Di dunia ini tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Kalau pun ada yang melakukan kekerasan mengatasnamakan agama, itu karena disebabkan pemahaman yang tidak komprehensif dalam memahami ajaran agama yang dianutnya.
Misalnya Islam mengajarkan konsep rahmatan lil alamin, Katolik dan Protestan mengajarkan cinta kasih, Buddha mengajarkan ahimsa, Hindu mengajarkan moksa. Dalam konteks ini, tak ada satu pun agama di dunia yang membenarkan pengikutnya melakukan kekerasan.
Kasus kekerasan atas nama agama yang kerap terjadi di Tanah Air, seperti tindakan terorisme adalah salah satu contoh pemahaman terhadap agama yang sepotong-sepotong. Sehingga nama baik agama cendrung menjadi korban.
“Islam tidak pernah mengajarkan seperti itu. Permasalahannya adalah legalisasi ayat dan penafsiran serampangan untuk melegitimasi tindakan kekerasan,” kata pendiri NII Crisis Center, Sukanto pada Lazuardi Birru.
Jadi, menurut mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) ini, sesungguhnya bukan teroris yang mengikuti Alquran melainkan Alquran yang “dipaksa” mengikuti hasrat mereka. Mereka melakukan pembunuhan dengan dalih ayat tertentu.
Menurut dia, memang ada ayat-ayat dan Hadis tentang pembunuhan, namun itu harus dilihat untuk siapa dan kapan waktunya. “Tidak bisa ayat itu dimaknai secara literal bahwa orang kafir ya harus dibunuh. Tafsir soal ayat itu terus menjadi perdebatan di internal NII maupun Jamaah Islamiyah,” demikian Sukanto menjelaskan.
“Jika memang orang Islam disuruh membunuh semua orang kafir, nyatanya Nabi Muhammad tidak membunuh semua orang yang menjadi musuhnya,” imbuhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar