KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Rabu, 05 September 2012

Kemenag Akan Petakan Tempat Berkembangnya Faham Radikalisme


Penanganan dan pencegahaan kasus terorisme juga menjadi perhatian Kementerian Agama. Maklum saja pelaku aksi teror tersebut selalu mengklain bahwa tindakan mereka untuk membela agamanya. “Kalau ini berlatarbelakang agama, menjadi konsen dari Kemenag juga di samping pihak keamanan dan intelijen,” kata Menag Suryadharma Ali, di Jakarta, Senin.

Kemenag sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk mempetakan tempat-tempat yang ditenggarai berkembang paham radikalisme. Peta itu merupakan acuan Kemenag untuk melakukan program anti radikalisme yang lebih efektif.

Sehingga tidak terjadi lagi salah sasaran dalam upaya pelurusan ajaran agama. Seperti berbicara di masjid, majelis taklim, dan pondok pesantren yang memang jelas-jelas tidak radikal.

“Kita kan mencoba mengubah pola pikir masyarakat aga tidak pahami ajaran Islam dengan keras dan sempit. Kita mendorong pemikiran agar tidak bertindak kekerasan atas nama agama,” kata Suryadharma.

Sumber: Kemenag.go.id

Senin, 03 September 2012

'Teroris tumbuh karena banyak warga Solo yang susah'


Serangkaian aksi teror terjadi di Solo dalam bulan ini. Dua hari lalu Densus 88 menembak mati dua orang yang diduga sebagai teroris. Suburnya aksi kekerasan ini tak lepas dari masih minimnya kesejahteraan masyarakat di sana.

"Ya, sebenarnya itu masalah teroris ada di mana-mana, tetapi agak sering terjadi di Solo. Ini menandakan bahwa ada masalah kesejahteraan atau rasa keadilan di Solo yang harus diselesaikan dengan serius oleh Pemda setempat, baru ngurus daerah lain," kata Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana kepada merdeka.com, Jakarta, Minggu (2/9)

Menurut Sutan, aksi-aksi terorisme erat hubungannya dengan masalah kesejahteraan. "Ya teroris itu subur karena merasa keadilannya terpinggirkan dan kesejahteraannya disampingkan," kata Sutan.

Ketua Komisi VII DPR ini menjelaskan, masyarakat Solo yang terpinggirkan dan kesejahteraannya kurang ingin diperhatikan, sehingga melakukan langkah dan tindakan yang nekat.

"Ini kan orang-orang yang merasa tidak diperhatikan dengan kehidupan susah, makanya nekat mau mati sahid langsung ketemu bidadari seperti keyakinan mereka itu," pungkasnya.

Jokowi tak mau teror di Solo dikaitkan dengan Pilgub DKI


Wali Kota Solo, Jokowi tidak mau berprasangka buruk soal aksi teror yang sedang terjadi di Solo. Jokowi enggan mengaitkan teror yang menewaskan anggota polisi itu dengan panasnya perebutan kursi orang nomor satu di DKI Jakarta.

"Mengenai berkaitan atau tidak, saya tidak mau prasangka, mikir negatif, yang penting ada masalah segera selesaikan. Soal teror itu tanyakan aparat," ujar Jokowi kepada wartawan usai menghadiri acara Halal Bihalal PDI-P, di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (2/9).

Jokowi menambahkan, dirinya mengakui bahwa adanya peristiwa teror tersebut tak pelak membuat bobot tubuhnya menyusut hingga sekian kilo. Pasalnya dirinya diharuskan bolak-balik Solo-Jakarta untuk mengurus segala keperluan.

"Soal penembakkan di Solo jadi nambah pusing, bolak balik saya jadinya. Di Jakarta menghadiri agenda terkait Pilkada, lalu langsung bertolak ke Solo. Jadi tambah kurus," paparnya.

Menurut jokowi, jadwal di Jakarta menjadi terganggu karena dirinya tidak bisa beraktifitas dengan penuh. "Kalau mengganggu aktifitas, iya betul itu mengganggu. Harusnya di sini bisa full tapi sekarang tidak," tandasnya.

Teror Solo, anggota polisi diwajibkan lapor tiap satu jam


Seluruh anggota Kepolisian Resor Kota Surakarta di lapangan diwajibkan melapor tiap satu jam terkait kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Hal ini dilakukan jika ada hal yang mencurigakan terkait aksi teror terhadap polisi serta penyergapan dua terduga teroris.

"Sebelumnya anggota diwajibkan melapor tiap tiga hingga empat jam sekali tentang situasi terkini di lapangan ke markas melalui radio," kata Kepala Bagian Operasional Polresta Surakarta Kompol Arif Djoko Saptono di Solo seperti dilansir dari antara, Minggu (2/9).

Menurut dia, selain mengubah sistem pengamanan, pihaknya juga melakukan penambahan jumlah personel yang bertugas dari Satuan Brimob dan TNI. Tujuannya penambahan jumlah personel dan berpatroli tersebut untuk mengantisipasi aksi teror susulan.

"Selain anggota yang berpatroli, kami juga menyiagakan personel Brimob yang di 'back-up' TNI," ujarnya.

Berdasarkan pantauan, sejumlah objek vital di Kota Solo seperti pusat perbelanjaan Solo Grand Mal (SGM), Solo Square, dan Solo Paragon terlihat mendapat penjagaan ketat dari personel Polri dan TNI bersenjata lengkap. Beberapa ruas jalan baik di tengah kota maupun di perbatasan juga terlihat patroli dari petugas gabungan Polri-TNI.

Sejak pertengahan hingga akhir Agustus 2012, terjadi tiga kali serangan bersenjata oleh orang tak dikenal yang diduga terkait dengan terorisme dengan sasaran tiga pos polisi di lokasi yang berbeda di Kota Solo.

Pada Jumat (31/8) malam, sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri melakukan penyergapan dua terduga teroris yang disertai baku tembak di Jalan Veteran, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Solo. Dalam penyergapan tersebut, dua terduga teroris yang melakukan serangkaian teror di Kota Solo berinisial F (19) dan M (19), tewas ditembak.

Salah seorang anggota Densus 88 yang ikut melakukan penyergapan terduga teroris, Bripda Suherman, tewas tertembak di bagian dada. Sebelum penyergapan itu, anggota Densus 88 juga menangkap hidup-hidup terduga teroris berinisial B di Gondarejo, Kabupaten Karanganyar.

Minggu, 02 September 2012

Mana Nasionalisme Kita?

Terasa ada yang hilang dari kemeriahan peringatan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan negara tercinta, Indonesia, pada Agustus 2012 ini.

Mula-mula saya tak tahu, apa yang hilang itu.Tapi kemudian terasa agak nyata ketika saya mengingat saat pergi (ke) dan pulang (dari) Gedung DPR pada acara kenegaraan tanggal 16 Agustus 2012 lalu.Saat itu ada dua acara kenegaraan yang dihadiri oleh (dan diisi dengan pidato kenegaraan) Presiden di Gedung DPR, yaitu pidato kenegaraan menyambut HUT kemerdekaan RI pada pukul 10.00 WIB dan pidato pengantar (nota keuangan) RAPBN pada pukul 20.00 WIB. Sepanjang perjalanan, pulang dan pergi,menghadiri dua acara penting itu tak tampak kemeriahan seperti biasanya.

Hampir tidak ada lambaian bendera merah putih dan teriakan ”merdeka” dari orang-orang di jalan. Bahkan lebih banyak mobil dan sepeda motor yang berlalu-lalang tanpa memasang bendera merah putih. Ini berbeda bila dibandingkan dengan tahun-tahun yang lalu. Ketika sore harinya saya berbuka bersama, berdua, di rumah Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan, saya mendengar kesan yang sama. Pak Luhut adalah seorang penganut Kristen Protestan, tetapi setiap bulan puasa sering mengundang sahabat-sahabatnya yang muslim, seperti saya, untuk berbuka puasa di rumahnya.

Saat itu saya diundang berbuka puasa hanya berdua dengan Pak Luhut karena pada saat diselenggarakan berbuka puasa yang beramai-ramai beberapa hari sebelumnya di rumah Pak Luhut saya sedang di luar kota. Saat makan berdua itulah Pak Luhut bercerita bahwa dirinya agak heran karena suasana HUT kemerdekaan tahun ini tidak begitu meriah, tidak ada lambaian bendera putih yang masif, tidak ada teriakan-teriakan ”merdeka” yang bertubi- tubi dan bergemuruh. Itulah sebabnya dia mengeluarkan uang jutaan rupiah dari koceknya dan menyuruh seorang pegawainya untuk membeli bendera merah putih sebanyak mungkin guna dibagi-bagikan kepada pengendara mobil dan sepeda motor di jalanan.

Ketika duduk dibalkon VVIP Gedung DPR pada upacara pukul 20.00 malam itu saya berbicara, berbisik-bisik, dengan seorang pejabat tinggi yang persis duduk di samping saya. Saya heran, bahkan kaget, karena menurut informasi mobil-mobil dinas yang datang ke DPR juga tidak memasang bendera merah putih. Menurut informasi (maaf, ini informasi dari lisan ke lisan), aparat keamanan dan pasukan pengamanan meminta agar mobil-mobil selain mobil Presiden dan Wapres tak memasang bendera merah putih.

Tak tahulah saya, apakah benar ada larangan pemasangan bendera itu, tetapi yang nyata (pasti bisa dilihat dari rekaman CCTV) hari itu mobil-mobil pejabat yang datang ke Gedung DPR tidak memasang bendera merah putih. Bahkan sopir saya pun sempat mencopot bendera itu, tetapi saya perintahkan untuk memasangnya lagi. Sungguh mengherankan kalau sampai ada peraturan atau kebijakan yang melarang pemasangan bendera nasional. Sekarang ini bendera parpol saja banyak berkibaran di hampir semua ruas jalan, masak bendera merah putih tak berkibar.

Peraturan dan logika apa yang dipakai untuk membuat ketentuan begitu? Bagi kita mengibarkan dan melambai-lambaikan bendera merah putih dan teriakan ”merdeka” itu secara umum merupakan ekspresi dari nasionalisme. Memang, mengibarkan bendera nasional dan meneriakkan kata ”merdeka” bukan ukuran mutlak dari rasa dan sikap nasionalisme, tetapi ia merupakan bagian dari cara mengekspresikan nasionalisme itu. Kalau didefinisikan secara sederhana, nasionalisme adalah rasa cinta dan sikap ingin selalu menghormati, membela, dan membanggakan bangsa dan negara dengan segala simbol dan atribut-atributnya.

Nah, mengibarkan bendera nasional dan melambai-lambaikannya sambil meneriakkan yel-yel ”merdeka” merupakan bagian dari cara mengekspresikan nasionalisme ini. Yang bukan bangsa sendiri saja banyak yang hormat dan bangga atas keindonesiaan kita. Pada 3 Juli 2012 yang lalu saya diundang untuk berpidato tentang Mahkamah Konstitusi (MK) Indonesia di hadapan para presiden MK dari negara-negara yang berbahasa Prancis. Ada lebih dari 35 negara yang hadir pada acara yang diselenggarakan di Kota Marakech, Maroko itu.

Ada adegan yang membuat saya merinding, terharu, dan bangga sebagai orang Indonesia saat itu. Begitu saya selesai menyampaikan pidato tiba-tiba Robert SM Dossou, Presiden Asosiasi MK Antarnegara Berbahasa Prancis, berdiri dan mengomandoi tepuk tangan dengan meriah. Hebatnya, Mr Dossou kemudian bercerita tentang kehebatan Indonesia sebagai pelopor kebangkitan harga diri bangsa-bangsa di kawasan Asia dan Afrika. Dia pun bercerita tentang Kongres Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Dia juga fasih bercerita tentang kehebatan Bung Karno sebagai tokoh yang sangat harum dan disegani.

Yang mengagetkan, tiba-tiba Robert Dossou menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung sambil mengangkat-angkat kepal tinjunya menirukan gaya Bung Karno kalau sedang berpidato. Saat itu, dengan haru dan bangga, saya ikut menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung sambil mengangkat bendera merah putih yang ada meja saya. Subhanallah, di negeri-negeri nun jauh di sana banyak orang yang membanggakan Indonesia. Masak kita sendiri mau berbangga-bangga dengan bendera nasional saja tidak didukung?

Moh Mahfud MD 
Sumber: Seputar Indonesia, Agustus 2012

Rusuh Sampang, Tokoh Surabaya Ikrar Damai

Tak ingin kasus di Sampang, Madura  merembet, termasuk ke Surabaya, pihak kepolisian dan tokoh agama di Surabaya melakukan ikrar damai. Hal ini mengingat pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya jadi pintu keluar dan masuk dari Madura ke Surabaya dan sebaliknya.

Pihak kepolisian Pelabuhan Perak pun mengumpulkan sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat termasuk para pengikut Syiah yang ada di Surabaya. Hadir dalam pertemuan itu Wakapolres Pelabuhan Perak, Kompol Kholilur Rochman, Ketua MUI Semampir, Kiai Haji Misbah Baidowi, Camat Semampir, Daya Prasetyono, Danramil Semampir, Kapten Prasetyo, Kepala KUA Semampir, Suratman, dan Kepala Satpol PP Semampir, Ilyas.

Mereka membahas agar insiden Sampang tidak merembet ke Surabaya. Serangkaian langkah antisipasi pun dibahas.

"Meski konflik terjadi di Sampang, namun pengikut Syiah di Surabaya juga banyak. Untuk itulah kita mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir, karena pihak Polres Pelabuhan beserta tokoh agama dan masyarakat, khususnya di wilayah Semampir sepakat untuk tetap menjaga keamanan," kata Kholilur Rochman.

Senada dengan Wakapolres Pelabuhan, salah satu perwakilan Syiah Surabaya, Rusdi menyambut baik upaya polisi yang menjaga keamanan Surabaya.

"Saya menjamin, warga Syiah di Surabaya tidak akan terprovokosi dengan kejadian Sampang," janji Rusdi.

Kesepakatan lain, mereka berjanji tidak melakukan ceramah agama dengan tema-tema berbau SARA yang bisa menyulut amarah warga. Sebelumnya, tragedi berdarah meletus di Sampang, Madura tepatnya di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben. 

Rombongan kelompok Syiah di Sampang, Madura diserang ratusan warga, Minggu 26 Agustus lalu. Akibatnya, satu warga Syiah meninggal, dan AKP Aris Dwi, kritis akibat luka di kepala.

Ponpes Ngruki Solo terduga Jaringan Teroris

JAKARTA-Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Inspektur Jenderal (Purn.) Ansyaad Mbai, mengatakan pondok pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo, Jawa Tengah, diduga kuat berada di belakang serangkaian aksi terorisme di Paris dan Toulouse, Prancis, Maret lalu.
           
Seperti yang dikutip dari situs harian The Jakarta Post, Senin, 27 Agustus 2012, Ansyaad Mbai menungkapkan, Kepolisian Prancis telah menyampaikan informasi kepada pihak Indonesia bahwa tiga warga negara Prancis, termasuk buronan militan Frederic C. Jean Salvi, berencana mengungsi sementara di Pondok Pesantren Ngruki, setelah serangan teror itu dilancarkan.

Salvi, kata Ansyaad, telah menghabiskan waktu beberapa tahun mempelajari Islam dengan kalangan militant di Indonesia. Kawasan Ponpes Ngruki saat ini diawasi dengan ketat dan aparat keamanan di Indonesia terus menjaga kontak dengan rekan-rekan mereka di Prancis.

”Kami sedang menyelidiki bagaimana tiga orang warga negara Prancis itu dapat berhubungan dengan pihak Ngruki serta apa maksud dan tujuan kedatangan mereka ke Indonesia," kata Ansyaad.

Salah satu alumni Pondok Pesanteren Al Mukmin Ngruki, Noor Huda Ismail, kepada The Atjeh Post, menilai, pada prinsipnya kedatangan orang asing di Ngruki bisa saja terjadi, karena sejak lama Ngruki sering didatangi tamu-tamu asing.

“Mungkin saja karena di Ngruki itu ada banyak santri yang datang dari mana-mana, dulu ada dari australia dan lain-lain. Tetapi ‘kan itu harus bisa dibuktikan oleh analisis-nya,” kata penulis buku ‘Temanku, Teroris?’ itu.

Adapun peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Utara, Al Chaidar, mengatakan Ngruki sampai saat ini masih menjadi “center of excellence” (pusat perhatian) dan memberikan pengaruh pada banyak pihak, termasuk Prancis.

“Ngruki akan tetap menarik perhatian berbagai kalangan, terutama yang radikal-radikal itu. Kita tahu dari dulu, sejak 1992, mereka sudah memiliki jaringan internasional yang diakui, yang melalukan pengeboman di Madrid (Spanyol) dan bom toulouse (Perancis). Bahkan, juga di Rusia," katanya.

Ia menambahkan, pada 1992, Chalid Al Nizar ke Indonesia, termasuk ke Aceh, mereka lalu ke Ngruki dan ini yang menunjukkan jaringan Ngruki itu mencakup internasional. Menurut Chaidar, Kepala BNPT Ansyaad Mbai sudah mengetahui sejak dulu, tetapi baru menyampaikannnya sekarang, karena sebelumnya belum menemukan bukti-bukti yang kuat


Muslim Papua: NKRI Harga Mati Bagi Kami

Perhatian pemerintah terhadap Muslim di Papua dinilai masih sangat minim. Namun, rendahnya perhatian pemerintah itu tak menyurutkan tekad dan semangat Muslim Papua untuk mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

”Bagi anak-anak Muslim Irian NKRI adalah harga mati,” ujar Jusman Nortonggoh, ketua Himpunan Mahasiswa Nuu War Irian Jaya seperti dilansir Republika.co.id, 26/8/2012, di sela-sela acara Syawal Study Motivation Training IV yang digelar Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) di Bogor, Jawa Barat.

Jusman menegaskan, hingga saat ini sudah ribuan anak Muslim Irian dikirimkan oleh AFKN untuk menimba ilmu di beragai sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri.

Dengan modal itu, kata dia, Muslim Irian bertekad untuk menjadikan bumi Nuu War sebagai cahaya bagi Indonesia pada 2030.

”Sekarang orang boleh bilang bahwa anak-anak Irian tertinggal. Namun, suatu hari nanti pasti akan ada Muslim Irian yang menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia ini,” papar mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ) Jakarta itu.

Dalam acara Syawal Study Motivation Training IV, mahasiswa dan santri AFKN mengukuhkan tekadnya. “Satu tekad, Islam agamaku, Allah SWT Rabbku, Alquran kitab suciku, Nabi Muhammad SAW rasulku, Indonesia tanah air dan bangsaku, NKRI harga mati bagiku.

Sumber: Republika

Presiden Diminta Bertindak Nyata Atasi Kasus Sampang

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta bertindak nyata untuk mengatasi kerusuhan antara Syiah dan Sunni di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, Jawa Timur, yang terjadi kemarin. Dalam kejadian tersebut, dua orang meninggal dunia dan lima lainnya luka-luka serta rumah-rumah milik kelompok Syiah dibakar.

“Tidak cukup diatasi dengan ceramah dan seruan untuk bertoleransi. Tindakan nyata Presiden yang bisa menghentikan persekusi atas mereka yang berbeda,” kata Direktur Setara Institute Hendardi di Jakarta.

Hendardi menilai peristiwa Sampang sebagai potret buram terhadap jaminan kebebasan warga untuk beragama dan berkeyakinan pada 2012. Menurutnya, kepolisian terutama Polda Jawa Timur, gagal menjaga keamanan dan melindungi warga.

“Sudah sepantasnya Kapolda Jatim dicopot dari jabatannya. Kapolri harus turun tangan mengatasi serangan kelompok massa yang berulangkali. Keberulangan ini terjadi karena kekerasan terus dibiarkan tanpa penegakan hukum,” tandas Hendardi.

Dia menengarai kerusuhan di dusun Nangkernang ini dilakukan secara terorganisir. “Peristiwa penyerangan, pembunuhan, dan pembakaran pemukiman Syiah Sampang, bukanlah kerusuhan tapi penyerangan sistematis yang direncanakan,” kata Hendardi.

Sumber: Antara