KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Kamis, 07 Februari 2013

Mahfud MD: Dalil Islam Damai Lebih Banyak dari Dalil Kekerasan


Sulit memahami bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Jika ada dalil yang menunjukkan hal itu tentu ada konteks yang melatbelakanginya dan tidaklah mungkin merupakan ajaran inti yang hendak disampaikan Islam. Bahkan menurut Mahfud MD dalil-dalil dalam Islam yang beraroma kekerasan sangatlah sedikit.

“Karena kalau kita mau ber-Islam, menurut saya dalili-dalil yang mengajarkan bahwa Islam itu sejuk dan toleran lebih banyak daripada dalil yang menyeru ber-Islam dengan marah-marah misalnya” ungkap Mahfud MD kepada Lazuardibirru.

Dengan demikian bisa dipastikan bahwa landasan aksi-aksi radikalisme dan terorisme bukanlah dari Islam. Namun problemnya kelompok radikal dan teroris begitu kukuh dengan pemaknaan keislaman mereka sendiri. Padahal menurut Mahfud MD argumen yang dibangun kelompok radikal dan teroris sangat mudah diruntuhkan.

“Argumenya juga tidak pernah menang, mereka hanya ngotot saja. Jika diadu dengan argumen apapun mereka tidak pernah menang” kata Mahfud MD.

Tentang eksistensi kelompok radikal dan teroris, Ketua Mahkamah Konstitusi ini tidak terlalu khawatir. Pasalnya dari segi jumlah muslim yang bercorak radikal dan teroris sangat kecil jumlahnya.

Kesehatan Demokrasi Pengaruhi Kadar Radikalisme dan Terorisme


Radikalisme dan terorisme Islam hanyalah fenomena hilir. Pada tataran hulu bisa dipastikan ada yang bermasalah atau yang menyumbat hasrat hidup orang-orang radikal atau teroris yang sejatinya kaum beriman. Sulit dinalar ada seorang yang beriman atau beragama melakukan tindakan-tindakan keji. Hal itu bisa terjadi tentu bukan karena agama sebagai sumbernya, melainkan hal lain.

Menurut Mahfud MD, jika demokrasi berjalan tanpa penyakit, radikalisme atau terorisme tidak mungkin hadir di negeri ini.

“Caranya dengan menumbuhkan demokrasi secara sehat. Sehingga orang tidak mencari jalan sendiri. Kalau demokrasi itu sehat, orang yang merasa punya pikiran sendiri tidak perlu melakukan tindakan-tindakan radikal. Tetapi bisa disalurkan melalui proses demokrasi” tutur Ketua Mahkamah Konstitusi ini pada Lazuardibirru beberapa waktu yang lalu.

Dalam ruang demokrasi yang sehat Mahfud MD percaya bahwa orang-orang radikal dan bahkan teroris akan tercerahkan pikirannya. Fakta sejarah telah menunjukkan hal itu.

“Dalam pengalaman kita banyak sekali contoh orang yang tadinya radikal, hendak mengganti dasar negara,  pancasila misalnya, namun sesudah demokrasi dibuka kemudian berubah. Mereka yang memiliki pemikiran kemudian memuat partai, ikut pemilu dan masuk ke DPR. Di DPR lalu berdebat dan akhirnya mulai sadar bahwa bangsa ini tidak bisa dipaksa atas kehendaknya sendiri” tambah Mahfud MD.

Untuk itu Ketua MK ini mengajak seluruh elemen bangsa turut menyehatkan demokrasi. Jangan ada intimidasi pada pandangan-pandangan yang terlontar. Biarkan mekanisme demokrasi melalui dialog dan perdebatan yang menyelesaikannya.

Rabu, 06 Februari 2013

Menjadi Orang Indonesia yang Beragama Islam


Islam berkembang pesat di Tanah Air karena mampu mengakomodir kultur dan nilai budaya setempat. Hal tersebut bisa dilihat dari metode Walisongo dalam melakukan dakwah di penjuru nusantara. Mereka menyebarkan Islam tanpa ada tumpah darah. Cara dakwah Walisongo ini dinilai efektif.

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alisa Qodrunada Wahid mengatakan, sebetulnya yang berlangsung di masyarakat itu adalah proses internalisasi nilai atau pembentukan kultur baru yang selalu terjadi proses asimilatif di dalam peradaban apapun.

Budha pada zaman dulu kuat sekali. Kemudian ada proses kulturalisasi, kemudian yang berkembang adalah Islam yang santun. Karena itu, metode dakwah yang menggunakan kekerasan tidak bisa dibiarkan.

Ia mencontohkan apa yang dilakukan Gus Mus saat menyampaikan ceramah merupakan hal positif dan efektif untuk mengconter maraknya Islam radikal. Menurut putri Gus Dur ini, Gus Mus di manapun berceramah selalu mengingatkan bahwa kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan ada di Indonesia.

Gus Yusuf Khudori, kata Alisa, mengistilahkan Islam radikal ini seperti Islam kos-kosan. Kalau anak kos ketika jendelanya pecah atau atap rumahnya bocor, dia tidak merasa terbebani untuk memperbaiki. Dia pasti akan meminta pemilik kos untuk memperbaiki. Menurut Alisa, ciri-ciri Islam kos-kosan ini adalah mereka yang tidak peduli dengan rumah Indonesia.

“Kalau Gus Mus menyebutnya, kita ini orang Indonesia yang muslim, tapi kalau Nurdin M Top itu adalah orang muslim yang kebetulan ada di Indonesia, dia tidak punya kepentingan Indonesia mau ambruk atau tidak, dia tidak punya kepentingan apakan orang Indonesia akan sejahtera atau tidak, yang dia punya adalah kepentingan menegakkan idiologi mereka,” ungkapnya.

Selasa, 05 Februari 2013

Penanggulangan Terorisme Mesti Melibatkan Seluruh Kekuatan Nasional

Simulasi penanganan teror (ilustrasi)

Penanggulangan terorisme harus dilakukan secara sinergis oleh seluruh kekuatan nasional Indonesia yakni TNI dan Polri. Sementara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) selaku badan negara yang bertugas mengoordinir kekuatan nasional dalam penanggulangan terorisme, memutuskan untuk menyinergikan kekuatan Negara.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua BNPT Irjen Pol. Ansyaad Mbai dalam amanat yang dibacakan oleh Kasubdit Penanggulangan Sistem Operasi Direktorat Pembinaan Kemampuan BNPT, Kombes Pol Drs Firman Fadila MH, saat upacara pembukaan latihan bersama (Latma) TNI-Polri dalam rangka penindakan pelaku terorisme, di Makorem 132 Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (3/2/2013).

Lebih lanjut Ansyaad mengatakan, tugas BNPT di wilayah Sulawesi Tengah adalah menyinergikan kekuatan TNI-Polri dengan mengadakan pelatihan penindakan dengan sandi Latin III.

“Perlu disadari bahwa pelatihan yang diberikan tidak mencakup semua aspek dan bentuk metamorfosis terorisme, tetapi hanya difokuskan kepada bidang penindakan saja, mengingat keterbatasan waktu,” terang Ansyaad seperti disampaikan Firman.

Nantinya, BNPT akan melakukan analisa dan evaluasi atas hasil pelatihan penindakan yang dilaksanakan di Palu untuk menentukan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan pelatihan selanjutnya.

Dalam latihan kali ini, berbagai hal ingin dicapai, di antaranya adanya peningkatan kemampuan teknik antigerilya bagi satuan pelaksana operasi penindakan terorisme yang jauh dari pemukiman, serta peningkatan kemampuan tugas pelaksanaan dalam operasi penindakan tindak pidana terorisme dengan korban jiwa seminimal mungkin.

Latma yang dikoordinir oleh BNPT ini melibatkan 1 satuan setingkat kompi (SSK) Sat Brimob Polda Sulteng, serta 1 satuan setingkat peleton atau 2 regu personel dari Yonif 711 Raksatama dan Yonif 714 Sintuwu Maroso. Sementara para instruktur dan pemateri dalam Latma ini berasal dari Densus 88 Anti-Teror Polri, Korps Brimob Polri, Polda Sulteng, Direktorat Zeni TNI AD, serta Komando Kewilayahan TNI AD, TNI AL, dan TNI.

Kegiatan yang digelar selama seminggu ini ditandai dengan penyematan tanda peserta oleh Firman Fadila kepada perwakilan peserta.

Di akhir latihan nantinya, para peserta Latma akan menampilkan simulasi penanggulangan tindak pidana terorisme, yang akan dilaksanakan di Mako Brimob Polda Sulteng pada 9 Februari mendatang.

Dakwah Wali Songo Tanpa Pertumpahan Darah

Dalam masa lima puluh tahun Wali Songo berdakwah, masyarakat sepanjang pesisir utara pulau Jawa telah memeluk agama Islam. Masyarakat pesisir utara, memeluk agama Islam tanpa pertumpahan darah.

Hal tersebut diungkapkan penulis buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto dalam acara ‘Pengajian Budaya dan Bedah Buku Atlas Wali Songo’ yang diadakan oleh Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama, LTNNU. Pengajian budaya digelar di halaman parkir kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (31/1) malam.

Agus Sunyoto menyatakan, perkembangan Islam semakin pesat dan terlihat nyata setelah anak-anak Sunan Ampel dewasa. Anak-anak Sunan Ampel seperti Sunan Bonang dan Sunan Drajat bersama para muridnya menyebar ke seantero pantura Jawa. “Tercatat pada 1515 Masehi, para adipati yang berkuasa di sepanjang pantai utara Jawa sudah memeluk agama Islam,” ungkapnya.

Menurut Agus Sunyoto, pada tahun yang sama para adipati masih ada juga yang belum menganut agama Islam. Mereka umumnya berkuasa di wilayah Jawa bagian selatan. Mereka masih menggunakan nama, ‘wijaya’.

Singkatnya dakwah Wali Songo yang membuahkan hasil gemilang, disebabkan karena kecepatan adaptasi Wali Songo dengan penduduk setempat. Tanpa adaptasi dan pemahaman terhadap jiwa masyarakat, dakwah Islam mereka akan gagal di tengah jalan. Karena, masyarakat setempat memiliki kultur yang sangat resisten terhadap ajaran asing.

Kelompok-Kelompok Muslim Radikal Pandai Mengemas Propaganda


Keterlibatan remaja Islam dalam aksi-aksi radikalisme dan terorisme membersitkan tanya, ada apa dengan remaja Islam?. Secara psikologis anak muda dalam kondisi yang sangat rentan, atau dalam bahasa populernya mudah terserang galau. Kegalauan inilah yang menuntun anak usia remaja untuk mencoba-coba dan mencari-cari jawab dari pertanyaan yang mengendap dalam benaknya.

Problemnya adalah ketika dalam masa pencarian tersebut, seorang remaja Islam bertemu dengan mentor atau guru agama dari kelompok-kelompok radikal atau bahkan teroris. Dalam kondisi psikologis yang galau sangat mudah bagi para radikalis dan teroris untuk menjejalkan ideologi horor mereka.

Bahkan menurut Dosen UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Zaki Mubarak, kelompok-kelompok Islam radikal sangat pandai dalam mengemas cara untuk mempropagandakan ideologi mereka.

“Kelompok-kelompok radikal pandai membuat suasana belajar yang guyub, lebih dekat secara emosional dan personal. Termasuk juga cara mengajar yang tidak membosankan” tutur Dosen UIN Syarif Hidayatulah Jakarta tersebut.