KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Minggu, 02 September 2012

Ponpes Ngruki Solo terduga Jaringan Teroris

JAKARTA-Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Inspektur Jenderal (Purn.) Ansyaad Mbai, mengatakan pondok pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo, Jawa Tengah, diduga kuat berada di belakang serangkaian aksi terorisme di Paris dan Toulouse, Prancis, Maret lalu.
           
Seperti yang dikutip dari situs harian The Jakarta Post, Senin, 27 Agustus 2012, Ansyaad Mbai menungkapkan, Kepolisian Prancis telah menyampaikan informasi kepada pihak Indonesia bahwa tiga warga negara Prancis, termasuk buronan militan Frederic C. Jean Salvi, berencana mengungsi sementara di Pondok Pesantren Ngruki, setelah serangan teror itu dilancarkan.

Salvi, kata Ansyaad, telah menghabiskan waktu beberapa tahun mempelajari Islam dengan kalangan militant di Indonesia. Kawasan Ponpes Ngruki saat ini diawasi dengan ketat dan aparat keamanan di Indonesia terus menjaga kontak dengan rekan-rekan mereka di Prancis.

”Kami sedang menyelidiki bagaimana tiga orang warga negara Prancis itu dapat berhubungan dengan pihak Ngruki serta apa maksud dan tujuan kedatangan mereka ke Indonesia," kata Ansyaad.

Salah satu alumni Pondok Pesanteren Al Mukmin Ngruki, Noor Huda Ismail, kepada The Atjeh Post, menilai, pada prinsipnya kedatangan orang asing di Ngruki bisa saja terjadi, karena sejak lama Ngruki sering didatangi tamu-tamu asing.

“Mungkin saja karena di Ngruki itu ada banyak santri yang datang dari mana-mana, dulu ada dari australia dan lain-lain. Tetapi ‘kan itu harus bisa dibuktikan oleh analisis-nya,” kata penulis buku ‘Temanku, Teroris?’ itu.

Adapun peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Utara, Al Chaidar, mengatakan Ngruki sampai saat ini masih menjadi “center of excellence” (pusat perhatian) dan memberikan pengaruh pada banyak pihak, termasuk Prancis.

“Ngruki akan tetap menarik perhatian berbagai kalangan, terutama yang radikal-radikal itu. Kita tahu dari dulu, sejak 1992, mereka sudah memiliki jaringan internasional yang diakui, yang melalukan pengeboman di Madrid (Spanyol) dan bom toulouse (Perancis). Bahkan, juga di Rusia," katanya.

Ia menambahkan, pada 1992, Chalid Al Nizar ke Indonesia, termasuk ke Aceh, mereka lalu ke Ngruki dan ini yang menunjukkan jaringan Ngruki itu mencakup internasional. Menurut Chaidar, Kepala BNPT Ansyaad Mbai sudah mengetahui sejak dulu, tetapi baru menyampaikannnya sekarang, karena sebelumnya belum menemukan bukti-bukti yang kuat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar