KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Rabu, 06 Juni 2012

Membendung Terorisme dengan Deradikalisasi


Terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis, ekstrem, dan merasa tidak mendapat perlakuan yang berkeadilan.Gembong teroris nomor wahid di Indonesia, Noor Din M. Top dan Dr Azahari, sudah tewas. Namun, tak ada jaminan terorisme telah raib. Menurut beberapa kajian,terorisme bukan semata-mata menyangkut si pelaku, melainkan berkaitan dengan keyakinan. Dan, ibarat tanaman, terorisme bisa patah tumbuh hilang berganti.

Dalam bukunya,Terorisme. Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, (Jenderal) Abdullah Mahmud Hendropriyono menulis terorisme sebagai ancaman abadi terhadap keamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Ia menyarankan pentingnya melakukan kajian filsafat untuk menyusun metode, strategi, teknik, dan taktik operasional dalam menumpas terorisme.Buku setebal hampir 500 halaman itu adalah kajian ilmiah Hendropriyono untuk meraih gelar doktor di bidang ilmu filsafat, yang dipertahankan pada 25 Juli lalu dihadapan tim penguji Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Menurut Hendro, terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis atau ekstrem sebagai fenomena global.

Terorisme juga bisa tumbuh di kalangan semua penganut agama. Tak hanya dikalangan penganut Islam, tapi juga penganut Kristen dan Yahudi. Fundamentalisme Kristen tumbuh di Amerika Serikat sejak abad ke-19, dan terus berkembang hingga kini. Pada era pemerintah Presiden George W. Bush, mereka merupakan pendukung utama neo-imperialis. Mereka menganggap kapitalisme modern merusak agama, jadi harus dilawan dan dikembalikan pada ajaran Tuhan. 

Sementara itu, lahirnya fundamentalisme Yahudi berkaitan erat dengan konstelasi geopolitik ditandai dengan lahirnya Gerakan Zionis. Mereka meyakini bahwa Palestina adalah "tanah berkah" yang ditakdirkan bagi anak-anak Tuhan, yaitu bangsaYahudi. Maka muncullah kemudian negara Israel pada 1948, yang ditentang oleh bangsa Palestina, yang sebelumnya sudah lama menghuni "tanah yang dijanjikan" itu.

Adapun fundamentalisme Islam yang sangat dirasakan akhir-akhir ini justru terjebak dalam perangkap terorisme yang mengatasnamakan jihad. Sementara itu, dalam praktek, jihad sebagai ajaran agama yang suci menjelma menjadi perilaku kekerasan yang dibungkus dengan teror.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar