KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Kamis, 27 Desember 2012

Istiqlal dan Katedral, Simbol Kerukunan Antarumat Beragama di Jakarta untuk Indonesia


Siapa di negeri ini yang tak mengenal Jakarta? Ibukota Indonesia ini seakan menjadi tanah harapan untuk merubah garis kehidupan bagi sebagian besar orang di berbagai wilayah dan kepulauan. Berduyun-duyun orang pergi ke Jakarta berharap mendapat pekerjaan atau bertemu dengan kehidupan ekonomi yang lebih mapan.

Namun Jakarta bukan hanya itu. Ibukota Indonesia ini bukanlah sekedar kental dengan aura ekonomi yang berimplikasi pada ledakan penduduk dan macet di jalan-jalan. Ada hal menarik yang bisa disingkap dari Jakarta terutama adalah aspek toleransi dan kerukunan hidup antar-pemeluk agama.

Representasi toleransi dan kerukunan hidup antar-pemeluk agama di Jakarta dapat ditilik dari letak keberadaan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral yang berlokasi di Jakarta Pusat.

Masjid Raya Istiqlal yang didirikan pada zaman Presiden Soekarno berdampingan dengan Gereja Katedral. Pada saat umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri, halaman parkir di Gereja Katedral sering kali dijadikan tempat parkir umat muslim yang ingin melakukan salat hari raya di Masjid Istiqlal.

“Kadang kalau salat Idul Fitri atau Idul Adha parkiran penuh, ya di gereja (Katedral) parkirnya,” jelas salah seorang tukang parkir di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (25/12).

Begitu pula sebaliknya, hari ini halaman parkir Masjid Istiqlal digunakan oleh kaum nasrani yang ingin melakukan ibadah di Gereja Katedral.

“Kalau sekarang kan parkir gereja dipakai buat Natal, jadi parkirnya di sini (Istiqlal),” kata dia.

Hal itu merupakan salah satu contoh dari keharmonisan hidup antar-umat beragama di Tanah Air. Semoga keharmonisan dan toleransi antar-umat beragama di Tanah Air semakin terjaga ke depannya tanpa ada gangguan yang dapat merugikan keutuhan bangsa.

Menjaga Kerukunan

Dok Solopos

Perayaan Natal tahun ini bisa dikatakan berjalan secara lancar, aman, damai, dan tentram. Hampir tidak ada masalah apa pun terkait dengan pelaksaan Hari Raya umat Kristiani ini. Dari pelbagai macam belahan negeri dilaporkan umat Kristiani menjalankan semua prosesi Natal secara tenang dan sempurna. Termasuk di wilayah-wilayah yang belakangan dilanda riak-riak konflik seperti Poso dan Papua.

Semua ini tentu tidak terlepas dari peran dan kerjasama banyak pihak. Aparat keamanan, contohnya, sudah pasti berada di barisan terdepan dalam pengamanan hari-hari besar keagamaan seperti Hari Raya Natal ini. Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada jajaran aparat keamanan yang terus menjalankan tugas mulia sebagai abdi negara dan masyarakat.

Apresiasi yang tak kalah tinggi sejatinya juga diberikan kepada masyarakat luas yang proaktif menjaga keamanan di lingkungan masing-masing. Hingga mereka dapat menjalankan semua aktivitasnya secara lancar tanpa gangguan apa pun.

Dalam konteks perayaan Natal tahun ini, peran masyarakat dalam menjaga keamanan harus mendapatkan perhatian dan apresiasi khusus. Mengingat tak sedikit dari mereka yang bahkan iktu serta mengamankan tempat-tempat peribadatan umat Kristiani. Termasuk dari kalangan umat non-Kristen.

Sebagai negara majemuk, Indonesia sangat membutuhkan adanya kesadaran dan solidaritas lintas iman seperti di atas. Sebuah kesadaran yang turut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh saudara sebangsanya. Sebuah kesadaran yang turut bertanggungjawab dalam rangka membentuk kehidupan yang ramah, saling memahami dan saling menghormati.

Hal ini sangat penting diperhatikan untuk menjaga kerukunan yang ada dan tercipta di tengah-tengah masyarakat. Hingga perbedaan-perbedaan ataupun masalah-masalah yang ada tidak menimbulkan konflik sosial. Khususnya masalah terkait dengan perbedaan yang bersifat sosial dan keagamaan.

Harapannya adalah ikhtiar bersama menjaga keamanan dan kerukunan ini terus dipertahankan di hari-hari besar keagamaan lainnya, tanpa pandang bulu apa pun agamanya. Bahkan ikhtiar ini juga penting dilakukan pada hari-hari biasa. Hingga persaudaraan dan keakraban bisa terbangun secara kokoh dalam kehidupan masyarakat.

Dalam konteks negara majemuk seperti Indonesia, ikhtiar menjaga kerukunan bersama ini teramat penting untuk dilakukan. Karena bila tidak, maka yang terjadi adalah konflik sosial, kecurigaan, atau bahkan konflik sosial yang tak jarang mencabik-cabaik rasa persaudaraan bahkan memakan korban jiwa.

Mari kita jaga dan pertahankan kerukunan dalam keadaan apa pun. Hingga keindoneaan tetap berdiri tegak di dalam diri kita semua. Amin.

Senin, 17 Desember 2012

Polisi Filipina menembak mati seorang tersangka teroris asal Malaysia

Ilustrasi

Polisi Filipina menembak mati seorang tersangka teroris asal Malaysia yang diduga berencana melakukan serangan bom di wilayah selatan Filipina.

Kepala Kepolisian Davao City, Ronald de la Rosa, mengatakan, tersangka teroris yang diidentifikasi sebagai Mohd Noor Fikrie Bin Abud Kahar ditembak mati oleh polisi pada Jumat (14/12/2012) malam dalam baku tembak di dalam sebuah hotel tempat pria Malaysia itu menginap bersama istrinya.

De la Rosa mengatakan saat pasangan itu meninggalkan hotel tersebut, polisi berusaha menangkap Noor. Namun, pria itu berhasil melarikan diri dan mengancam akan meledakan bom yang disimpan di dalam tas yang dibawa istrinya.

Noor kemudian merebut tas itu dari istrinya dan ditembak saat berusaha melarikan diri.

Sumber: Media Indonesia

Menag: Organisasi Islam Harus Bangun Umat


Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan organisasi Islam harus ikut berperan serta dalam membangun umat melalui bidangnya seperti pendidikan, sosial, keagamaan, sehingga tidak saling berebut pengaruh, tapi saling mendukung dan melengkapi satu sama lain, dalam membangun kualitas sumber daya manusia.

“Mari kita hilangkan kesan yang selama ini terbentuk bahwa sesama organisasi Islam telah terbiasa sama-sama bekerja dari pada bekerjasama,” kata Menag pada peringatan Milad 100 tahun Jam’iyah Mahmudiyah Tanjungpura di Tanjungpura Kabupaten Langkat Sumatera Utara, Sabtu (15/12/2012).

Disamping memperkuat internal organisasi, Menag juga mengajak ormas Islam termasuk Jam’iyah Mahmudiyah untuk bersama-sama merapatkan shaf perjuangan untuk mengatasi persoalan keumatan yang semakin kompleks melalui jalur lintas organisasi.

Menurut dia keberadaan ormas keagamaan sebagai simpul gerakan umat agar lebih aktif dan produktif memberikan pencerahan dan pencerdasan pemahaman keagamaan serta memperkuat kehidupan umat dari sisi pendidikan dan sosial sesuai dengan misi organisasi masing-masing.

“Sudah saatnya visi keumatan dan kebangsaan harusnya dikedepankan dan secara jelas diperankan dengan baik. Kita perlu menghindari kejumudan pemikiran serta terjebak pada amal pragtisme yang muncul kepermukaan,” ujarnya.

“Sudah saatnya pengurus organisasi Islam melakukan langkah strategis dalam merespon persoalan keagamaan khususnya pendidikan yang muncul saat ini denga tetap menjaga independensi organisasi,” imbuhnya.

Menurut Suryadharma sebagai bagian dari komponen bangsa ormas Islam memiliki peluang yang besar untuk memainkan peranan yang signifikan ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini. Saat ini dan kedepan pembinaan umat harus lebih dioptimalkan khususnya melalui ormas Islam yang memiliki peran dalam pendidikan dan pemberdayaan umat.

“Disamping itu ormas Islam dapat berperan aktif dalam menciptakan dan memelihara kondisi sosial yang aman, damai, penuh kasih sayang dan persaudaraan,” katanya.

Sumber: Republika

Redam Radikalisme Bisa Dimulai dari Ikhtiar Berbahasa



Laku berbahasa sejatinya bukan sekedar tentang menghubungkan atau mengkomunikasikan sesuatu. Bahasa bisa dipahami lebih luas dari itu. Melalui bahasa-lah manusia bertemu dengan ihwal yang ada. Bahkan dengan berbahasa manusia bertemu dunia, menciptanya sekaligus juga terdeterminasi olehnya.

Pada level keseharian dari berbahasa inilah seseorang bisa melihat tipikal seperti apa orang tertentu. Jika dikaitkan dengan radikalisme agama misalnya, akan tampak bahwa radikalis memiliki kadar pergumulan dengan kosa kata “panas” yang lebih tinggi. Bahasa-bahasa sesat, halal darahnya dan lain sebagainya bisa dipastikan lebih sering beredar dalam kesehariannya.

Islam sejatinya agama cinta kasih. Dalam laku berbahasa keseharian sangat tampak hal itu. Misalnya ketika seorang muslim akan memulai sesuatu dianjurkan membaca basmallah, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Artinya setiap hari setiap muslim diingatkan akan pentingnya cinta kasih. Maka menurut Direktur Aman, Rubi Khalifah, ironis jika seorang muslim menjadi radikal. Dengan kata lain jika muslim menjadi radikal maka bisa dipastikan ada yang tidak sinkron dalam cara ber-Islamnya.

Ruby juga menekankan arti penting dari produksi bahasa-bahasa yang menyejukkan dan menenangkan secara lebih sering. Dengan upaya ini perdamaian atau kondisi non-kekerasan akan terbuka dan terkondisikan.

“Bahasa-bahasa yang menenangkan, menyejukkan misalnya cintai sesamamu harus lebih sering diproduksi. Daripada mengulang-ulang bahasa kekerasan. Sepertinya kita gengsi bilang i love you. Padahal sebagai orang beragama kita harus mencintai dan mengasihi orang lain” Kata Rubi Khalifah.

Kamis, 13 Desember 2012

Intoleran Belum Tentu Teroris, Namun Harus Diwaspadai


Banyak hasil penelitian dan survei yang mengatakan bahwa intoleransi merupakan pintu masuk seseorang untuk menjadi teroris. Namun hal ini dibantah Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq. Menurut dia, intoleransi dan terorisme merupakan dua hal yang berbeda.

“Meskipun antara intoleransi dan terorisme memiliki titik temu, namun kedua hal itu bebada,” kata lulusan CRCS UGM ini pada Lazuardi Birru, di Jakarta.

Menurut Fajar, meskipun keduanya memiliki korelasi, namun dari sisi pengkondisian berbeda. Karena itu, kata dia, harus hati-hati membedakan antara intoleransi dan terorisme. Fajar mengatakan, tingkat tingginya intoleransi tidak berkonsekuensi atau berelasi dengan tingginya terorisme.

“Bahwa orang-orang yang terlibat terorisme itu intoleran, itu iya. Tapi belum tentu orang yang sikapnya intoleran, dia teroris,” demikian Fajar menjelaskan.

Lebih jauh Fajar mengatakan, ada beberapa fase orang yang intoleran bisa menjadi teroris. Menurut dia, orang menjadi teroris tidak hanya persoalan ideologi semata, tapi banyak faktor yang mempengaruhi. “Orang yang melakukan kekerasan pun tidak bisa disebut teroris. Karena itu kejahatan biasa,” ungkapnya.

Jadi, kata Fajar, antara sikap intoleran yang melakukan tindakan kekerasan atas nama agama dan terorisme itu adalah dua hal yang berbeda. “Terorisme itu orang yang tidak bisa menerima perbedaan, dan menebar teror dengan cara pengeboman. Namun orang yang punya sifat intoleran itu belum tentu melakukan teror dengan cara pengeboman,” pungkasnya.

HAM dalam Persoalan Terorisme


Di tengah prestasi dan keberhasilan menjulang yang telah dicapai dalam menghadapi jaringan terorisme, pihak kepolisian Republik Indonesia (Polri) kerap mendapatkan kritikan dari sejumlah pihak. Baik dari sebagian lembaga swadaya masyarakat (LSM), ormas atau bahkan keluarga korban operasi antiteror.

Di antara kritik paling tajam adalah aparat keamanan dinilai kurang memerhatikan aspek penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam operasi yang dilakukan. Hal ini terlihat jelas dari adanya korban jiwa di saat operasi berlangsung (termasuk dari pihak kepolisian). Bahkan tak jarang aparat kemanan juga melakukan penangkapan terhadap orang yang salah.

Tentu ini merupakan masukan yang berharga bagi aparat kepolisian untuk terus melakukan perbaikan dalam menghadapi masalah-masalah kriminal di republik ini, khususnya kriminal paling kejam seperti terorisme. Asas praduga tak bersalah harus senantiasa dijunjung tinggi secara bersama-sama, khususnya oleh para penegak hukum.

Oleh karenanya, setiap operasi antiterorisme sejatinya dilakukan tanpa memakan korban jiwa. Karena jiwa yang menjadi korban dalam operasi seperti ini tak lepas dari dua; yaitu aparat keamanan ataupun anggota jaringan teroris. Dan semuanya bisa menimbulkan kerugian bagi aparat kepolisian secara khusus dan kehidupan berbangsa secara umum.

Dalam konteks anggota keamanan menjadi korban jiwa, kerugian yang ada tentu tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Tapi bagaimana dengan kerugian yang ditimbulkan akibat ada anggota teroris yang tertembak-mati di lapangan? Kerugiannya adalah karena anggota terorisme sesungguhnya “aset” berharga untuk mengungkap jaringan terorisme secara lebih luas. Hingga masyarakat secara umum dan kepolisian secara khusus bisa mendapatkan informasi berharga dari seorang anggota teroris yang tertangkap.

Namun demikian, masyarakat luas (khususnya dari kalangan LSM) sejatinya juga memerhatikan bahwa situasi di lapangan kerap tidak sesuai dengan situasi normal. Terutama dalam menjalankan operasi antijaringan terorisme yang hampir identik dengan senjata dan bom. Bahkan manusia pun bisa dijadikan bom oleh jaringan penuh darah ini.

Dalam kondisi seperti ini, hampir tak ada logika yang tersisa kecuali logika menyerang atau diserang, menembak atau ditembak, dan seterusnya. Apalagi teroris kerap meyakini bahwa aparat harus diperangi sebagai keamanan yang melindungi pemerintahan thoghut seperti kerap disampaikan oleh kelompok teroris. Inilah situasi di lapangan yang harus diperhatikan secara bersama-sama dalam penanganan terorisme.

Dan yang tak kalah penting untuk diperhatikan bersama adalah, jaringan terorisme selama ini telah banyak memakan korban jiwa, termasuk dari kalangan masyarakat luas yang tidak bersalah. Begitu juga, kelompok teroris sejauh ini kerap bersikap anti-HAM.

Dengan demikian, sejatinya masyarakat luas terus mendukung kinerja aparat keamanan untuk terus memberantas jaringan terorisme di Indonesia. Sebagaimana aparat keamanan sejatinya terus meningkatkan kemampuannya dalam melakukan upaya pemberantasan terorisme. Hingga tidak ada satu orang pun yang kembali menjadi aksi kebiadaban kelompok bersenjata ini. Baik dari kalangan aparat, kelompok teroris dan terutama lagi dari kalangan masyarakat luas.

Pancasila adalah Jawaban Keberagaman dan Perbedaan


Indonesia dibangun di atas keberagaman dan perbedaan. Karena itu, sudah sepatutnya merawat keberagaman tersebut agar terhindar dari perpecahan yang diakibatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, Pancasila dinilai sebagai jawaban atas keberagaman dan perbedaan yang ada dalam bangsa Indonesia. Hal tersebut diungkapkan sosiolog dari UGM Yogyakarta, Janianton Damanik. Menurut dia, Pancasila adalah jawaban karena nilai-nilai yang tersurat dan tersirat di dalamnya tetap relevan untuk Indonesia saat ini dan masa yang akan datang.

Sayangnya, lanjut Janianton, dalam hal penghayatan dan pengamalan mengalami penurunan tingkat pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila. “Penurunan ini selain dikarenakan tidak adanya materi Pancasila sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, juga disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif,” ungkapnya.

Menurut dia, keluarga yang menjadi lingkungan utama yang memberikan nilai dasar dalam pembangunan. “Di sinilah awal mula pendidikan nilai-nilai sikap dan tingkah laku yang baik, pendidikan budi pekerti, musyawarah, perkataan dan perbuatan baik yang mendasari dalam penanaman dasar jati diri anak,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Strategi Nasional Pembudayaan Pancasila dari Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Daud Tanudirja menjelaskan PSP UGM bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) membuat iklan layanan masyarakat tentang Pancasila di media televisi.

Iklan ini akan ditayangkan setiap Selasa pukul 20.30 WIB, melalui program acara Bicara Konstitusi di sebuah stasiun televisi. Iklan layanan bertema Pancasila ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan pengenalan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda. Televisi dinilai sebagai media pembudayaan Pancasila yang berpengaruh kuat. Selain berperan penting dalam pembudayaan nilai-nilai Pancasila. “Materi iklan, kita dapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan selama dua tahun ini,” kata dia.

Pemilihan iklan di media televisi ini diharapkan mampu menambah pemahaman generasi muda tentang Pancasila. Pasalnya, pemberian materi dan pembudayaan pembelajaran melalui pendidikan Pancasila di sekolah dipandang relatif singkat. Ini mengakibatkan pemahaman dan penghayatan tentang nilai-nilai Pancasila menjadi sederhana.

Waspada Terhadap Buku-Buku Teror di Sejumlah Masjid Surabaya


Buku-buku keagamaan yang melegitimasi tindakan terorisme ditemukan di sejumlah masjid di wilayah Surabaya utara. Hal itu terungkap dalam dialog antara Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dengan masyarakat pada Kamis (13/12/2012).

Hasan, salah satu tokoh agama di Kecamatan Asem Rowo Surabaya, mengaku mendapati beberapa buku-buku tipis yang menghalalkan aksi  terorisme di rak salah satu masjid di wilayahnya. Ia tidak mengetahui siapa yang meletakkan.

“Adanya sekitar dua bulan lalu, isinya  membenaran tindakan teror, termasuk peledakan tempat ibadah dan penyerangan pos polisi,” ujar Hasan seperti dilansir VIVAnews.com.

Dalam buku itu, lanjut Hasan, juga ditampilkan cuplikan ayat yang dikutip secara acak sebagai justifikasi tindakan pelaku teror.

Sementara itu, Kapolres Tanjung Perak, AKBP Anom Wibowo, membenarkan peredaran buku-buku yang mendukung tindakan terorisme di sejumlah masjid. “Yang jelas, intelijen kami masih mendalami buku-buku yang beredar tersebut,” kata AKBP Anom Wibowo.

Dia menyebutkan, dari laporan intelijen, penyebaran buku-buku itu memang dilakukan sejumlah orang di beberapa masjid.  Mereka meletakkan buku-buku tersebut begitu saja. “Ada juga yang minta izin dulu ke takmir masjid untuk dibagikan kepada jamaah,” imbuhnya.

Jauh sebelum fakta ini terungkap, pengamat terorisme Noor Huda Ismail sudah mengingatkan akan banyaknya peredaran fatwa kekerasan melalui pelbagai media, cetak maupun elektronik.

“Aksi teror memang sudah menyurut tetapi kelompok-kelompok kecil yang menyetujui bahwa kekerasan itu dibolehkan oleh agama, itu masih banyak,” ujar Huda kepada Lazuardi Birru.

Provokasi kekerasan atas nama jihad, dalam hemat alumni Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo ini, harus diatur oleh pemerintah. “Bagi saya, jika ada ada kelompok atau individu yang bilang ‘kamu boleh menyerang’ maka itu bisa ditangkap. Ada unsur incitement to violence di situ,” tandasnya.

Bahwa menyebarkan pikiran dan pendapat melalui publikasi tulisan itu dilindungi UUD 1945 sebagai hak kebebasan berekspresi, Huda sangat mendukung itu.

“Memang tidak ada salahnya orang bilang bahwa Negara ini bobrok lantaran tidak menjalankan syariat Islam. Namun jika untuk menerapkan syariat Islam lantas mereka memerbolehkan untuk menyerang ini dan itu, pendapat itu tidak bisa dibenarkan. Pemerintah harus bertindak,” tandasnya.

Bertaubat dari Radikalisme dan Terorisme


Dilihat dari perspektif hukum Islam dan kemanusiaan, terorisme dan radikalisme bisa dimasukkan dalam kategori perbuatan dosa besar. Hal ini tak lain karena terorisme dan radikalisme hampir identik dengan aksi-aksi kekerasan yang memakan banyak korban jiwa. Bahkan jiwa-jiwa yang tak bersalah sekalipun.

Dalam Al-Quran ada sebuah ayat yang menegaskan bahwa membunuh satu jiwa sama dengan membunuh seluruh jiwa. Pun demikian sebaliknya; menghidupkan satu jiwa sama dengan menghidupkan seluruh jiwa (Al-Maidah: 32). Ayat di atas mencerminkan pandangan Islam yang sangat tegas dalam menolak dan mengharamkan aksi terorisme dan radikalisme.

Lebih dari pada itu, karena terorisme tak lain adalah pemberontakan dan perlawanan terhadap negara. Dalam Islam, masyarakat diharuskan tunduk dan taat kepada negara. Sebagaimana umat Islam juga diwajibkan tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesuai ayat Al-Quran (An-Nisa’: 59) yang berbunyi athi’ullah wa athi’u ar-rasula waulil amri minkum (taatlah kalian semua kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul dan kepada negara).

Dalam konteks seperti ini, pertaubatan dari jalan terorisme dan radikalisme merupakan perbuatan yang sangat agung dan dianjurkan oleh Islam. Disebut agung karena pertaubatan dari jalan radikalisme dan terorisme berarti kembali kepada jalan perdamaian dan kemanusiaan yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Disebut dianjurkan dalam Islam, karena Allah bersifat Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Sebesar apa pun dosa yang dilakukan oleh seseorang, pintu taubat senantiasa dibuka oleh Allah SWT. Maka tak pernah ada kata terlambat bagi sebuah pertaubatan, khususnya pertaubatan dari radikalisme dan terorisme.

Apa yang dialami oleh Jamaah Islamiyah (JI) Mesir pada tahun 1999 sejatinya menjadi teladan baik bagi semua pihak, khususnya kelompok-kelompok radikal, untuk kembali ke jalan perdamaian dan kemanusiaan. Melalui para tokoh utamanya seperti Syeikh Najih Ibrahim, Syeikh Ali Syarif dan yang lainnya, JI Mesir mendeklarasikan pertaubatan dari jalan kekerasan secara massal. Para tokoh utama JI Mesir menginstruksikan agar segenap anggotanya meinggalkan cara-cara kekerasan dalam berakwah (Suara Pembaruan, Deradikaisasi Berjamaah: 06/11).

Deklarasi pertaubatan JI Mesir sempat mendapatkan tanggapan miring dari banyak pihak, baik dari kalangan internal JI Mesir sendiri ataupun dari masyarakat Mesir secara luas. Pada umumnya tanggapan miring yang ada bermuara pada motif pertaubatan tersebut yang diduga karena unsur materi dan hal-hal keduniaan secara umum.

Melalui sejumlah buku yang dikarang untuk menjelaskan landasan normatif pertaubatan di atas, para ulama JI Mesir membantah dengan keras sejumlah tuduhan miring yang ada. Sebaliknya, para ulama JI Mesir menegaskan bahwa pertaubatan yang ada semata-mata karena refleksi dan penyesalan yang sangat mendalam terkait dengan dakwah melalui cara-cara kekerasan. Khususnya dengan menggunakan pertimbangan dampak baik atau buruk (mafsadah dan mashlahah) yang sangat diperhatikan dalam tatanan hukum Islam.

Dalam sebuah buku berjudul Al-Mubadarah Liwaqfil ‘Unfi (Kerangka Penghentian Aksi Kekerasan), contohnya, disebutkan bahwa aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah kelompok radikal dalam berdakwah bertentangan dengan tujuan agama; yaitu mengajak dan membawa umat manusia ke jalan ilahi. Tapi cara-cara kekerasan justru membuat masyarakat takut dan berburuk sangka terhadap ajaran ilahi yang ada dalam Islam. Pun demikian, aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teroris kerap hanya menimbulkan kerusakan di mana-mana, termasuk di kalangan keluarga pelaku yang kemudian harus berhadapan dengan hukum yang berlaku di negara setempat.

Pada tahap tertentu, pertaubatan seperti terjdi di kalangan JI Mesir di atas juga terjadi di kalangan kaum radikal di Indonesia. Walaupun masih dalam bentuk yang sangat terbatas dan di kalangan yang sangat terbatas pula. Dan yang tak kalah penting, pertaubatan yang ada masih belum bersifat struktural.

Semua pihak sejatinya menyambut baik dan memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada pihak-pihak yang sudah melakukan pertaubatan dari jalan-jalan kekerasan. Pertaubatan ini merupakan perbuatan agung yang tak akan pernah mengenal kata terlamabat. Karena pertaubatan ini berarti menyemai kehidupan dan perdamaian. Dan Allah SWT pun senantiasa membuka pintu maaf-Nya bagi mereka yang mau bertaubat. Mari secara bersama-sama kita bertaubat dari radikalisme dan terorisme untuk kemudian kembali ke jalan perdamaian dan kemanusiaan.

Senin, 19 November 2012

UGM dan MK Kenalkan Pancasila pada Generasi Muda Lewat Iklan


Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi membuat Iklan Layanan Masyarakat tentang Pancasila yang ditayangkan di stasiun televisi nasional. Iklan ini membidik sasaran pengenalan Pancasila kepada kawula muda. “Tayang setiap selasa malam,” kata Ketua Tim Peneliti Strategi Nasional Pembudayaan Pancasila, PSP UGM, Dr. Daud Tanudirja, dalam siaran persnya akhir pekan ini.

Menurut Daud, iklan layanan yang bertema pancasila ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan pengenalan nilai-nilai pancasila di kalangan generasi muda. Televisi dianggap sebagai media pembudayaan Pancasila yang memiliki pengaruh paling kuat. “Materi iklan kita dapatkan dari penelitian yang dilakukan selama dua tahun,” kata Daud.

Menurut Daud pemberian materi dan pembudayaan pembelajaran melalui pendidikan pancasila di sekolah yang relatif singkat mengakibatkan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila menjadi sederhana. Karena itu iklan layanan masyarakat akan bisa memberi penjelasan lebih baik. “Kalau hanya sekolah mereka tidak mampu menjiwai nilai-nilai Pancasila dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Selain kurangnya jam pelajaran di sekolah, kata Daud ruang-ruang yang menjadi sarana belajar bagi generasi muda untuk mendalami pancasila juga masih minim. Dia menilai kesulitan dalam mencerna nilai-nilai Pancasila inilah yang harus dijembatani oleh pihak-pihak terkait, khususnya pemerintah dan media massa seperti televisi, koran, radio, dan jejaring sosial.

Pengajar Sosiatri UGM Prof. Dr. Janianton Damanik, M.Si mengatakan Pancasila adalah jawaban atas keberagaman dan perbedaan yang ada dalam bangsa Indonesia. Sayangnya, dalam hal penghayatan dan pengamalan mengalami penurunan tingkat pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila. “Penurunan ini selain dikarenakan tidak adanya materi Pancasila sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri juga disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif,” katanya.

Sabtu, 17 November 2012

Teroris Masih Keluar Masuk Bali

Kapolda Bali Irjen (Pol) Budi Gunawan

Kasus terorisme yang terjadi di Poso dan daerah lainnya akhir-akhir ini, menjadi perhatian khusus Polda Bali. Yang saat ini sangat menjadi perhatian adalah pintu masuk Bali dari berbagai arah, baik Pelabuhan Padang Bai, Gilimanuk maupun pelabuhan Celukan Bawang Singaraja.

 “Ada beberapa pintu masuk Bali, di Gilimanuk, Padang Bai, jalur-jalur tradisional satuan-satuan kita yang berperan aktif melaksanakan mengawasan, pengetatan, dan juga alat-alat IT juga kita perhatikan. Selalu kita up-date itu,” kata Kapolda Bali Irjen (Pol) Budi Gunawan seperti dilansir laman jaringnews, Rabu (14/11).

 Kapolda juga menyampaikan, semua data tentang teroris sudah dikantongi Polda Bali. Ini untuk mempermudah pendataan terhadap semua orang yang masuk ke Pulau Dewata tersebut. Bali, lanjut Budi, sudah mempunyai peralatan pendeteksi yang mampu untuk mengantisipasi, khususnya di jalur masuk wilayah Bali.

 “Semua data, perkembangan soal teroris selalu kita ikuti. Semua ada muaranya, ada target, sampai antisipasi terakhir, target sudah bisa kita amankan,” tambahnya.

Dia menambahkan, hingga kini masih ada orang yag diduga teroris keluar-masuk Bali. Akan tetapi masih dalam batas pengawasan Kepolisian daerah Bali. Jajaran Polda Bali terus meningkatkan kewaspadaan dan membatasi gerak-gerik teroris agar peristiwa teror bom tahun 2002 dan 2005 silam tidak terulang lagi.

Kapolda minta masyarakat tetap tenang dan mempercayakan pengamanan kepada personel Polda Bali yang tetap berusaha maksimal mencegah aksi teror.

“Ya keluar masuk teroris di Bali itu pasti ada, tapi masih dalam batas kemampuan pengawasan kita. Yakin dan percaya pada kita, kita jamin keamanan,” tukas Budi seperti dikutip laman Kompas.

KH Masdar: Inti Agama adalah Akhlak


Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi mengatakan, inti agama adalah akhlak, yang melampaui syariat.

Belakangan ini, ia melihat aspek akhlak mulai hilang dalam diri umat Islam dengan mengutamakan pendekatan syariah secara dangkal. Kebencian terhadap kelompok lain yang tidak mengikuti kelompok mereka menjadi akidah baru yang menurut definisi kebenaran mereka, sudah tidak sah keimanannya.

“Rasulullah sendiri pernah mengatakan, innama buitstu liutammima makaarimal akhlak atau ia diperintahkan untuk memperbaiki akhlak umat manusia,” kata Kiai Masdar.

Akhlak berintikan kejujuran dan berbuat baik kepada orang lain. Sayyidina Umar, dengan pendekatan akhlak, ketika menghukum seorang pencuri Onta, menggunakan perspektif akhlak. Para pencuri tidak dihukum karena setelah diusut, ia tidak dikasih makan oleh majikannya sehingga terpaksa mencuri. Ia lalu memutuskan majikannya berkewajiban mengganti onta yang telah diambil sebagai tanggung jawab atas kelalainnya memenuhi kewajiban.

Ia berpendapat, hukuman potong tangan, yang selalu dikampanyekan oleh pengikut Wahabi dan salafi, sangat formalistik.

Dijelaskannya, hukuman hudud atau potong tangan bagi para pencuri harus dilihat dalam konteks turunnya ayat tersebut. Dalam tradisi jahiliyah, hukuman atas sebuah kesalahan selalu lebih kejam dari tindakan yang dilakukan.

Sebelum turunnya ayat tentang khisas, terdapat sebuah peristiwa, yaitu dibunuhnya seorang anggota suku Yahudi oleh kelompok lain. Suku Yahudi tersebut menuntut tiga hal, pertama, yang terbunuh harus dihidupkan kembali, kalau tidak bisa, keluarga si pembunuh harus bisa memenuhi rumahnya dengan bintang gemintang di langit. Kalau tidak bisa, seluruh kampung pembunuh akan kami habisi. Inilah prinsip pembalasan mesti lebih kejam dari tindakan.

Lalu, turunlah sebuah ayat tentang khisas, untuk membatasi maksimal hukuman yang boleh dikenakan. “Ada batas maksimum hukuman yang boleh dikenakan, tapi kalau dihukum dibawahnya tetap boleh dan tetap Islami,” jelasnya.

Maka dari itu, dikenal hukum jinayat atau pidana Islam. Nyawa dibalas dengan nyawa, tetapi ada alternatif lain atau tidak harus dibunuh, melainkan diganti dengan onta atau denta lainnya, bahkan diberi pengampunan. Semuanya tetap dalam konteks ajaran Islam.

“Jangan dikira bahwa yang namanya hukum syar’i mesti maksimun. Kalau tidak menghukum mati, dianggap tidak Islami. Khisas setimpal maknanya sebagai hukuman maksimum. Kalau ganti rugi, lebih bertumpu pada kelapangdadaan, ini akhlak,” tegasnya.

Senin, 12 November 2012

Bali Democracy Forum Menjadi Barometer Keharmonisan Perdamaian Dunia


Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengharapkan bahwa Bali Democracy Forum yang diselenggarakan di Nusa Dua Bali, bisa menjadi barometer keharmonisan perdamaian dunia. Ahmadinejad mengatakan, untuk meraih masa depan yang lebih baik tidak ada cara selain partisipasi dari semua negara dalam tatanan global untuk menciptakan keharmonisan tersebut. Demikian ia katakan dalam jumpa pers Kamis, (8/11). Dalam kesempatan tersebut ia juga mengatakan bahwa dengan BDF, ada tujuan suci, yaitu membangun kemakmuran oleh pemerintah masing-masing peserta.

Pagi ini presiden Iran tersebut sudah diagendakan untuk bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pertemuan tersebut, kedua kepala negara akan melakukan pembicaraan yang terkait dengan kerjasama kedua negara. Pembicaraan dilakukan pada pukul 10.00 Waktu Indonesia Tengah.

Teroris Poso Lari ke Gunung Malino


Aparat polisi menduga para anggota kelompok teror Poso yang sebelumnya bersembunyi di kawasan Gunung Biru Tamanjeka telah melarikan diri menuju ke lokasi baru yaitu ke pegunungan Malino yang berada di wilayah kabupaten Morowali provinsi Sulawesi Tengah, Jumat (9/11/2012). Namun tidak menutup kemungkinan anggota kelompok itu berupaya melarikan di ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjend Pol Dewa Parsana dalam konferensi pers di Mapolres Poso kepada wartawan, Kamis (9/11/2012), mengatakan bahwa operasi penegakan hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian telah membuat para pelaku kekerasan dan teror yang sebelumnya disinyalir kuat berada di wilayah gunung Biru telah melarikan diri.

Dari informasi intelijen diduga anggota dari kelompok itu telah melarikan diri ke wilayah pegunungan Malino yang secara administratif  berada di daerah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kemungkinan pelarian anggota kelompok itu ke wilayah pegunungan Malino kini masih terus dikembangkan untuk kebutuhan pengejaran yang  kemungkinan besar akan dilakukan ke wilayah itu.

Polri juga tidak menutup kemungkinan bahwa selain ke arah pegunungan Malino di Morowali, anggota kelompok itu juga berupaya untuk melarikan diri ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Pihak kepolisian daerah Sulawesi Tengah telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian di kedua provinsi itu untuk memperketat pengamanan  di perbatasan untuk mengantisipasinya.

Kawasan gunung Biru Tamanjeka yang sebelumnya diduga kuat sebagai basis dari pergerakan kelompok pelaku aksi teror dan kekerasan oleh pihak kepolisian daerah Sulawesi Tengah diyakini telah steril karena dalam operasi penyisiran yang dilakukan melibatkan 2 SSK Brimob dan 2  SSK personel TNI, petugas tidak menemukan atau menangkap satupun pelaku.

Operasi penyisiran di gunung biru Tamanjeka secara efektif telah dihentikan pada Jumat 9 november 2012. Warga masyarakat setempat sudah diperbolehkan untuk kembali beraktivitas di kebun maupun di ladang.

Hari Pahlawan Momentun Kukuhkan Karakter Bangsa di Kalangan Pelajar


Belasan ribu pelajar SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK se-Kabupaten Madiun mengikuti apel akbar pendidikan karakter bangsa di Gedung Olahraga (GOR) Pangeran Timur, Caruban, Kabupaten Madiun, Sabtu malam, 10 November 2012. Acara ini sekaligus juga untuk memperingati hari pahlawan.

Apel akbar pendidikan karakter bangsa ini diprakarsai Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun. Belasan ribu siswa beserta guru ikut menyalakan lilin sebagai lambang semangat dan pengorbanan.

“Ini untuk memotivasi generasi bangsa ini. Generasi penerus harus siap mengisi pembangunan sesuai kemauan para pendahulu bangsa ini,” kata Bupati Madiun Muhtarom seusai apel akbar. Menurut dia, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai jasa pendahulunya.

Apel akbar pendidikan karakter bangsa ini dipimpin Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0803 Madiun Letnan Kolonel (Inf) I Wayan Sandi Susila. “Kegiatan seperti ini penting di tengah terjadinya disharmonisasi sosial di mana-mana,” katanya seusai apel.

Ia menambahkan, dengan menanamkan pendidikan karakter, maka generasi muda, khususnya, akan sadar dan memegang teguh karakter bangsa. “Sehingga kehidupan akan berjalan kondusif,” katanya.

Dalam apel akbar itu dilakukan penandatanganan ikrar dan penyalaan lilin sebanyak 14.762 buah yang akan diusulkan ke Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Jumlah lilin yang dinyalakan melebihi target 10 ribu buah.

Jumat, 02 November 2012

Mencegah Kampus dari Terorisme


Dalam dua pekan terakhir ini, kita semua dipertontonkan berbagai pemberitaan mengenai tindakan-tindakan beraroma aksi terorisme. Gelombang aksi tersebut, saat ini seakan-akan kembali muncul ke permukaan, menyeruak dan terjadi di pelbagai daerah di Indonesia, termasuk Solo.

Bila dicermati, aksi terorisme yang paling menonjol barangkali adalah teror yang mengatasnamakan agama tertentu, dan ini jelas sangat gegabah dan berbahaya. Namun, hal yang menarik adalah justru ketika mencermati fakta bahwa para tersangka pelaku tindak terorisme tersebut masih berusia relatif muda. Di antaranya adalah ketiga tersangka pelaku teror di Solo, yakni Farhan yang masih berusia 19 tahun dan Mukhsin berusia 19 tahun serta Bayu berusia 24 [belakangan diketahui memalsukan umur]. Farhan dan Mukhsin tewas ditembak saat pengerebekan. Sedangkan Bayu, ditangkap di Karanganyar.

Untuk itu, mengingat usia mereka yang masih berada pada kisaran belasan tahun. Sejatinya, mereka sedang mengalami usia transisi dan transformasi akal dari remaja menuju dewasa. Mereka akan berusaha mencari jati diri. Seperti halnya yang dialami para mahasiswa.

Ini barangkali menjadi keprihatinan kita. Akibat aksi terorisme ini, ancaman disintergasi bangsa kembali mengintai. Generasi muda saat ini, sedikit banyaknya telah terkontaminasi paham radikalisme-terorisme. Kampus yang sejatinya menjadi tempat pencarian jati diri mahasiswa menjadi lahan empuk bagi perkembangan embrio terorisme. Mahasiswa akan cukup rentan tergoda dengan godaan-godaan paham baru yang mengisi jiwa mereka, termasuk paham radikalisme-terorisme.

Sebelum lebih jauh, penulis terlebih dahulu ingin memberikan sebuah kutipan dari Hery Sucipto dalam buku hasil lokakaryanya yang berjudul Meredam Gelombang Radikalisme meyatakan bahwa “Aksi terorisme dan radikalisme terjadi di semua agama di dunia. Jadi, bukan hanya monopoli Islam seperti yang dituduhkan kalangan Barat, karena dalam agama selalu terdapat kelompok minoritas-militan dan ekstrem-radikal.” (Hery. 2004; 8)

Dari kutipan di atas, penulis ingin memberikan pemahaman bahwa fenomena radikalisme-terorisme ini mampu menghinggapi semua agama. Oleh karena itu, embrio radikalisme-terorisme tidak hanya akan berkembang pada kampus yang memiliki mahasiswa yang homogen dalam kepercayaan agama—dalam hal ini Islam—melainkan juga pada kampus yang memiliki mahasiswa yang plural dalam kepercayaan agama.

Yang wajib kita ketahui adalah bahwa tak ada satu agama pun yang memberikan legitimasi atas tindakan radikalisme-terorisme ini. Bahkan sepakat untuk mengutuk tindakan tersebut. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Pemahaman Parsial

Ajaran agama khususnya Islam, menuntut para pengikutnya untuk memahami agama secara menyeluruh, tidak parsial. Mendambakan agama yang rahmatan lil alamin membutuhkan pemahaman agama yang komprehensif dan tidak setengah-setengah. Hal ini dibenarkan pula oleh Hasyim Muzadi bahwa salah satu penyebab penting terjadinya aksi kekerasan dan terorisme disebabkan oleh pemahaman agama yang simplitis, tidak komprehensif.

Kenyataan ini seakan diafirmasi oleh fakta-fakta yang membuktikan bahwa terjadi kekeliruan tentang konsep jihad yang dianut para terorisme—seperti diungkapkan Amrozi cs.—makna Jihad yang disempitkan, seakan hanya bermakan Al Qital (membunuh atau perang). Padahal jihad yang besar justru terletak pada tataran melawan hawa nafsu.

Lebih jauh, pemahaman parsial ini akan membawa kepada sikap fanatik yang cenderung eksklusif. Seakan-akan ia mewakili agama dan agama diwakili ia. Luar dirinya adalah kafir dan jika kafir maka halal darahnya. Dasar inilah yang menjadi legitimasi tindakan terorisme.

Ideologi radikalisme-terorisme ini akan semakin subur, ketika kepentingan-kepentingan nonagama diagamakan, seperti kepentingan politik dan ekonomi. Sampai saat ini konflik Israel-Palestina adalah bukti nyata akan hal ini. Di mana negara adidaya (Amerika) tidak adil dalam menyelesaikan konflik politik di negara tersebut, justru menimbulkan beberapa perlawanan dengan bentuk terorisme yang diagamakan.

Tugas Universitas

Kurikulum pendidikan agama di setiap universitas tentunya berbeda-beda, namun hal ini tak mengurangi tanggung jawab universitas untuk mencegah para mahasiswa mendekati embrio radikalisme-terorisme. Proyek deradikalisasi BNPT yang menuai kontroversi—karena lebih mengarah kepada deislamisasi—seharusnya diberikan sentuhan inovasi, sehingga dapat diterima oleh semua kalangan.

Idealnya sebagai kaum intelektual, mahasiswa tidak asal menelan mentah-mentah paham baru yang dia terima, tetapi harus melewati proses telaah secara kritis dan objektif. Berbagai gerakan dalam kampus, hendaknya diberikan pengawasan agar tidak terjebak pada brain washing melalui pemahaman agama secara parsial, tentunya berakibat pada terciptanya aksi terorisme baru.

Terakhir, semua ajaran agama mengajarkan kedamaian, maka dari itu, tak perlu kekerasan dan teror dalam menyelesaikannya. Dialog dan musyawarah adalah solusi terbaik dalam menyelesaikan sebuah konflik, baik politik maupun agama. Seperti sikap Nabi Muhammad dalam perjanjian Hudaibiyah. Mungkin itu.

Mantan NII: Islam Tak Mengajarkan Kekerasan


Di dunia ini tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Kalau pun ada yang melakukan kekerasan mengatasnamakan agama, itu karena disebabkan pemahaman yang tidak komprehensif dalam memahami ajaran agama yang dianutnya.

Misalnya Islam mengajarkan konsep rahmatan lil alamin, Katolik dan Protestan mengajarkan cinta kasih, Buddha mengajarkan ahimsa, Hindu mengajarkan moksa. Dalam konteks ini, tak ada satu pun agama di dunia yang membenarkan pengikutnya melakukan kekerasan.

Kasus kekerasan atas nama agama yang kerap terjadi di Tanah Air, seperti tindakan terorisme adalah salah satu contoh pemahaman terhadap agama yang sepotong-sepotong. Sehingga nama baik agama cendrung menjadi korban.

“Islam tidak pernah mengajarkan seperti itu. Permasalahannya adalah legalisasi ayat dan penafsiran serampangan untuk melegitimasi tindakan kekerasan,” kata pendiri NII Crisis Center,  Sukanto pada Lazuardi Birru.

Jadi, menurut mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) ini, sesungguhnya bukan teroris yang mengikuti Alquran melainkan Alquran yang “dipaksa” mengikuti hasrat mereka. Mereka melakukan pembunuhan dengan dalih ayat tertentu.

Menurut dia, memang ada ayat-ayat dan Hadis tentang pembunuhan, namun itu harus dilihat untuk siapa dan kapan waktunya. “Tidak bisa ayat itu dimaknai secara literal bahwa orang kafir ya harus dibunuh. Tafsir soal ayat itu terus menjadi perdebatan di internal NII maupun Jamaah Islamiyah,” demikian Sukanto menjelaskan.

“Jika memang orang Islam disuruh membunuh semua orang kafir, nyatanya Nabi Muhammad tidak membunuh semua orang yang menjadi musuhnya,” imbuhnya.

Intoleransi Bertransformasi Menjadi Terorisme


Terbongkarnya rencana kelompok Harakah Sunni Untuk Masyarakat Indonesia (HASMI) untuk mengebom beberapa target mengukuhkan asumsi bahwa intoleransi rentan berkembang menjadi terorisme. Pasalnya, HASMI tidak pernah terlibat dalam aksi-aksi teror yang berlangsung di Indonesia sebelumnya.

Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, mengatakan, transformasi intoleransi menjadi terorisme itu akibat kelompok garis keras merasa mendapat angin, karena pemerintah gagal menumpas kelompok radikal yang menyasar kaum minoritas. “Terdapat eskalasi dalam transformasi dari intoleransi menjadi terorisme,” kata Noor Huda.

Jauh sebelumnya, hasil penelitian SETARA Institute tentang transformasi organisasi Islam radikal di Jawa Tengah dan Yogyakarta menunjukkan, kelompok radikal yang berwatak intoleran telah dijadikan media bagi kelompok jihadis untuk meradikalisasi dan mereproduksi individu-individu yang tergabung dalam kelompok radikal untuk bertransformasi menjadi teroris.

Menurut Hendardi, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, pada dasawarsa 2000-an, aktor atau dalang terorisme di Indonesia adalah produk pendidikan luar negeri (Timur Tengah). Tetapi aksi terorisme sepanjang 2011, dari teror Bom Buku, Bom Cirebon, dan Bom Solo adalah hasil dari proses recovery kelompok teroris dengan memanfaatkan kelompok radikal.

Lebih lanjut dalam hemat ahli hukum yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan hukum secara formal ini, pembiaran negara terhadap beberapa praktik intoleransi oleh kelompok masyarakat tertentu di Indonesia menjadi salah satu akar tumbuh suburnya praktik terorisme.

”Ketika tidak ada penghukuman terhadap aksi-aksi radikalnya, berarti tidak ada efek jera. Maka pelaku ingin melakukan hal yang sama atau bahkan lebih dari itu karena merasa tidak dihukum,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kelompok HASMI menargetkan empat lokasi sebagai aksi teror yaitu Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Plaza 89 di mana ada Kantor Freeport di sana, dan Mako Brimob di Jalan Srondol, Jawa Tengah.

Terbukti, Radikalisme Mengintai Kampus


Pimpinan Universitas Jember (UNEJ) mengakui terduga teroris bernama Miko Yosiko yang ditangkap tim Densus 88 di Bogor pernah kuliah di kampus itu.

“Memang benar Miko adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ angkatan 1998. Namun, dia tidak melanjutkan kuliahnya hingga selesai,” kata Kepala Humas dan Protokol Unej Rokhani seperti dilansir Antara.

Anggota tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penggerebekan sebuah rumah kos dan mengamankan dua orang yang diduga teroris di Jalan Raya Ciapus, Kampung Cikaret RT 1/RW 2, Kelurahan Cikaret, Kota Bogor, Sabtu (27/10).

Kedua orang yang diamankan terdiri seorang laki-laki yang diketahui bernama Miko Yosiko dan seorang perempuan yang mengenakan cadar bernama Rubiah yang diketahui adalah istri Miko.

Menurut Rokhani, Miko sering mengajukan cuti dan tidak aktif kuliah beberapa kali selama mengenyam pendidikan di UNEJ sejak tahun 1999 hingga 2004, kemudian mahasiswa itu dinyatakan keluar dari FTP UNEJ pada 2005.

Pihak UNEJ, lanjut dia, menyayangkan keterlibatan Miko dalam kegiatan terorisme. “Kami tidak tahu aktivitas Miko ikut organisasi apa di luar kuliah karena kami sulit memantau aktivitas atau kegiatan mahasiswa di luar jadwal kuliah,” paparnya.

Selain Miko, terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 di Madiun yakni Agus Anton Figian juga alumni UNEJ dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang lulus pada 2004.

Jauh sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap radikalisme dan terorisme terutama pada perguruan tinggi.

“Radikalisme sudah masuk ke kampus-kampus, bukan hanya perguruan tinggi swasta, namun juga sudah masuk ke perguruan tinggi yang cukup favorit. Yang lebih bahaya lagi, faham tersebut bukan hanya masuk pada mahasiswa fakultas sosial, namun juga di fakultas eksakta dan saint,” katanya, awal April tahun ini.

Ia mengatakan, pascaruntuhnya orde baru tahun 1998, sebagian masyarakat menganggap bahwa era sekarang adalah kebebasan. Bahkan dalam beberapa aspek, kebebasan tersebut menjadi tidak terkontrol. Dalam kondisi melemahnya kontrol pemerintah itu, faham-faham radikal berkembang dengan bebas, bahkan juga meluas di perguruan tinggi yang sebagian besar mengatasnamakan agama.

Untuk itu, lanjut dia, peran dosen dalam memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama dan penerapannya kepada mahasiswa sangat strategis.

Rabu, 31 Oktober 2012

Makam Nabi Muhammad Bakal Dihancurkan?


Banyak pihak mengkhawatirkan proyek perluasan masjid Nabawi di Kota Madinah oleh pemerintah Arab Saudi. Pasalnya proyek ini bakal menghancurkan makam Nabi Muhammad. Pusara Rasulullah itu terletak di dalam masjid paling suci kedua setelah Masjid Al-Haram di Kota Makkah.

Menurut Dr Irfan al-Alawi dari Yayasan Riset Wawasan Islam diamnya kaum muslim atas rencana itu sebagai bencana sekaligus ironi. “Film tentang Nabi Muhammad baru-baru ini mengakibatkan protes (kaum muslim) di seantero jagat, namun penghancuran tempat kelahiran nabi, tempat dia salat, dan menegakkan Islam malah dibiarkan tanpa kecaman,” katanya, seperti dilansir surat kabar the Independent, Selasa (30/10).

Dr Irfan al-Alawi mengakui perluasan Masjid Nabawi memang diperlukan, tapi rencana pemerintah Negeri Dua Kota Suci itu sungguh mencemaskan. Menurut Alawi, perluasan itu sebagian besar dilakukan di sebelah barat masjid, di mana di situ terdapat makam Nabi Muhammad bersama Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Karena itu, dia takut tiga makam ini juga bakal lenyap.

Berdasarkan laporan the Gulf Institute yang berpusat di Ibu Kota Washington D.C., Amerika Serikat, dalam dua dekade terakhir Riyadh telah melumatkan 95 persen dari seluruh bangunan berusia lebih dari seribu tahun di Makkah dan Madinah. Perluasan Masjid Al-Haram juga mengundang protes dan kecaman pelbagai pihak. Di sekitar Kabah kini bermunculan pelbagai pusat belanja, hotel, dan gedung jangkung.

Di sana kini terdapat komplkes Jabal Umar, terdiri dari apartemen, hotel, dan menara jam tertinggi sejagat. Buat mewujudkan proyek ini, Saudi membuldoser benteng Ajyad dibangun di masa kekhalifahan Usmaniyah. Rumah nabi juga berubah menjadi perpustakaan dan kediaman istri pertamanya, Khadijah, sekarang menjadi toilet.

Saudi beralasan perluasan itu buat menampung jamaah umrah dan haji kian membludak. Pada 2025, diperkirakan bakal tumplek 17 juta jamaah haji. Termasuk perluasan Masjid Nabawi – bakal dimulai bulan depan – nantinya bisa menampung sekitar 1,6 juta jemaah.

Hingga berita ini dilansir, Riyadh belum bisa dimintai komentar soal rencana penghancuran makam Nabi itu.

Lima tahun lalu, beredar selebaran dari Kementerian Urusan Islam Saudi atas rekomendasi Mufti Agung Saudi Abdul Aziz al-Syekh. Isinya mendesak penghancuran makam Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar. Seruan ini disokong para ulama Wahabi, sekte terbesar di Saudi, termasuk Syekh Ibnu al-Uthaymin.

Sumber: Merdeka.com

Selasa, 23 Oktober 2012

Kegiatan Ekstra Kulikuler Wadah Generasi Muda Temukan Identitas Dirinya

Sepak bola, salah satu contoh kegiatan ekstra kulikuler

Usia remaja identik dengan masa pencarian identitas dan eksistensi diri. Pada masa itu, remaja sedang mencari identitas dirinya, apakah akan seperti A, B, atau C. Selaian identitas dirinya ingin diakui, usia remaja juga merupakan masa yang penuh dengan energi, penuh dengan gejolak.

Pelepasan energi pada hal-hal yang salah dan tidak pada tempatnya itu akan mendorong para remaja melakukan hal-hal yang tidak positif. Jadi perlu memperhatikan anak-anak muda yang energinya begitu besar ini, waktu mereka sebagian besar digunakan untuk apa? Hal tersebut diungkapkan Psikolog Pendidikan Universitas Indonesia (UI) Dr. Tjut Rifameutia pada Lazuardi Birru.

Menurut Doktor lulusan Fakultas Psikologi UI dalam bidang Psikologi Pendidikan ini, dengan adanya model-model yang jelas sebetulnya walaupun para remaja mengambil A bagian ininya, B bagian yang lain, C untuk bagian yang lain pula, kemudian bagian-bagian itu akan menjadi identitas dirinya, tentu harapannya itu hal-hal yang lebih baik.

“Keinginan remaja itu selain identitas dirinya diakui, sebenarnya masa remaja itu penuh dengan energi, bergejolak, jadi banyak sekali energinya,” imbuhnya.

Karena itu, lanjut Tjut, kegiatan ektra kulikuler menjadi penting. Disamping itu juga ada kegiatan di sekolah, ada lest dan sebaginya. Menurut dia, pada dasarnya mereka ini berkumpul dan bergaul dengan kelompoknya, tapi ada juga para remaja yang tidak mudah berbaur dengan kelompoknya.

Orang-orang seperti ini, kata Tjut, mungkin saja dimasuki oleh orang lain yang dia pikir lebih menerima diri dia (remaja yang sulit berbaur dengan kelompoknya, red). “Khawatir kan dia masuk pada yang salah, sementara dia mencari identitas dirinya,” kata dia.

“Seandainya itu terjadi akan mudah buat dia menerima apa saja karena dia merasa diterima, menerima apa saja, mungkin melakukan apapun yang dia pikir adalah dari orang yang menganggap dirinya. Kan dia lagi mencari identitas dirinya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Tjut mengatakan perlu kiranya menghargai juga pendapat-pendapat remaja karena kalau dia merasa tidak dihargai, maka dia akan cari orang lain yang bisa menghargai. “Mula-mula pintu masuknya dari situ, namun lama-lama bisa digunakan atau dimanfaatkan,” kata Psikolog UI ini.

Selain itu, penting juga meluangkan waktu untuk diskusi, dialog antara guru dengan siswa, orangtua dengan anak karena itu sangat penting untuk membangun kepercayaan dan membantu para remaja menemukan identitasnya. “Itu sangat penting sehingga kalau ada apa-apa anak atau siswa ini tahu ke mana dan pada siapa dia harus datang dan bicara,” ungkapnya.

Jadi dengan diskusi dan dialog antara guru dan siswa, orangtua dan anak, kata Tjut, tidak kosong, karena orang yang kosong ini susah dan akan mudah dimasuki. Selain itu, pendidikan agama juga harus kuat dan benar, pendidikan keluarga harus baik, dan pendidikan yang di sekolah tentu tidak hanya pelajaran, tapi pelajaran itu diharap bisa membangun satu karakter tertentu. “Harapannya tentu karakter yang positif,” pungkasnya