Pimpinan Universitas Jember (UNEJ) mengakui terduga teroris bernama Miko Yosiko yang ditangkap tim Densus 88 di Bogor pernah kuliah di kampus itu.
“Memang benar Miko adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ angkatan 1998. Namun, dia tidak melanjutkan kuliahnya hingga selesai,” kata Kepala Humas dan Protokol Unej Rokhani seperti dilansir Antara.
Anggota tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penggerebekan sebuah rumah kos dan mengamankan dua orang yang diduga teroris di Jalan Raya Ciapus, Kampung Cikaret RT 1/RW 2, Kelurahan Cikaret, Kota Bogor, Sabtu (27/10).
Kedua orang yang diamankan terdiri seorang laki-laki yang diketahui bernama Miko Yosiko dan seorang perempuan yang mengenakan cadar bernama Rubiah yang diketahui adalah istri Miko.
Menurut Rokhani, Miko sering mengajukan cuti dan tidak aktif kuliah beberapa kali selama mengenyam pendidikan di UNEJ sejak tahun 1999 hingga 2004, kemudian mahasiswa itu dinyatakan keluar dari FTP UNEJ pada 2005.
Pihak UNEJ, lanjut dia, menyayangkan keterlibatan Miko dalam kegiatan terorisme. “Kami tidak tahu aktivitas Miko ikut organisasi apa di luar kuliah karena kami sulit memantau aktivitas atau kegiatan mahasiswa di luar jadwal kuliah,” paparnya.
Selain Miko, terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 di Madiun yakni Agus Anton Figian juga alumni UNEJ dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang lulus pada 2004.
Jauh sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap radikalisme dan terorisme terutama pada perguruan tinggi.
“Radikalisme sudah masuk ke kampus-kampus, bukan hanya perguruan tinggi swasta, namun juga sudah masuk ke perguruan tinggi yang cukup favorit. Yang lebih bahaya lagi, faham tersebut bukan hanya masuk pada mahasiswa fakultas sosial, namun juga di fakultas eksakta dan saint,” katanya, awal April tahun ini.
Ia mengatakan, pascaruntuhnya orde baru tahun 1998, sebagian masyarakat menganggap bahwa era sekarang adalah kebebasan. Bahkan dalam beberapa aspek, kebebasan tersebut menjadi tidak terkontrol. Dalam kondisi melemahnya kontrol pemerintah itu, faham-faham radikal berkembang dengan bebas, bahkan juga meluas di perguruan tinggi yang sebagian besar mengatasnamakan agama.
Untuk itu, lanjut dia, peran dosen dalam memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama dan penerapannya kepada mahasiswa sangat strategis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar