KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Kamis, 21 Juni 2012

Polisi Tangkap 2 Pria & 1 Perempuan Terduga Teroris di Medan


Situasi penangkapan di Medan

Medan Dua pria dan seorang perempuan digelandang polisi dari sebuah rumah di Medan, Sumatera Utara. Belum ada keterangan resmi mengenai hal ini, namun diduga ketiganya terkait dengan aksi terorisme.

Sekitar 50 polisi bersenjata laras panjang dan mobil penjinak bahan peledak tampak di lokasi, Jalan Eka Warni III, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Medan, Kamis (21/6/2012). 

Polisi mengepung rumah bercat pastel itu, kemudian membawa tiga orang. Seorang pria dan perempuan dibawa dengan mobil CRV warna silver bernopol BK 1688 RR, sedangkan seorang lainnya diangkut dengan truk Brimob. 

Kemudian, rumah yang cukup mewah itu dipasangi police line. Warga dilarang mendekat.

Kapolsek Deli Tua Kompol Simon Paulus Sinulingga yang berada di lokasi enggan dikonfirmasi. "Tanya Mabes (Polri) saja," katanya.

Sebelumnya, hari ini, Direktur Penindakan BNPT Brigjen Petrus R Golose menyatakan ada penyitaan dan penangkapan terkait terorisme di Medan. "Ada lima orang yang ditangkap. Dua orang adalah ahli IT yang kami tangkap di Bandung," kata Petrus di sela rakor BNPT di Markas Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (21/6/2012).

Jumat, 15 Juni 2012

Aturan Uang Muka Mulai Berlaku Hari Ini


JAKARTA, KOMPAS.com — Masyarakat yang akan membeli rumah atau kendaraan bermotor menggunakan kredit bank atau pembiayaan harus memiliki uang muka cukup. Peraturan Bank Indonesia dan peraturan menteri keuangan tentang uang muka minimum berlaku hari Jumat (15/6/2012) ini.


Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia menyampaikan, beberapa perusahaan pembiayaan sudah melaksanakan aturan itu. ”Di atas kertas, akan ada penurunan pembiayaan 30-50 persen,” kata Wiwie kepada Kompas, Kamis (14/6/2012).

Wiwie memperkirakan dampak aturan itu akan terasa sekitar 3-6 bulan mendatang. Bank dan perusahaan pembiayaan punya masa transisi tiga bulan setelah BI dan Kementerian Keuangan menerbitkan aturan itu pada 15 Maret 2012.

Aturan uang muka minimum itu hanya berlaku bagi bank konvensional. Bank syariah justru berharap agar aturan itu belum akan diberlakukan bagi bank syariah. ”Sehingga bisa menjadi alternatif untuk membantu perkembangan pembiayaan syariah,” kata Sekretaris Perusahaan Bank Syariah Bukopin Evi Yulia.

Menurut Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Mulya E Siregar, BI dan Kementerian Keuangan mengevaluasi aturan ini pada enam bulan mendatang. ”Apakah aturan ini dilaksanakan, apakah ada penurunan pembiayaan,” kata Mulya.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia Gunadi Sindhuwinata mengatakan, penentuan ketentuan uang muka berdampak serius bagi industri sepeda motor. Selama ini, pembelian sepeda motor secara kredit mencapai 70 persen. Separuh dengan maksimum uang muka 10 persen.

”Kalau ditentukan uang muka wajib 20 persen, ini akan sangat memberatkan konsumen. Sebelum aturan uang muka diterapkan, tiga bulan belakangan (Maret-Mei) penjualan sepeda motor sudah turun. Dengan ketentuan uang muka yang baru, penjualan akan makin turun,” ujar Gunadi.

Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan sepeda motor per Maret 2012 mencapai 619.678 unit, tetapi April menjadi 617.508 unit dan Mei menjadi 611.251 unit.

Menurut Gunadi, konsumen sesungguhnya sanggup membayar dengan cara mencicil. Bagi mereka, uang muka jadi masalah karena uang muka harus dikumpulkan selama berbulan-bulan. ”Kompetisi yang dikhawatirkan BI tidak akan terjadi. BI mau mengontrol agar tidak ada penggelembungan kredit. Saya kira di Indonesia tidak akan terjadi karena permintaan tinggi, bukan suplai tinggi,” ujar Gunadi.

General Manager PT Toyota Astra Motor Widyawati Soedigdo mengatakan, ”Kebijakan ini tentunya memberi efek negatif, terutama untuk produk-produk yang dengan persentase pembelian kredit yang cukup besar.”

Namun, Joko Utomo, Deputi General Manager PT Suzuki Indomobil Sales, mengatakan, setiap industri otomotif dipastikan akan menyiasati dengan perhitungan-perhitungan yang sebisa mungkin tidak memberatkan konsumen, terutama saat pembayaran pertama. (OSA/IDR)


Sumber :Kompas Cetak

Kamis, 14 Juni 2012

Jayapura Rusuh, Terdengar Tembakan & Fasilitas Publik Dibakar


ilustrasi


Jayapura Suasana Kota Jayapura tepatnya di Perumnas III Waena, Jayapura, mencekam pasca kerusuhan yang terjadi, Kamis (14/6/12012) pagi.

Belum diketahui penyebab kerusuhan, namun informasi di lapangan, salah satu koordinator Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Mako Tabuni dikabarkan tewas tertembak saat kerusuhan terjadi. Jenazahnya tengah berada di RS Bhayangkara Jayapura.

Selain Mako Tabuni, dua warga yang kebetulan melintas diduga menjadi korban tewas akibat penganiayaan. Korban yang belum diketahui identitasnya ini masih tergeletak di tanah dengan bersimbah darah.

Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian. Diperkirakan korban materil mencapai ratusan juta rupiah akibat aksi pembakaran mobil, motor, rumah serta fasilitas umum lainnya.

Saat ini Gubernur Papua tengah melakukan rapat dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) serta tokoh masyarakat di aula Gedung Negara Dok V Atas Jayapura guna membahas situasi dan kondisi Jayapura saat ini.
(detik.com)

Rabu, 13 Juni 2012

Pemicu Terorisme Itu ……


Sebagai warga negara yang baik dan rindu akan ketenangan kita bosan mendengar aksi-aksi yang tidak manusiawi. Aksi-aksi tidak manusiawi itu dapat dilakukan oleh siapa saja yang menghendaki kehidupan ini kacau balau. Tidak hanya aksi-aksi teroris yang terkait dengan pengemboman yang sedang terjadi baru-baru ini. Namun banyak sekali aksi-aksi tidak manusiawi lain yang begitu merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Aksi terorisme menjadi bahasan hangat karena memang bersentuhan dengan ranah psikologis sosial, menyangkut agama tertentu. Stigma terorisme, khususnya di Indonesia, menjadi langganan agama tertentu, kelompok tertentu, atau tokoh tertentu.

Pelurusan stigma itu harusnya menjadi pekerjaan rumah media, yang selalu lebay dan bombastis ketika memberitakan terorisme. Berita demi berita dibuat terkadang dengan dibumbui opini-opini pembuat berita yang terkadang tidak sehat dan tidak adil dalam pemberitaan.

Saya setuju, kalau salah satu Kompasianer bisa memposisikan diri sebagai pengayom. Pengayom dalam arti mampu memberikan keterangan atau pendapatnya yang objektif dalam memandang permasalahan. Dan tentunya untuk bersikap seperti itu sangat tidak mudah, tergantung pengalaman dan kedewasaan yang bersangkutan dalam menghadapai masalah.

Aktifitas teror di negeri ini sebetulnya tidak hanya tindakan yang dilakukan oleh aksi peledakan bom. Aksi-aksi lain yang juga terus harus diwaspadai misalnya korupsi, kekerasan terhadap sebuah profesi, pemerkosaan (baik fisik maupun opini), pelecehan-pelecehan seksual, dan apa saja yang membuat hidup ini tidak tentram.

Namun sayangnya, sekali lagi peran media yang berlebihan dalam pemberitaan, kadang membuat situasi negeri ini semakin runyam. Tidak hanya yang objektif saja yang disampaikan, terkadang mereka juga menjadi sangat subyektif sehingga menjadi teroris-teroris terlindungi terhadap masyarakat karena pemberitaannya.

Karena dengan tindakan penyiaran yang membabi buta itu, masyarakat menjadi resah, galau, kacau, tidak nyaman dan malah terpojok. Sehingga model pemberitaan seperti itu akan menjadi teror yang mengerikan bagi masyarakat.

Terkait dengan terorisme yang sementara ini dialamatkan pada agama tertentu, itupun sejatinya juga teror kepada para penganutnya, sehingga mereka tidak nyaman hidup di negeri ini. Hanya ulah perorangan tetapi banyak yang menggeneralisir hingga seakan-akan semua penganutnya seperti itu. Dalam hal ini sekali lagi terjadi ketidak adilan.

Dilihat dari perspektif kriminalisme, tindakan Ahmad Yosepa, terduga pengebom di Keponten Solo, tidak ada bedanya dengan Breivik di Norvegia yang mengebom kantor Perdana Mentri Norwegia dan memberondong sekumpulan pemuda yang sedang menggelar perkemahan.

Selain Breivik, ada juga Timothy Mcveigh, pelaku peledakan bom di Oklohama, Amerika Serikat pada tahun 1995, seorang veteran Amerika yang menjadi penganut sekte Kristen Sempalan pimpinan David Koresh hingga menewaskan 165 orang.

Kemudian munculah Yasuo Hayashi, penganut aliran Aum Shinrikyo yang menebar gas sarin hingga menewaskan 12 orang dan melukai 6000 orang.

Aksi-aksi demikian tidak biasa dikatakan secara dini, bahwa mereka bergerak diperintah oleh agamanya, tetapi lebih sebagai self radicalization. Menurut Kepala Center of Excellence for National Security, Bilver Singh, self radicalization sebagai pemicu terorisme baru. (Republika)

Mereka adalah pelaku teror terhadap masyarakat. Mereka berlatar belakang berbeda-beda dan dari Negara yang berbeda-beda pula. Tetapi mereka bergerak untuk membuat kekacauan di dalam masyarakat, demi hanya melampiaskan keinginan pribadi.

Terima kasih.

Bersahabat Beda Agama, Tak Masalah



“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”


Salah satu aspek terpenting pada rentang hidup dan kehidupan manusia adalah pergaulan sosial. Pergaulan (menyangkut, kenal dan kenalan, kawan, teman, dan sahabat atau persahabatan) dapat terjadi pada setiap waktu dan semua tempat, serta dengan semua pihak; juga sesuai dengan sikon kemanusian serta profesi masing-masing.

Persahabatan yang baik,  ada ikatan kasih persahabatan, mempunyai ciri-ciri, antara lain, melintasi batas-batas SARA; adanya kesetiaan; kebersamaan; dan keterbukaan serta kejujuran. Pada umumnya, persahabatan yang baik selalu menghantar pada suasana penuh kedamaian dan kesejahteraan. Mungkin, bisa terjadi perbedaan (karena berbagai alasan) dalam persahabatan, namun biasanya membawa pada perbaikan atau kearah yang lebih baik.

Mudah-mudahan, model hubungan sosial pada ranah persahabatan yang menembus tembok-tembok perbedaan sara tersebut, bisa langgeng atau bertahan lama. Hal tersebut, bisa saja terjadi, jika agama dan perbedaan agama dijadikan pertimbangan utama ketika membangun hubungan dengan orang lain. Jika itu terjadi, maka akan sering mendengar kata-kata bersifat sentimen sara; misalnya, jangan bergaul dengan dia, dia khan Kristen, Islam, Hindu, Budha, Khon Hu Cu, dan seterusnya; atau ngapain juga ku berteman dia yang tak sealiran dan se agama denga ku …. dan kata-kata sejenis lainnya. Atau jangan sampai terjadi, tiba-tiba sahabat - teman (kita) memutuskan persahabatan - pertemanan, gara-gara ia menjadi member organisasi keagamaan radikal, kemudian mengkafirkan semua yang berbeda dengan dirinya. Jika itu terjadi, maka lebih baik kita ikuti nasehat  orang-orang berhikmat bahwa, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Selasa, 12 Juni 2012

Jangan Gamang Hadapi Radikalisme



YOGYAKARTA - Negara saat ini dinilai terlalu longgar dengan radikalisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan kelonggaran dan toleran terhadap praktek radikalisme tersebut ditakutkan demokratisasi yang tengah dibangun tidak berjalan dengan baik. 

“Demokrasi akan tumbuh dengan baik tanpa adanya radikalisme,” kata Guru Besar Fisipol UGM, Muhadjir Muhammad Darwin dalam diskusi 'anti radikalisme dan prospek demokrasi di Indonesia' di UGM, Yogyakarta, 

Muhadjir Darwin menambahkan, radikalisme harus dilawan dengan radikalisme pula. Dalam hal ini negara terutama aparat penegak hukum seperti kepolisian memiliki peran dan tanggungjawab dalam melawan radikalisme tersebut. Sikap radikalisme negara yang dimaksud seperti radikal dalam penegakan hukum.

“Disini negara yang punya tanggungjawab untuk melawan radikalisme seperti dalam penegakkan hukum. Selain itu janganlah negara berada pada posisi yang gamang dan terjebak pada mitos toleran dengan praktek radikalisme yang mengedepankan kekerasan,” imbuh Muhadjir.

Selain negara yang harus radikal melawan radikalisme, imbuh Muhadjir, masyarakat sipil yang tidak mendukung praktek radikalisme sudah saatnya untuk menggalang kekuatan dan bersuara.

Muhadjir yang juga Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM ini melihat negara terjebak hanya sekedar menjaga citra dan popularitas dengan sikapnya yang gamang dan toleran dengan praktek radikalisme tersebut. 

Untuk mencapai demokratisasi yang diinginkan maka negara harus selalu proaktif menegakkan prinsip-prinsip demokrasi seperti equality (persamaan), liberty (kebebasan), dan fraternity (persaudaraan).
“Negara harus menjamin, menghargai, melindungi serta memfasilitasi penggunaan hak-hak setiap individu,”tegasnya.


Sementara itu, Mark Woodward dari Arizona State University dalam diskusi tersebut mengatakan, sebagai sebuah ideologi, radikalisme sangat memungkinkan tumbuh dimana saja, termasuk agama. Bahkan, di dalam agama yang sama sekalipun sangat mungkin muncul aliran yang berbeda.
“Sama agamanya tapi bisa berbeda alirannya. Ada yang mendukung pluralisme tapi ada pula yang cenderung radikal atau fundamentalis,” kata Mark.

Istiqomah Dalam Jihad

Jihad ada 4 tingkatan yaitu :Jihad melawan diri sendiri,Jihad melawan syetan,Jihad melawan orang-orang kafr dan Jihad melawan orang-orang munafik.


Setiap tingkatan saling terkait satu sama lain dan tiap fase harus terlewati secara berurutan agar timbul keistiqomahan dalam diri.

  1. Jihad melawan diri sendiri akan muncul saat,menuntut ilmu,mengamalkan ilmu,mendakwahkan ilmu dan bersabar dalam menghadapi setiap celaan dan makian serta rintangan ketika berdakwah.
  2. Jihad melawan syetan adalah dengan mendustakan segala janji-janjinya dan mendurhakai apa yang diperintahnya serta melanggar apa yang dilarang syetan.
  3. Jihad terhadap orang -orang kafir dengan hati,lisan,anggota badan dan harta.
  4. Jihad terhadap orang munafik dengan lisan saja.Sedang jihad terhadap orang dzalim yang muslim,ahli bid'ah dan ahli maksiat adalah dengan tangan bila mampu,bila tidak mampu maka dengan lisan dan bila tidak mampu lagi ya dengan hati.


Kiat agar bisa sabar dalam jihad tersebut adalah senantiasa yakin bahwa setiap penderitaan yang dialami akan menggugurkan dosa dan mendatangkan pahala.

Andai dosa berwujud maka kita lihat dosa itu berguguran dari tubuh kita.

Andai dosa itu berupa berat,maka akan kita rasakan beban tubuh terasa lebih ringan...

Wallahu a'lam

Senin, 11 Juni 2012

Partisipasi Umat Kristiani di MTQ Nasional

ANTI TERORISME

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkesan karena umat Kristen dan Katolik terlibat penuh mempersiapkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-XXIV.

SBY mengatakan, toleransi umat beragama telah ditunjukkan oleh masyarakat Ambon yang majemuk dari laporan yang diterimanya. “Pelaksanaan MTQ ini adalah hasil gotongroyong seluruh umat beragama, saya bangga dan ini menunjukkan kehidupan antar umat beragama di kota Ambon semakin baik dan semakin harmonis,” ujarnya ketika membuka MTQ Nasional ke-XXIV di Lapangan Merdeka Ambon, Jumat (8/6) malam.

Kerukunan, kebersamaan dan kearifan lokal tambah SBY dari tradisi budaya pela gandong jadi perekat perdamaian masyarakat Ambon. Perdamaian telah menjadi simbol internasional  yang terpancar dari kota Ambon setelah dipancangkan gong perdamaian dunia. SBY dijadwalkan tiba di Ambon Jumat (8/6) siang sekaligus meresmikan patung Pahlawan Nasional Dr.Johanes Leimena di desa Poka Kecamatan Teluk Ambon kota Ambon, namun arena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan mengakibatkan pesawat yang ditumpangi Sby dan rombongan harus mendarat di Makassar dan baru terbang lagi ke Ambon setelag cuaca kembali membaik.

“Saya tetap bertekad ke Ambon walaupun cuaca buruk.  Saya dan rombongan berdoa dan berzikir agar dierikan cuaca yang baik dan pesawat bisa mendarat di Ambon,” ujarnya.

Memperhatikan Umat agama non Muslim mendukung penuh MTQ dirinya mengaku  sangat terharu dan mohon kepada Allah semoga niat baik saudara-saudara di Ambon tanah Maluku mendapatkan ridhonya.

Kota Ambon adalah pusat peradaban dan pusat pertubuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Dengan MTQ kita tingkatkan kualitas kehidupan beragama di Indonesia adalah tema yang tepat untuk mengingatkan kepada kita tentang kualitas kehidupan beragama sekaligus kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita ingin mewujudka kehidupan berbangsa dan bernegara   yang juga ditopang nilai-nilai unversal hikmat sebagaimana nilai-nilai agama lainnya. Nilai sosial solidaritas dan toleransi. Kita ingin memperkokoh nilai-nilai universal itu sebagai landasan dan model semangat toleransi,”  kata SBY.

Di mata dunia, Indonesia mampu menjaga persatuan dan harmoni di tengah keragaman dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Sejalan dengan tema MTQ nasional maka peningkatan berkualitas kehidupan beragama kita menjadi penting. Dengan kualitas kehidupan beragama yang baik kita dapat wujudkan masyarakat yang berakhlak mulia,beretika, berbudaa dan bergama. Kita juga dapat memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui nilai-nilai keagamaan.

Sementara itu Menteri Agama Republik Indonesia (RI) Suryadharma Ali mengatakan, MTQ bukan saja wadah untuk mencari juara tapi juga lebih jauh menjadi wahana pendidikan bagi generasi muda untuk semakin dekat dengan Al-Quran. MTQ adalah kegiatan yang mengandung dakwah sehingga selalu meningkatkan semangat kehilafan dan sportifitas dalam melaksanakannya.

Akar Terorisme di Tubuh Umat


Terorisme seringkali ditudingkan kepada umat Islam. Sebagian orang yang cemburu kepada agamanya mengira bahwa tudingan itu hanya sekedar propaganda barat untuk menjatuhkan harga diri kaum muslimin di mata dunia  internasional. Sehingga mereka senantiasa menuduh barat (baca: Amerika, khususnya Yahudi) sebagai dalang di balik semua peristiwa semacam ini. Sebagian lagi justru sebaliknya, mengira bahwa terorisme -dengan melakukan pengeboman di tempat-tempat umum- merupakan bagian dari jihad fi sabilillah dan tergolong amal salih yang paling utama. Sehingga mereka beranggapan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah sosok mujahid dan mati syahid. Itulah sekilas dua cara pandang yang bertolak belakang mengenai berbagai peristiwa pengeboman yang terjadi di negeri-negeri Islam atau di negeri kafir yang banyak menelan korban warga sipil.


Terlepas dari apa yang mereka sangka, sebenarnya kita bisa melihat dengan kaca mata yang adil dan objektif bahwa di samping adanya makar musuh-musuh Islam dari luar, sebenarnya kita juga menghadapi  musuh-musuh dalam selimut yang berupaya meruntuhkan kekuatan umat dari dalam. Salah satu di antara mereka adalah sekte Khawarij di masa silam dan para penganut pemikiran sekte tersebut di masa kini yang gemar melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan jihad. Mereka menampakkan diri sebagai kaum muslimin yang punya komitmen terhadap agama, berpenampilan seperti layaknya orang-orang salih dan taat, dan bersikap seakan-akan membela ajaran Islam, namun sebenarnya mereka sedang melakukan upaya penghancuran Islam dari dalam, sadar ataupun tidak!

Sejarah Hitam Sekte Khawarij

Tidakkah kita ingat sejarah hitam kaum Khawarij yang diabadikan di dalam kitab-kitab hadits? Sebuah sekte yang diperselisihkan status keislamannya oleh para ulama (yang kuat mereka tidak dikafirkan, lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/390 dan 393]). Mereka adalah sekelompok orang yang memiliki ciri khas pandai membaca al-Qur’an dan menghafalkannya, suka mengusung slogan keadilan dan pembelaan rakyat yang tertindas guna menghalalkan pemberontakan kepada penguasa muslim. Berawal dari kedangkalan berpikir mereka, akhirnya hal itu menyeret mereka ke jurang kebid’ahan yang mengerikan. Mereka bunuhi umat Islam sementara para pegiat kemusyrikan justru mereka biarkan.

Munculnya sosok pengacau yang bengis namun berpenampilan salih seperti itu pernah terjadi di masa hidup Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma. Ketika itu, ada sebagian penduduk Bashrah yang terseret pemahaman Qadariyah -menolak takdir- yang diusung oleh sekelompok orang yang pandai membaca al-Qur’an dan memiliki banyak wawasan keilmuan dengan tokoh mereka Ma’bad al-Juhani, sebagaimana disebutkan di bagian awal kitab al-Iman dalam Shahih Muslim. Yahya bin Ya’mar -sang periwayat hadits ini- mengadukan problematika umat yang terjadi di masyarakatnya kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,

“Wahai Abu Abdirrahman! Sesungguhnya di tengah-tengah kami muncul sekelompok orang yang suka membaca al-Qur’an dan mengumpulkan berbagai jenis ilmu -lalu dia menceritakan sebagian keadaan mereka lainnya- namun mereka menyangka bahwa takdir itu tidak ada dan segala urusan terjadi dengan sendirinya.” (HR. Muslim, lihat Shahih Muslim. Cet. 1427 penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyah, hal.27)

Nah, berikut ini kami nukilkan sebagian hadits yang mengisahkan tentang kekejian manhaj kaum Khawarij dan sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat dalam menghadapi mereka. Agar jelas bagi siapa saja bahwa sikap ulama Ahlus Sunnah as-Salafiyun dalam memerangi Khawarij dan pemikiran mereka bukanlah karena motif menjilat penguasa atau mencari muka di hadapan mereka, namun hal itu mereka lakukan semata-mata demi ‘melanjutkan kehidupan Islam’ sebagaimana yang mereka inginkan, dan tentu saja dengan cara meneladani metode perjuangan generasi terbaik dari umat ini.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menceritakan,

“Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji’ranah -nama tempat- sepulangnya beliau dari -peperangan- Hunain, ketika itu di atas kain Bilal terdapat perak yang diambil sedikit demi sedikit oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibagikan kepada orang-orang. Kemudian lelaki itu mengatakan, ‘Hai Muhammad, berbuat adillah!’. Maka Nabi menjawab, ‘Celaka kamu! Lalu siapa lagi yang mampu berbuat adil jika aku tidak berbuat adil. Sungguh kamu pasti telah celaka dan merugi jika aku tidak berbuat adil.’ Maka Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu berkata, ‘Biarkanlah saya wahai Rasulullah untuk menghabisi orang munafiq ini.’ Maka beliau bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai orang-orang nanti mengatakan bahwa aku telah membunuh para sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya adalah suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka keluar darinya sebagaimana keluarnya anak panah yang menembus  sasaran bidiknya.’” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ungkapan ‘mereka suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggrorokan mereka’ memiliki dua penafsiran. Pertama, dimaknakan bahwa hati mereka tidak memahami isinya dan tidak bisa memetik manfaat darinya selain membaca saja. Kedua, dimaknakan amal dan bacaan mereka tidak bisa diterima oleh Allah (lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/389] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

“Sesungguhnya di belakang orang ini akan muncul suatu kaum yang rajin membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka membunuhi umat Islam dan justru meninggalkan para pemuja berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari sasaran bidiknya. Apabila aku menemui mereka, niscaya aku akan membunuh mereka dengan cara sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

an-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Di dalam hadits ini terkandung dorongan untuk memerangi mereka -yaitu Khawarij- serta menunjukkan keutamaan Ali radhiyallahu’anhu yang telah memerangi mereka.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/391] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Mereka bukanlah orang yang malas beribadah, bahkan mereka adalah sosok yang menakjubkan dalam ketekunan dan kesungguhan beribadah. Namun di sisi yang lain, mereka telah menyimpang dari manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat sehingga membuat mereka layak menerima ancaman dan hukuman yang sangat-sangat berat, yaitu hukum bunuh!

Dalam teks riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ciri mereka,

“Sesungguhnya orang ini -Dzul Khuwaishirah, gembong Khawarij, pent- akan memiliki pengikut-pengikut yang membuat salah seorang di antara kalian meremehkan sholatnya apabila dibandingkan dengan sholat mereka, dan meremehkan puasanya apabila dibandingkan dengan puasa mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

an-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Hadits ini menegaskan wajibnya memerangi Khawarij dan pemberontak negara, dan hal itu merupakan perkara yang telah disepakati oleh segenap ulama.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/397] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Ubaidullah bin Abi Rafi’ radhiyallahu’anhu -salah seorang bekas budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- menceritakan bahwa ketika terjadi pemberontakan kaum Haruriyah (Khawarij) sedangkan saat itu dia bersama pihak Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, mereka -kaum Khawarij- mengatakan, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah.” Maka Ali bin Abi Thalib pun menanggapi ucapan mereka dengan mengatakan, “Itu adalah ucapan yang benar namun dipakai dengan maksud yang batil…” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim)

Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menyatakan tentang betapa buruknya mereka,

“Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu)

Keamanan Adalah Nikmat yang Harus Disyukuri

Ketahuilah saudaraku -semoga Allah membimbing kita berjalan di atas jalan yang lurus- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk membuat keonaran dan kekacauan di masyarakat. Nabi memerintahkan untuk taat kepada penguasa muslim selama bukan dalam hal maksiat dan melarang rakyat memberontak kepada mereka sezalim apapun mereka -selama mereka masih sholat dan tidak melakukan kekafiran yang nyata yang kita memiliki bukti yang sangat jelas atasnya- serta melarang dari tindakan mengobral aib-aib pemerintah di muka umum. Itu semua disyari’atkan demi terpeliharanya sebuah nikmat yang agung yaitu stabilitas keamanan negara dan ketentraman umum.

Keamanan adalah nikmat yang agung dan harus dipelihara, tidakkah kita ingat doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada Rabbnya,

“Ingatlah ketika Ibrahim berdoa, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini aman tentram, dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah patung-patung…’” (Qs. Ibrahim: 35)

Yang dimaksud ‘negeri’ dalam ayat di atas adalah tanah suci Mekah (lihat Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari yang berjudul Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Aayil Qur’an [17/ 17] Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir. Maktabah as-Syamilah)

Doa meminta keamanan ini pun dikisahkan di dalam ayat lainnya, Allah ta’ala berfirman,

“Ingatlah ketika Ibrahim berdoa; ‘Wahai Rabbku jadikanlah negeri ini aman tentram dan curahkanlah rezeki kepada penduduknya dari berbagai jenis buah-buahan, yaitu kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir di antara mereka…’” (Qs. al-Baqarah: 126)

Maka Allah pun kabulkan doa beliau, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekitarnya saling merampok.” (Qs. al-Ankabut: 67)

Ibnu Jarir at-Thabari rahimahullah meriwayatkan dari Mujahid tentang tafsiran surat Ibrahim ayat 35 di atas bahwa beliau mengatakan, “…Allah mengabulkan doa beliau, yaitu dengan menjadikan negeri tersebut (Mekah) aman, mencurahkan rezeki kepada penduduknya dengan berbagai jenis buah-buahan, menjadikan beliau sebagai sosok imam/pemimpin teladan, menjadikan keturunanannya sebagai orang yang mendirikan sholat, dan Allah pun mengabulkan permintaannya…” (Jami’ al-Bayan [17/17] Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir. Maktabah as-Syamilah)

Allah juga memerintahkan untuk mensyukuri nikmat keamanan dengan beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah ta’ala berfirman,

“Maka hendaknya mereka beribadah kepada Rabb pemilik rumah/Ka’bah ini, yaitu yang telah memberikan makanan kepada mereka sehingga terbebas dari kelaparan, dan memberikan keamanan kepada mereka sehingga terlepas dari cekaman ketakutan.” (Qs. Quraisy: 3-4)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah mengaruniakan kepada mereka keamanan dan murahnya segala sesuatu diperoleh di sana, maka semestinya mereka mengesakan-Nya semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam beribadah dan tidak justru menyembah kepada selain-Nya, entah itu berujud patung, sesembahan tandingan, ataupun berhala dalam bentuk apa saja.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/593] cet. 1417 Penerbit Dar al-Fikr)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Rezeki yang melimpah ruah dan rasa aman dari cekaman ketakutan termasuk nikmat keduniaan yang paling besar, yang sudah semestinya melahirkan sikap dan perilaku bersyukur kepada Allah ta’ala.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1305] cet 1418 penerbit Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)

Maka ayat yang mulia di atas mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat keamanan, sedangkan bentuk syukur yang paling agung -bahkan yang menjadi pokoknya- adalah dengan mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah. Termasuk dalam realisasi rasa syukur ini adalah dengan memelihara keamanan dan tidak merusaknya dengan berbagai bentuk teror dan kekacauan.

Oleh karena itulah, dakwah tauhid yang diserukan oleh para ulama Ahlus Sunnah di sepanjang jaman senantiasa memperhatikan hal ini yaitu terjaganya keamanan dan ketentraman umum serta keselamatan umat dari kekacauan politik dan sosial serta menyingkirkan ambisi-ambisi pribadi atau golongan yang ingin meraih tampuk kekuasaan -walaupun dengan tujuan memberantas kemungkaran-. Sebab dengan  stabilitas keamanan itulah akan muncul manfaat yang meluas bagi masyarakat secara umum dan umat Islam pada khususnya, dan Ahlus Sunnah terlebih khusus lagi.

Tidakkah anda ingat kisah kesabaran Imam Ahmad bin Hanbal -salah seorang imam Ahlus Sunnah- semoga Allah merahmatinya? Beliau rela disiksa dan menahan kejamnya hukuman penguasa yang zalim. Beliau tidak mengajak ribuan pengikutnya untuk berdemonstrasi serta memberontak kepada penguasa tatkala itu, padahal beliau berada di pihak yang benar. Karena tekanan itu pula, beliau terpaksa mendekam di dalam penjara selama tiga masa pemerintahan. Ingatlah juga, kesabaran para sahabat ketika menghadapi kekejaman al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Kenapa penderitaan yang sedemikian berat itu rela mereka tanggung? Hal itu tidak lain dikarenakan mereka menyadari dengan sepenuhnya bahwa maslahat yang didapatkan dengan tidak memberontak dan tetap berada di bawah satu kepimpinan yang sah dan diakui merupakan salah satu sebab utama keamanan dan stabilitas negara.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dan Amirul Mukminin yang baik maupun yang fajir dan siapa pun yang menduduki tampuk khilafah, yang umat manusia telah bersatu di bawah kekuasaannya dan ridha kepadanya. Demikian juga terhadap orang yang berhasil menggulingkan kekuasaan mereka dengan pedang/senjata sehingga merebut posisi khalifah dan dijuluki sebagai Amirul Mukminin.” (Ushul as-Sunnah yang dicetak bersama Syarah Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafzihahullah, hal. 51 Penerbit Dar al-Minhaj cet. 1428 H)

Salamah bin Yazid al-Ju’fi radhiyallahu’anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Nabi Allah! Bagaimana pendapat anda jika ada pemimpin-pemimpin yang menguasai kami yang meminta agar hak-hak mereka dipenuhi namun mereka menghalangi kami dari mendapatkan hak-hak kami, maka apakah yang anda perintahkan kepada kami di saat seperti itu?” Maka beliau pun berpaling darinya. Lalu dia pun bertanya kembali kepada beliau dan beliau pun berpaling darinya. Lalu dia bertanya untuk kedua atau ketiga kalinya maka al-Asy’ats bin Qais radhiyallahu’anhu pun menariknya seraya mengatakan (ketika itu Nabi hadir dan tidak mengingkari ucapannya, pent),

“Tetaplah kamu mendengar dan taat. Sesungguhnya dosa yang mereka lakukan itu adalah tanggungan mereka, dan wajib bagi kalian menunaikan apa yang dibebankan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan bahwa akan muncul sesudah beliau wafat para pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk dan Sunnah beliau. Di antara mereka terdapat orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan yang menjelma di dalam tubuh manusia. Mendengar hal itu Huzdaifah pun bertanya, “Apa yang harus saya lakukan wahai Rasulullah, jika saya menemui hal itu?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya- bersabda,

“Tetaplah kamu mendengar dan patuh kepada pemimpin, meskipun punggungmu harus dipukuli dan hartamu diambil. Kamu harus bersikap mendengar dan patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi bersabda,
“Sesungguhnya akan menguasai kalian pemimpin-pemimpin yang kalian kenali kekeliruan mereka dan kalian pun mengingkarinya. Barang siapa yang membenci hal itu sungguh dia telah berlepas diri darinya. Dan barang siapa yang mengingkari sungguh telah selamat. Akan tetapi yang salah ialah apabila orang justru meridhai dan setia mengikuti kekeliruannya.” Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami perangi saja mereka itu?” Maka beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih melaksanakan sholat.” Arti ungkapan di atas adalah, “Barang siapa yang membenci dengan hatinya dan mengingkari dengan hatinya.” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak mampu menghilangkan kemungkaran maka dia tidak berdosa semata-mata karena dia bersikap diam. Akan tetapi dia menjadi berdosa apabila dia meridhainya, tidak mau membencinya dengan hati, atau justru dengan setia mengikutinya.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [6/485] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Camkanlah hadits-hadits di atas baik-baik, wahai para pemuda!
Pikirkanlah masak-masak dampak yang akan muncul di esok hari sebagai akibat dari tindakan kita…

Jumat, 08 Juni 2012

Bom rakitan meledak, satu rumah di Langkat rusak



Rumah milik Selamat Menyan, warga Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, rusak setelah salah satu dari delapan bom rakitan yang ditemukan meledak di rumahnya. Tidak ada korban dalam peristiwa itu.

"Bom yang meledak itu di kediaman Selamat Menyan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut," kata Wakapolres Langkat, Komisaris Polisi Sofyan Khayat, seperti dilansir Antara, Kamis (7/6/12). 

Usai mendapat laporan adanya ledakan bom, tim Gegana Brimob Polda Sumatera Utara langsung menuju lokasi. Tujuh bom rakitan akhirnya berhasil dijinakkan petugas. Diduga bom tersebut merupakan bom ikan yang sering digunakan secara ilegal oleh nelayan.

"Bom tersebut sudah dijinakkan oleh tim Gegana Brimob Polda Sumatera Utara," lanjutnya.

Hingga kini, polisi masih mengawasi dan berjaga-jaga di lokasi terjadinya ledakan bom rakitan tersebut. Dan sebagian lainnya melakukan penyisiran disekitar rumah warga.

Kamis, 07 Juni 2012

Google Peringatkan Akun Gmail Diserang Hacker


(CALIFORNIA) - Pengguna Gmail diminta waspada masuknya virus melalui akun email mereka. Peringatan tersebut disampaikan Google terkait kecurigaan adanya hacker yang diduga disponsori negara tertentu untuk menyebarkan virus.
Perusahaan berbasis di California itu mengungkapkan, sistem peringatan baru Selasa (5/6) memberikan informasi kepada para pengguna Gmail terkait ancaman tersebut. Seperti dilansir VOA, Google mendeteksi banyak pengguna Gmail yang berbasis di Tiongkok melaporkan menerima peringatan itu dalam bentuk pesan yang menonjol di atas akun email mereka.

Peringatan serupa juga dikabarkan muncul pada akun pengguna Gmail di Amerika dan Jepang. Dijelaskan, meski munculnya peringatan itu tidak selalu berarti akun tersebut telah dibajak, tetapi hal itu menunjukkan kemungkinan akun tersebut telah dijadikan sasaran serangan.

Raksasa mesin pencarian itu menganjurkan para pemilik akun Gmail untuk menciptakan password yang kuat dan memastikan keamanan akun mereka. Juga antisipasi keamanan lainnya untuk pencegahan.

Tidak disebutkan secara jelas bagaimana dugaan serangan itu disponsori pemerintah atau kelompok yang disponsori negara. Namun, banyak analis teknologi berpendapat kemungkinan ini merupakan babak baru dalam sengketa Google dan Tiongkok yang sudah berlangsung sejak lama.

Rabu, 06 Juni 2012

Pengakuan Mantan wahabi sesat LDII (Islam Jamaah)


Majelis Intelektual Dan Ulama Muda (MIUMI) menerima kunjungan dari mantan anggota Islam Jamaah. Islam Jamaah adalah organisasi yang kini ditengarai berganti nama menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).
Keempat orang tersebut adalah H. Durahim Darmo (Mantan Wakil Imam Daerah Islam Jamaah untuk daerah Jakarta Selatan), Adam Amrullah (Mantan Ketua Pemuda Islam Jamaah Wilayah Jakarta Timur), Mauludin Akhyar (Mantan Wakil Ketua) lalu Muhammad Imam Nasa’I salah satu mantan Mubaligh LDII.


Kehadiran keempat orang di kantor MIUMI di, Jalan Tebet Timur Dalam VIII No. 44. Jakarta Selatan selain bertujuan untuk bersilahturahim juga untuk melaporkan fakta-fakta ajaran yang dikembangkan oleh Islam Jamaah dengan payung organisasinya LDII.
Adam Amrullah menjelaskan bahwa di dalam kajian LDII itu tidak ada sekalipun selama 32 tahun dia aktif diajarkan mengenai Ketauhidan.


“Sejujurnya saya baru memahami tauhid itu setelah saya keluar dari LDII. Selama saya di LDII saya hanya diajarkan untuk berbai’at kepada Imam LDII dan mendapat jaminan masuk surga dan orang selain LDII adalah adalah kafir dan sesat,” jelasnya.


Adam Amrullah menjelaskan di dalam LDII ada yang namanya konsep Bithonah.
Konsep Bithonah ini istilah yang sama dengan konsep Taqiyah di Syiah. Fungsinya adalah menghalalkan berdusta, berbohong untuk kepentingan dakwah LDII.


“Jadi kalau ditanya oleh orang luar LDII apakah mereka mengkafirkan orang di luar jamaahnya mereka akan berkata tidak. Apapun untuk menjaga kepentingan LDII mereka dibolehkan berbohong, walaupun ke orang tua mereka sendiri. Begitupun ketika LDII mengatakan ke ketua MUI bahwa LDII sudah berubah itu semua bagian dari strategi Bithonah. Kenyataannya sampai hari ini mereka tetap sama tidak ada yang berubah,” jelasnya.


Ada tiga prinsip dalam berkomunikasi dengan masyarakat di luar LDII yang dijelaskan Adam Amrullah kepada hidayatullah.com.
Pertama, mereka dituntut untuk fathonah yaitu cerdas dalam membaca situasi ketika menyampaikan hal hal terkait LDII.
Bithonah adalah membolehkan berbohong ketika terdapat ancaman dalam kepentingan LDII. Yang ketiga adalah Budi Luhur yaitu anggota LDII dituntut untuk menunjukkan perilaku baik, lemah lembut dan ramah untuk merebut simpati masyarakat.
Mauludin Akhyar mantan wakil ketua Islam Jamaah ini menjelaskan bahwa anggota LDII sampai sekarang tidak boleh menjadi makmum sholat dengan orang di luar jamaahnya. Ini karena ajaran LDII yang memang mengkafirkan orang diluar jamaahnya.


“Jadi kalau sampai terpaksa makmum dengan orang lain. Biasanya diulang lagi dirumah. Kalaupun tidak diulang, niat seorang LDII sholat berjamaah dengan orang diluarnya tetap dengan niat munfarid. Walaupun jasadnya, hati kecil mereka tidak mengakui imam sholat dan mereka tetap meniatkan sholat sendiri. Dan ini bagian dari ijtihan imam LDII” jelasnya.
Muhammad Imam Nasa’I juga menjelaskan bahwa di LDII ada yang namanya pengakuan dosa. Jadi perbuatan dosa di LDII bisa ditebus dengan membayarkan sejumlah uang sesuai aturan yang sudah ditetapkan oleh pengurus pusat  LDII di Kediri.


“Tradisinya itu disetiap menjelang Ramadhan, mereka mengumpulkan surat taubat. Jadi kesalahan kesalahan dosa itu seperti permainan. Dari surat taubat itu maka seorang anggota LDII bisa menebus dosanya dengan membayar sejumlah uang ke pengurus pusat sesuai yang sudah ditentukan, dengan ini maka dosanya hilang” jelasnya
Seperti yang dijelaskan oleh Muhammad Imam Nasa’i ke Hidayatullah.com. Beberapa biaya penebusan itu sendiri antara lain mulai dari dosa masturbasi penebusan dosanya Rp.180.000 sedangkan untuk dosa perzinahan Rp.180.000 dikali enam.


LDII sendiri membolehkan jamaahnya untuk mencuri dari orang – orang diluar jamaahnya. Setiap bulan setiap anggota diwajibkan untuk menyetor 10 persen dari pendapatannya kepada Pemimpin Islam Jamaah. Bahkan dalam ajaran mereka, Pemimpin Islam Jamaah atau LDII bisa memberikan syafaat untuk masuk surga diakhirat nanti. 

Membendung Terorisme dengan Deradikalisasi


Terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis, ekstrem, dan merasa tidak mendapat perlakuan yang berkeadilan.Gembong teroris nomor wahid di Indonesia, Noor Din M. Top dan Dr Azahari, sudah tewas. Namun, tak ada jaminan terorisme telah raib. Menurut beberapa kajian,terorisme bukan semata-mata menyangkut si pelaku, melainkan berkaitan dengan keyakinan. Dan, ibarat tanaman, terorisme bisa patah tumbuh hilang berganti.

Dalam bukunya,Terorisme. Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, (Jenderal) Abdullah Mahmud Hendropriyono menulis terorisme sebagai ancaman abadi terhadap keamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Ia menyarankan pentingnya melakukan kajian filsafat untuk menyusun metode, strategi, teknik, dan taktik operasional dalam menumpas terorisme.Buku setebal hampir 500 halaman itu adalah kajian ilmiah Hendropriyono untuk meraih gelar doktor di bidang ilmu filsafat, yang dipertahankan pada 25 Juli lalu dihadapan tim penguji Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Menurut Hendro, terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis atau ekstrem sebagai fenomena global.

Terorisme juga bisa tumbuh di kalangan semua penganut agama. Tak hanya dikalangan penganut Islam, tapi juga penganut Kristen dan Yahudi. Fundamentalisme Kristen tumbuh di Amerika Serikat sejak abad ke-19, dan terus berkembang hingga kini. Pada era pemerintah Presiden George W. Bush, mereka merupakan pendukung utama neo-imperialis. Mereka menganggap kapitalisme modern merusak agama, jadi harus dilawan dan dikembalikan pada ajaran Tuhan. 

Sementara itu, lahirnya fundamentalisme Yahudi berkaitan erat dengan konstelasi geopolitik ditandai dengan lahirnya Gerakan Zionis. Mereka meyakini bahwa Palestina adalah "tanah berkah" yang ditakdirkan bagi anak-anak Tuhan, yaitu bangsaYahudi. Maka muncullah kemudian negara Israel pada 1948, yang ditentang oleh bangsa Palestina, yang sebelumnya sudah lama menghuni "tanah yang dijanjikan" itu.

Adapun fundamentalisme Islam yang sangat dirasakan akhir-akhir ini justru terjebak dalam perangkap terorisme yang mengatasnamakan jihad. Sementara itu, dalam praktek, jihad sebagai ajaran agama yang suci menjelma menjadi perilaku kekerasan yang dibungkus dengan teror.

Selasa, 05 Juni 2012

PERNYATAAN DIREKTUR PENCEGAHAN DALAM PENUTUPAN SIMULASI PELATIHAN PENANGGULANGAN TERORISME UNTUK MANAJER SATPAM TERKAIT


Mitra strategis BNPT adalah Manajer Satuan Pengamanan karena satuan pengamanan adalah ujung tombak dari suatu kegiatan pecegahan terorisme bersama-sama dengan masyarakat, ujar Dir I Bid Pencegahan Brigjen Polisi Drs Esa Permadi.

Satuan Pengamanan merupakan garis depan dalam mencegah suatu kejadian-kejadian, apabila terjadi hal yang tidak diinginkan maka satuan pengamanan sudah mengerti apa yang harus dilakukan untuk mengatasi dan berkoordinasi dengan badan atau satuan yang terkait, dalam mengurangi kerugian materil mau pun personil.

PENUTUPAN SIMULASI PELATIHAN MANAJER SATPAM TERHADAP PENANGGULANGAN TERORISME


      Salah Satu Program BNPT Adalah Melakukan Pelatihan2 Terhadap Satpam Agar Bisa Mengetahui Spesifikasi Aksi Terorisme.

"Pencegahan Terorisma Adalah Tanggung Jawab Seluruh Masyarakat, Aksi Terorisme Dari Awal Kita Harus Cegah, Kalau Pun Tidak Bisa Di Cegah Bisa Meminimalisir Kerugian Baik Materi Maupun Personil" Kata Deputi I Bnpt Bidang Pencegahan. 

Dalam Melakukan Pencegahan Harus Bersama-Sama Seluruh Elemen Masyarakat, Kita Berharap Di Negara Kita Ini Tidak Ada Lagi Aksi-Aksi Terorisme Kata Deputi I. Sehingga Masyarakat tidak khawatir mengunjungi tempt-tempat keramaian seperti Mall, Hotel, Bandara Dll.



Senin, 04 Juni 2012

Teroris Bukan Mujahid dan Bukan Pula Mujtahid!


Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Di hari-hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan seenaknya mereka melakukan tindak pengeboman, penghancuran, serta berupaya untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum muslimin dengan kedok jihad dan ijtihad. Padahal Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.
Alangkah cocok sebuah bait syair yang menggambarkan keadaan orang-orang seperti mereka,
Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila
Namun, malang. Ternyata Laila tidak mengiyakan omongan mereka
Begitulah kurang lebih keadaan mereka. Dengan tanpa malu-malu, mereka mengaku sebagai barisan mujahidin dan menobatkan diri sebagai mujtahid. Bagaimana mungkin orang yang gemar menebar kekacauan dan kerusakan di atas muka bumi dengan membunuh nyawa tanpa hak layak untuk disebut sebagai mujahid, apalagi dinobatkan sebagai mujtahid? Allahul musta’an! Di manakah akal mereka?
Orang-orang yang salah sangka
Saudaraku sekalian, marilah kita renungkan barang sejenak fenomena yang menyayat hati ini. Para pemuda yang jahil/tidak mengerti syari’at Islam dengan mudahnya ditipu oleh mujahid dan mujtahid gadungan. Sehingga akhirnya nyawa mereka sendiri pun mereka relakan -dengan aksi bom bunuh diri- untuk memperjuangkan apa yang mereka kira sebagai sebuah jihad dan pengorbanan untuk agama. Aduhai, alangkah malang nasib mereka. Tidakkah mereka ingat akan sebuah firman Allah yang menceritakan keadaan orang-orang seperti mereka, yang bersusah payah melakukan suatu usaha dan menyangka telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi agamanya. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang paling merugi amalnya. Allah ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.” (Qs. al-Kahfi: 103-104)
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib, ad-Dhahhak dan para ulama lainnya bahwa golongan yang termasuk dalam cakupan ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun ayat ini juga mencakup celaan bagi Yahudi dan Nasrani. Sehingga Ibnu Katsir menyimpulkan, “Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan amalnya tertolak.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [5/151-152])
Haram bicara agama tanpa ilmu!
Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan Islam ini akan ternoda tatkala orang yang bukan ahlinya berbicara tentang sesuatu yang menyangkut ajaran agama. Tidakkah kita ingat firman Allah ta’ala,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Qs. al-Isra’: 36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah)
Ruwaibidhah bukanlah mujtahid. Mujtahid berbicara dengan ilmu, sedangkan Ruwaibidhah berbicara dan berfatwa dengan kejahilan/kebodohan mereka. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
“Apabila seorang hakim hendak memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian benar maka dia memperoleh dua pahala. Adapun apabila dia akan memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian tersalah maka dia akan memperoleh satu pahala.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-I’tisham bil Kitab wa Sunnah dari Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu)
al-Hafizh Ibnu Hajar menukil keterangan dari Ibnul Mundzir, beliau mengatakan, “Seorang hakim yang tersalah itu mendapat pahala sesungguhnya hanyalah apabila dia adalah seorang alim/yang berilmu tentang ijtihad kemudian dia pun berijtihad. Adapun apabila dia bukanlah seorang yang alim/berilmu maka dia tidak mendapatkan pahala.” Bahkan apabila dia nekad memutuskan dan mengeluarkan fatwa tanpa ilmu maka dia berdosa, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebelum menukil ucapan Ibnul Mundzir di atas. Beliau juga menukil keterangan dari al-Khatthabi bahwa seorang yang berijtihad akan diberi pahala jika dirinya memang telah memiliki alat-alat/ilmu untuk berijtihad. Orang seperti itulah yang apabila tersalah masih bisa diberi toleransi (lihat Fath al-Bari [13/364])
Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani mengatakan, “Ijtihad tidak boleh dilakukan kecuali oleh seorang yang faqih/ahli hukum agama yang mengetahui dalil-dalil dan tata cara menarik kesimpulan hukum darinya, sebab melakukan penelitian terhadap dalil-dalil tidak mungkin dilakukan -dengan benar- kecuali oleh orang yang memang ahli di dalam bidangnya.” (Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 470).
Terlebih lagi, untuk berijtihad ada syarat-syaratnya yang tidak sembarang orang bisa memenuhinya. Di antaranya adalah: [1] Memahami seluk beluk sumber hukum yaitu al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’, Qiyas, dsb. [2] Memahami bahasa Arab [3] Mengetahui maksud dari ungkapan umum dan khusus dalam bahasa Arab, muthlaq dan muqayyad. Bisa membedakan antara nash, zhahir, dan mu’awwal. Mujmal dan mubayyan. Manthuq dan mafhum, dsb [4] Dia harus mengerahkan segenap kemampuannya dalam mengambil kesimpulan hukum, tidak boleh setengah-setengah. Itu adalah sebagian syarat yang terkait dengan orangnya. Masih ada lagi syarat lain yang terkait dengan perkara yang menjadi objek ijtihad, di antaranya: bukan dalam perkara yang sudah ada dalil tegasnya, dalil yang ada dalam perkara tersebut memang masih membuka ruang -tidak dipaksakan- yang memungkinkan adanya perbedaan penafsiran, dsb (lebih lengkap baca di Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 479-484).
Berbuat dosa kok mengharap pahala?
Di manakah letak ilmu pada diri orang yang melakukan bom bunuh diri dan menyuruh orang lain untuk bunuh diri? Padahal Allah ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (Qs. an-Nisaa’: 29)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu alat/senjata maka dia akan disiksa dengannya kelak pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)
Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang nekad melakukan bom bunuh diri dengan alasan untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hanya saja kami katakan, orang-orang itu yang kami dengar melakukan tindakan tersebut, kami berharap mereka tidak disiksa seperti itu sebab mereka adalah orang-orang yang jahil/bodoh dan melakukan penafsiran yang keliru. Akan tetapi, tetap saja mereka tidak memperoleh pahala, dan mereka bukan orang-orang yang syahid dikarenakan mereka telah melakukan sesuatu yang tidak diijinkan oleh Allah, akan tetapi mereka telah melakukan apa yang dilarang oleh-Nya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, dinukil dari al-Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu Utsaimin, hal. 109)
Di manakah letak ilmu pada diri orang yang membunuh nyawa orang kafir tanpa hak? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
“Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian -dengan kaum muslimin atau pemerintahnya- maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jizyah dan Kitab ad-Diyat dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, lafaz ini ada di dalam Kitab al-Jizyah)
al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya untuk menegaskan bahwa perbuatan itu -membunuh kafir mu’ahad- termasuk kategori dosa besar. Meskipun seorang muslim tidak mesti dihukum bunuh sebagai akibat dari kejahatan itu (Faidh al-Qadir [6/251] as-Syamilah).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حتَّى يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلاَّ الله، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللهِ، ويُقيموا الصَّلاةَ ، ويُؤْتُوا الزَّكاةَ ، فإذا فَعَلوا ذلكَ ، عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهُم وأَموالَهُم، إلاَّ بِحَقِّ الإسلامِ ، وحِسَابُهُم على اللهِ تَعالَى
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan alasan haq menurut Islam, dan hisab mereka terserah pada Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah menerangkan bahwa di dalam kata-kata “apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku” terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya boleh ditumpahkan. Dan orang yang dimaksud di dalam hadits ini adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang sedang terlibat peperangan dengan pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya jika anda mengambil harta seorang kafir harbi maka tidak ada hukuman bagi anda. Adapun orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir dzimmi -ketiganya bukan kafir harbi,pen- maka mereka semua tidak boleh diperangi (lihat Syarah Arba’in, hal. 63)
Berjihadlah!
Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang mujahid sejati adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah -termasuk di dalamnya memerangi orang kafir dengan cara yang benar-, bukan dengan melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu’anhu dinilai sahih oleh al-Albani dalam as-Shahihah [549] as-Syamilah)
Tanyakanlah kepada dirimu: Bukankah Nabi melarang membunuh orang kafir tanpa hak? Bukankah kita wajib taat kepada beliau? Bukankah ketaatan kepada Nabi itu pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah? Lalu dengan alasan apa kita menghalalkan darah yang diharamkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ditumpahkan? Apakah kita merasa berada di atas agama yang lebih baik dan lebih hebat daripada agama yang diajarkan oleh Rasulullah? Jawablah wahai orang-orang yang masih memiliki akal dan hati nurani!
Sejak kapan membunuh orang kafir tanpa hak disebut jihad? Sejak kapan meledakkan gedung-gedung umum yang menimbulkan jatuhnya korban tanpa pandang bulu disebut sebagai jihad? Tanyakanlah kepada mereka yang sok menjadi mujtahid dan membolehkan ‘jihad’ ala teroris semacam itu: ijtihad ulama manakah yang membolehkan seorang muslim membunuh dirinya dan meledakkan bangunan umum yang berakibat melayangnya nyawa-nyawa tak bersalah? Atau barangkali yang mereka sebut sebagai ulama mujtahid itu memang bukan ulama alias Ruwaibidhah? Waspadalah -wahai para pemuda- dari tipu daya, silat lidah, dan penampilan mereka!
Ingatlah, sesungguhnya jihad yang diridhai Allah adalah jihad di jalan-Nya yang lurus, bukan di jalan yang menyimpang. Allah ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik/ihsan.” (Qs. al-’Ankabut: 69)
al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata tentang tafsiran ayat ini, “Yaitu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Kami niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan untuk meraih pahala dari Kami.” (Ma’alim at-Tanzil [6/256] as-Syamilah)
Maka marilah kita berjihad di atas ketaatan, bukan di atas kedurhakaan!
Hati-hatilah dari al-Qa’adiyah masa kini!
al-Qa’adiyah merupakan salah saktu sekte Khawarij yang memiliki ideologi Khawarij, hanya saja mereka tidak memilih sikap memberontak. Meskipun demikian, mereka menganggap pemberontakan sebagai perkara yang baik, tidak boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata lain -dalam bahasa sekarang- mereka menilai bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan kekacauan dan mengancam penguasa; bom bunuh diri dan semisalnya- bukan perkara yang salah, alias hasil ijtihad yang harus dihargai dan layak untuk diberi pahala [?!] Sampai-sampai salah seorang tokoh mereka di negeri ini berkata, “Menurut saya mereka adalah mujahid. Dan apa yang mereka lakukan itu merupakan hasil ijtihad mereka. Walaupun saya tidak sependapat dengan -hasil ijtihad- mereka.” Inilah ucapan gembongnya Khawarij di negeri ini!
Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin Hitthan -salah seorang perawi hadits yang terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata, “al-Qa’adiyah adalah salah satu sekte dari kelompok Khawarij. Mereka berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka tidak ikut melakukan pemberontakan. Akan tetapi mereka menghias-hiasi/menilai baik perbuatan itu.” (Hadyu as-Sari, hal. 577). Sebelumnya, Ibnu Hajar juga menukil ucapan Abul Abbas al-Mubarrid, “Imran bin Hitthan adalah gembong kelompok al-Qa’adiyah dari aliran Shafariyah. Dia adalah khathib/orator dan penya’ir di kalangan mereka.” (Hadyu as-Sari, hal. 577). Imran bin Hitthan inilah yang meratapi kematian Abdurrahman bin Muljam -sang pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu- dengan untaian bait-bait sya’irnya yang heroik. Dikisahkan bahwa pada akhir hidupnya dia kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan paham Khawarij, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Zakariya al-Mushili di dalam Tarikh al-Mushil (lihat Hadyu as-Sari, hal. 577,578, lihat juga Tahdzib at-Tahdzib [8/128] as-Syamilah)
Ibnu Hajar mengatakan,
والقَعَدية الذين يُزَيِّنون الخروجَ على الأئمة ولا يباشِرون ذلك
“al-Qa’adiyah adalah orang-orang yang menghias-hiasi perbuatan pemberontakan kepada para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak ikut terjun langsung dalam tindakan tersebut.” (Hadyu as-Sari, hal. 614 cet Dar al-Hadits)
as-Syahrastani mengatakan,
كل من خرج على الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يُسمى خارجياً سواء كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة الراشدين أو كان بعدهم على التابعين بإحسان والأئمة في كل زمان
“Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah yang disepakati oleh rakyat sebagai pemimpin mereka maka dia disebut sebagai Khariji (kata tunggal dari Khawarij). Sama saja apakah dia melakukan pemberontakan itu di masa sahabat masih hidup kepada para pemimpin yang lurus atau setelah masa mereka yaitu kepada para tabi’in yang senantiasa mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta para pemimpin umat di sepanjang masa.” (al-Milal wa an-Nihal [1/28] as-Syamilah)
Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang saat ini -terutama di kalangan sebagian pemuda Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu- adalah pendapat yang membolehkan -tidak harus- untuk memberontak kepada pemimpin muslim yang zalim (lihat mukadimah kitab al-Khawarij wal Fikru al-Mutajjaddid karya Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al-Ubaikan, hal. 6). Sebagaimana pula keterangan semacam ini pernah kami dengar dari perkataan Syaikh Abdul Malik Ramadhani dalam sebuah rekaman video ceramah beliau ketika memberikan pelajaran kitab asy-Syari’ah karya Imam al-Ajurri.
Inilah sekelumit nasihat dan pelajaran bagi kita semua. Semoga masih ada telinga yang mau mendengar dan hati yang masih mau menerima kebenaran. Sebagian sumber tulisan ini kami ketahui dari buku Madarik an-Nazhar fi as-Siyasah karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani, serta buku Mereka adalah Teroris susunan Ust. Luqman Ba’abduh, semoga Allah menerima amal kita dan mereka, serta mengampuni dosa kita dan mereka.
Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan karuniakanlah kepada kami ketaatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah, dan karuniakanlah kepada kami keteguhan sikap untuk menjauhinya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

By Muslim.Or.Id