KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Kamis, 07 Februari 2013

Kesehatan Demokrasi Pengaruhi Kadar Radikalisme dan Terorisme


Radikalisme dan terorisme Islam hanyalah fenomena hilir. Pada tataran hulu bisa dipastikan ada yang bermasalah atau yang menyumbat hasrat hidup orang-orang radikal atau teroris yang sejatinya kaum beriman. Sulit dinalar ada seorang yang beriman atau beragama melakukan tindakan-tindakan keji. Hal itu bisa terjadi tentu bukan karena agama sebagai sumbernya, melainkan hal lain.

Menurut Mahfud MD, jika demokrasi berjalan tanpa penyakit, radikalisme atau terorisme tidak mungkin hadir di negeri ini.

“Caranya dengan menumbuhkan demokrasi secara sehat. Sehingga orang tidak mencari jalan sendiri. Kalau demokrasi itu sehat, orang yang merasa punya pikiran sendiri tidak perlu melakukan tindakan-tindakan radikal. Tetapi bisa disalurkan melalui proses demokrasi” tutur Ketua Mahkamah Konstitusi ini pada Lazuardibirru beberapa waktu yang lalu.

Dalam ruang demokrasi yang sehat Mahfud MD percaya bahwa orang-orang radikal dan bahkan teroris akan tercerahkan pikirannya. Fakta sejarah telah menunjukkan hal itu.

“Dalam pengalaman kita banyak sekali contoh orang yang tadinya radikal, hendak mengganti dasar negara,  pancasila misalnya, namun sesudah demokrasi dibuka kemudian berubah. Mereka yang memiliki pemikiran kemudian memuat partai, ikut pemilu dan masuk ke DPR. Di DPR lalu berdebat dan akhirnya mulai sadar bahwa bangsa ini tidak bisa dipaksa atas kehendaknya sendiri” tambah Mahfud MD.

Untuk itu Ketua MK ini mengajak seluruh elemen bangsa turut menyehatkan demokrasi. Jangan ada intimidasi pada pandangan-pandangan yang terlontar. Biarkan mekanisme demokrasi melalui dialog dan perdebatan yang menyelesaikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar