Islam berkembang pesat di Tanah Air karena mampu mengakomodir kultur dan nilai budaya setempat. Hal tersebut bisa dilihat dari metode Walisongo dalam melakukan dakwah di penjuru nusantara. Mereka menyebarkan Islam tanpa ada tumpah darah. Cara dakwah Walisongo ini dinilai efektif.
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alisa Qodrunada Wahid mengatakan, sebetulnya yang berlangsung di masyarakat itu adalah proses internalisasi nilai atau pembentukan kultur baru yang selalu terjadi proses asimilatif di dalam peradaban apapun.
Budha pada zaman dulu kuat sekali. Kemudian ada proses kulturalisasi, kemudian yang berkembang adalah Islam yang santun. Karena itu, metode dakwah yang menggunakan kekerasan tidak bisa dibiarkan.
Ia mencontohkan apa yang dilakukan Gus Mus saat menyampaikan ceramah merupakan hal positif dan efektif untuk mengconter maraknya Islam radikal. Menurut putri Gus Dur ini, Gus Mus di manapun berceramah selalu mengingatkan bahwa kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan ada di Indonesia.
Gus Yusuf Khudori, kata Alisa, mengistilahkan Islam radikal ini seperti Islam kos-kosan. Kalau anak kos ketika jendelanya pecah atau atap rumahnya bocor, dia tidak merasa terbebani untuk memperbaiki. Dia pasti akan meminta pemilik kos untuk memperbaiki. Menurut Alisa, ciri-ciri Islam kos-kosan ini adalah mereka yang tidak peduli dengan rumah Indonesia.
“Kalau Gus Mus menyebutnya, kita ini orang Indonesia yang muslim, tapi kalau Nurdin M Top itu adalah orang muslim yang kebetulan ada di Indonesia, dia tidak punya kepentingan Indonesia mau ambruk atau tidak, dia tidak punya kepentingan apakan orang Indonesia akan sejahtera atau tidak, yang dia punya adalah kepentingan menegakkan idiologi mereka,” ungkapnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar