagi kelompok jihadis untuk meradikalisasi dan mereproduksi individu-individu yang tergabung dalam kelompok radikal untuk bertransformasi menjadi teroris.

Menurut Hendardi, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, pada dasawarsa 2000-an, aktor atau dalang terorisme di Indonesia adalah produk pendidikan luar negeri (Timur Tengah). Tetapi aksi terorisme sepanjang 2011, dari teror Bom Buku, Bom Cirebon, dan Bom Solo adalah hasil dari proses recovery kelompok teroris dengan memanfaatkan kelompok radikal.

Lebih lanjut dalam hemat ahli hukum yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan hukum secara formal ini, pembiaran negara terhadap beberapa praktik intoleransi oleh kelompok masyarakat tertentu di Indonesia menjadi salah satu akar tumbuh suburnya praktik terorisme.

”Ketika tidak ada penghukuman terhadap aksi-aksi radikalnya, berarti tidak ada efek jera. Maka pelaku ingin melakukan hal yang sama atau bahkan lebih dari itu karena merasa tidak dihukum,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kelompok HASMI menargetkan empat lokasi sebagai aksi teror yaitu Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Plaza 89 di mana ada Kantor Freeport di sana, dan Mako Brimob di Jalan Srondol, Jawa Tengah.

Terbukti, Radikalisme Mengintai Kampus


Pimpinan Universitas Jember (UNEJ) mengakui terduga teroris bernama Miko Yosiko yang ditangkap tim Densus 88 di Bogor pernah kuliah di kampus itu.

“Memang benar Miko adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ angkatan 1998. Namun, dia tidak melanjutkan kuliahnya hingga selesai,” kata Kepala Humas dan Protokol Unej Rokhani seperti dilansir Antara.

Anggota tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penggerebekan sebuah rumah kos dan mengamankan dua orang yang diduga teroris di Jalan Raya Ciapus, Kampung Cikaret RT 1/RW 2, Kelurahan Cikaret, Kota Bogor, Sabtu (27/10).

Kedua orang yang diamankan terdiri seorang laki-laki yang diketahui bernama Miko Yosiko dan seorang perempuan yang mengenakan cadar bernama Rubiah yang diketahui adalah istri Miko.

Menurut Rokhani, Miko sering mengajukan cuti dan tidak aktif kuliah beberapa kali selama mengenyam pendidikan di UNEJ sejak tahun 1999 hingga 2004, kemudian mahasiswa itu dinyatakan keluar dari FTP UNEJ pada 2005.

Pihak UNEJ, lanjut dia, menyayangkan keterlibatan Miko dalam kegiatan terorisme. “Kami tidak tahu aktivitas Miko ikut organisasi apa di luar kuliah karena kami sulit memantau aktivitas atau kegiatan mahasiswa di luar jadwal kuliah,” paparnya.

Selain Miko, terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 di Madiun yakni Agus Anton Figian juga alumni UNEJ dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang lulus pada 2004.

Jauh sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap radikalisme dan terorisme terutama pada perguruan tinggi.

“Radikalisme sudah masuk ke kampus-kampus, bukan hanya perguruan tinggi swasta, namun juga sudah masuk ke perguruan tinggi yang cukup favorit. Yang lebih bahaya lagi, faham tersebut bukan hanya masuk pada mahasiswa fakultas sosial, namun juga di fakultas eksakta dan saint,” katanya, awal April tahun ini.

Ia mengatakan, pascaruntuhnya orde baru tahun 1998, sebagian masyarakat menganggap bahwa era sekarang adalah kebebasan. Bahkan dalam beberapa aspek, kebebasan tersebut menjadi tidak terkontrol. Dalam kondisi melemahnya kontrol pemerintah itu, faham-faham radikal berkembang dengan bebas, bahkan juga meluas di perguruan tinggi yang sebagian besar mengatasnamakan agama.

Untuk itu, lanjut dia, peran dosen dalam memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama dan penerapannya kepada mahasiswa sangat strategis.