![]() |
| Sepak bola, salah satu contoh kegiatan ekstra kulikuler |
Usia remaja identik dengan masa pencarian identitas dan eksistensi diri. Pada masa itu, remaja sedang mencari identitas dirinya, apakah akan seperti A, B, atau C. Selaian identitas dirinya ingin diakui, usia remaja juga merupakan masa yang penuh dengan energi, penuh dengan gejolak.
Pelepasan energi pada hal-hal yang salah dan tidak pada tempatnya itu akan mendorong para remaja melakukan hal-hal yang tidak positif. Jadi perlu memperhatikan anak-anak muda yang energinya begitu besar ini, waktu mereka sebagian besar digunakan untuk apa? Hal tersebut diungkapkan Psikolog Pendidikan Universitas Indonesia (UI) Dr. Tjut Rifameutia pada Lazuardi Birru.
Menurut Doktor lulusan Fakultas Psikologi UI dalam bidang Psikologi Pendidikan ini, dengan adanya model-model yang jelas sebetulnya walaupun para remaja mengambil A bagian ininya, B bagian yang lain, C untuk bagian yang lain pula, kemudian bagian-bagian itu akan menjadi identitas dirinya, tentu harapannya itu hal-hal yang lebih baik.
“Keinginan remaja itu selain identitas dirinya diakui, sebenarnya masa remaja itu penuh dengan energi, bergejolak, jadi banyak sekali energinya,” imbuhnya.
Karena itu, lanjut Tjut, kegiatan ektra kulikuler menjadi penting. Disamping itu juga ada kegiatan di sekolah, ada lest dan sebaginya. Menurut dia, pada dasarnya mereka ini berkumpul dan bergaul dengan kelompoknya, tapi ada juga para remaja yang tidak mudah berbaur dengan kelompoknya.
Orang-orang seperti ini, kata Tjut, mungkin saja dimasuki oleh orang lain yang dia pikir lebih menerima diri dia (remaja yang sulit berbaur dengan kelompoknya, red). “Khawatir kan dia masuk pada yang salah, sementara dia mencari identitas dirinya,” kata dia.
“Seandainya itu terjadi akan mudah buat dia menerima apa saja karena dia merasa diterima, menerima apa saja, mungkin melakukan apapun yang dia pikir adalah dari orang yang menganggap dirinya. Kan dia lagi mencari identitas dirinya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Tjut mengatakan perlu kiranya menghargai juga pendapat-pendapat remaja karena kalau dia merasa tidak dihargai, maka dia akan cari orang lain yang bisa menghargai. “Mula-mula pintu masuknya dari situ, namun lama-lama bisa digunakan atau dimanfaatkan,” kata Psikolog UI ini.
Selain itu, penting juga meluangkan waktu untuk diskusi, dialog antara guru dengan siswa, orangtua dengan anak karena itu sangat penting untuk membangun kepercayaan dan membantu para remaja menemukan identitasnya. “Itu sangat penting sehingga kalau ada apa-apa anak atau siswa ini tahu ke mana dan pada siapa dia harus datang dan bicara,” ungkapnya.
Jadi dengan diskusi dan dialog antara guru dan siswa, orangtua dan anak, kata Tjut, tidak kosong, karena orang yang kosong ini susah dan akan mudah dimasuki. Selain itu, pendidikan agama juga harus kuat dan benar, pendidikan keluarga harus baik, dan pendidikan yang di sekolah tentu tidak hanya pelajaran, tapi pelajaran itu diharap bisa membangun satu karakter tertentu. “Harapannya tentu karakter yang positif,” pungkasnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar