KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Selasa, 02 Oktober 2012

Mantan Terpidana Kasus Terorisme Suarakan Stop Kekerasan


Sejumlah mantan terpidana kasus kekerasan berbasis ideologi menyatakan tekad untuk menghentikan kasus-kasus kekerasan atas dasar agama. Karena kenyataannya, model gerakan jihad di Tanah Air lebih banyak menimbulkan korban.

“Saatnya mengubah model jihad dengan menghindari kekerasan,” ujar Ali Fauzi di acara Seminar sehari bertema, “Mencari Akar dan Solusi Fenomena Sosial Aksi Kekerasan Berbasis Ideologi di Jawa Timur” di Paciran Lamongan, Minggu, 30 September 2012.

Ali Fauzi, yang juga mantan instruktur militer di Afganistan, Poso, Moro dan Ambon ini, menyatakan itu dalam acara testimoni yang dilakukan tiga mantan terpidana teroris. Tiga orang tersebut yaitu Haris, 46 tahun; Yusuf, 35 tahun; dan Habib, 31 tahun.

Mereka menyampaikan pengalaman hidupnya dalam keadaan wajah tertutup. Dalam ceritanya, tiga orang ini tercatat pernah mengikuti latihan militer di Afghanistan, Moro di Filipina dan di Poso serta Ambon Maluku.

Tiga orang tersebut, yaitu Haris, 46 tahun, asal Lamongan, semasa mudanya kuliah di Universitas Brawijaya Malang, kemudian pernah ikut latihan militer di Afganistan pada 1998 hingga 2003. Ilmu yang didapat dari latihan militer itu, seperti belajar menembak, merakit bom hingga mengoperasikan senjata berat seperti tank.

Ada juga Yusuf, 35 tahun, kelahiran Jombang, tercatat pernah menjadi terpidana penyimpanan bahan peledak seberat 700 kilogram bersama Abu Thalut di Semarang. Semasa muda pernah ikut latihan militer di Moro Filipina berikut ikut menjadi pejuang di Ambon. Satu orang lagi atas nama Habib, 31 tahun, asal Lamongan ini tercatat pernah ikut latihan militer di Ambon pada tahun 2001. Kemudian, sempat pergi ke Poso yang kemudian ditangkap aparat karena ikut merencanakan aksi teror. Dalam aksi itu, dua temannya saat kontak senjata dengan aparat.

Menurut Haris, pelbagai pengalaman hidup kekerasan sudah dialaminya di Afganistan. Misalnya, dia bersama dengan sejumlah ikhwan (sebutan pejuang Muslim) dari pelbagai Negara, pernah ikut menghancurkan pos milik tentara Soviet pada 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar