KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Senin, 11 Juni 2012

Akar Terorisme di Tubuh Umat


Terorisme seringkali ditudingkan kepada umat Islam. Sebagian orang yang cemburu kepada agamanya mengira bahwa tudingan itu hanya sekedar propaganda barat untuk menjatuhkan harga diri kaum muslimin di mata dunia  internasional. Sehingga mereka senantiasa menuduh barat (baca: Amerika, khususnya Yahudi) sebagai dalang di balik semua peristiwa semacam ini. Sebagian lagi justru sebaliknya, mengira bahwa terorisme -dengan melakukan pengeboman di tempat-tempat umum- merupakan bagian dari jihad fi sabilillah dan tergolong amal salih yang paling utama. Sehingga mereka beranggapan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah sosok mujahid dan mati syahid. Itulah sekilas dua cara pandang yang bertolak belakang mengenai berbagai peristiwa pengeboman yang terjadi di negeri-negeri Islam atau di negeri kafir yang banyak menelan korban warga sipil.


Terlepas dari apa yang mereka sangka, sebenarnya kita bisa melihat dengan kaca mata yang adil dan objektif bahwa di samping adanya makar musuh-musuh Islam dari luar, sebenarnya kita juga menghadapi  musuh-musuh dalam selimut yang berupaya meruntuhkan kekuatan umat dari dalam. Salah satu di antara mereka adalah sekte Khawarij di masa silam dan para penganut pemikiran sekte tersebut di masa kini yang gemar melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan jihad. Mereka menampakkan diri sebagai kaum muslimin yang punya komitmen terhadap agama, berpenampilan seperti layaknya orang-orang salih dan taat, dan bersikap seakan-akan membela ajaran Islam, namun sebenarnya mereka sedang melakukan upaya penghancuran Islam dari dalam, sadar ataupun tidak!

Sejarah Hitam Sekte Khawarij

Tidakkah kita ingat sejarah hitam kaum Khawarij yang diabadikan di dalam kitab-kitab hadits? Sebuah sekte yang diperselisihkan status keislamannya oleh para ulama (yang kuat mereka tidak dikafirkan, lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/390 dan 393]). Mereka adalah sekelompok orang yang memiliki ciri khas pandai membaca al-Qur’an dan menghafalkannya, suka mengusung slogan keadilan dan pembelaan rakyat yang tertindas guna menghalalkan pemberontakan kepada penguasa muslim. Berawal dari kedangkalan berpikir mereka, akhirnya hal itu menyeret mereka ke jurang kebid’ahan yang mengerikan. Mereka bunuhi umat Islam sementara para pegiat kemusyrikan justru mereka biarkan.

Munculnya sosok pengacau yang bengis namun berpenampilan salih seperti itu pernah terjadi di masa hidup Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma. Ketika itu, ada sebagian penduduk Bashrah yang terseret pemahaman Qadariyah -menolak takdir- yang diusung oleh sekelompok orang yang pandai membaca al-Qur’an dan memiliki banyak wawasan keilmuan dengan tokoh mereka Ma’bad al-Juhani, sebagaimana disebutkan di bagian awal kitab al-Iman dalam Shahih Muslim. Yahya bin Ya’mar -sang periwayat hadits ini- mengadukan problematika umat yang terjadi di masyarakatnya kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,

“Wahai Abu Abdirrahman! Sesungguhnya di tengah-tengah kami muncul sekelompok orang yang suka membaca al-Qur’an dan mengumpulkan berbagai jenis ilmu -lalu dia menceritakan sebagian keadaan mereka lainnya- namun mereka menyangka bahwa takdir itu tidak ada dan segala urusan terjadi dengan sendirinya.” (HR. Muslim, lihat Shahih Muslim. Cet. 1427 penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyah, hal.27)

Nah, berikut ini kami nukilkan sebagian hadits yang mengisahkan tentang kekejian manhaj kaum Khawarij dan sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat dalam menghadapi mereka. Agar jelas bagi siapa saja bahwa sikap ulama Ahlus Sunnah as-Salafiyun dalam memerangi Khawarij dan pemikiran mereka bukanlah karena motif menjilat penguasa atau mencari muka di hadapan mereka, namun hal itu mereka lakukan semata-mata demi ‘melanjutkan kehidupan Islam’ sebagaimana yang mereka inginkan, dan tentu saja dengan cara meneladani metode perjuangan generasi terbaik dari umat ini.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menceritakan,

“Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji’ranah -nama tempat- sepulangnya beliau dari -peperangan- Hunain, ketika itu di atas kain Bilal terdapat perak yang diambil sedikit demi sedikit oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibagikan kepada orang-orang. Kemudian lelaki itu mengatakan, ‘Hai Muhammad, berbuat adillah!’. Maka Nabi menjawab, ‘Celaka kamu! Lalu siapa lagi yang mampu berbuat adil jika aku tidak berbuat adil. Sungguh kamu pasti telah celaka dan merugi jika aku tidak berbuat adil.’ Maka Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu berkata, ‘Biarkanlah saya wahai Rasulullah untuk menghabisi orang munafiq ini.’ Maka beliau bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai orang-orang nanti mengatakan bahwa aku telah membunuh para sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya adalah suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka keluar darinya sebagaimana keluarnya anak panah yang menembus  sasaran bidiknya.’” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ungkapan ‘mereka suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggrorokan mereka’ memiliki dua penafsiran. Pertama, dimaknakan bahwa hati mereka tidak memahami isinya dan tidak bisa memetik manfaat darinya selain membaca saja. Kedua, dimaknakan amal dan bacaan mereka tidak bisa diterima oleh Allah (lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/389] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

“Sesungguhnya di belakang orang ini akan muncul suatu kaum yang rajin membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka membunuhi umat Islam dan justru meninggalkan para pemuja berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari sasaran bidiknya. Apabila aku menemui mereka, niscaya aku akan membunuh mereka dengan cara sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

an-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Di dalam hadits ini terkandung dorongan untuk memerangi mereka -yaitu Khawarij- serta menunjukkan keutamaan Ali radhiyallahu’anhu yang telah memerangi mereka.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/391] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Mereka bukanlah orang yang malas beribadah, bahkan mereka adalah sosok yang menakjubkan dalam ketekunan dan kesungguhan beribadah. Namun di sisi yang lain, mereka telah menyimpang dari manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat sehingga membuat mereka layak menerima ancaman dan hukuman yang sangat-sangat berat, yaitu hukum bunuh!

Dalam teks riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ciri mereka,

“Sesungguhnya orang ini -Dzul Khuwaishirah, gembong Khawarij, pent- akan memiliki pengikut-pengikut yang membuat salah seorang di antara kalian meremehkan sholatnya apabila dibandingkan dengan sholat mereka, dan meremehkan puasanya apabila dibandingkan dengan puasa mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

an-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Hadits ini menegaskan wajibnya memerangi Khawarij dan pemberontak negara, dan hal itu merupakan perkara yang telah disepakati oleh segenap ulama.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [4/397] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Ubaidullah bin Abi Rafi’ radhiyallahu’anhu -salah seorang bekas budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- menceritakan bahwa ketika terjadi pemberontakan kaum Haruriyah (Khawarij) sedangkan saat itu dia bersama pihak Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, mereka -kaum Khawarij- mengatakan, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah.” Maka Ali bin Abi Thalib pun menanggapi ucapan mereka dengan mengatakan, “Itu adalah ucapan yang benar namun dipakai dengan maksud yang batil…” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim)

Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menyatakan tentang betapa buruknya mereka,

“Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu)

Keamanan Adalah Nikmat yang Harus Disyukuri

Ketahuilah saudaraku -semoga Allah membimbing kita berjalan di atas jalan yang lurus- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk membuat keonaran dan kekacauan di masyarakat. Nabi memerintahkan untuk taat kepada penguasa muslim selama bukan dalam hal maksiat dan melarang rakyat memberontak kepada mereka sezalim apapun mereka -selama mereka masih sholat dan tidak melakukan kekafiran yang nyata yang kita memiliki bukti yang sangat jelas atasnya- serta melarang dari tindakan mengobral aib-aib pemerintah di muka umum. Itu semua disyari’atkan demi terpeliharanya sebuah nikmat yang agung yaitu stabilitas keamanan negara dan ketentraman umum.

Keamanan adalah nikmat yang agung dan harus dipelihara, tidakkah kita ingat doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada Rabbnya,

“Ingatlah ketika Ibrahim berdoa, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini aman tentram, dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah patung-patung…’” (Qs. Ibrahim: 35)

Yang dimaksud ‘negeri’ dalam ayat di atas adalah tanah suci Mekah (lihat Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari yang berjudul Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Aayil Qur’an [17/ 17] Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir. Maktabah as-Syamilah)

Doa meminta keamanan ini pun dikisahkan di dalam ayat lainnya, Allah ta’ala berfirman,

“Ingatlah ketika Ibrahim berdoa; ‘Wahai Rabbku jadikanlah negeri ini aman tentram dan curahkanlah rezeki kepada penduduknya dari berbagai jenis buah-buahan, yaitu kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir di antara mereka…’” (Qs. al-Baqarah: 126)

Maka Allah pun kabulkan doa beliau, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekitarnya saling merampok.” (Qs. al-Ankabut: 67)

Ibnu Jarir at-Thabari rahimahullah meriwayatkan dari Mujahid tentang tafsiran surat Ibrahim ayat 35 di atas bahwa beliau mengatakan, “…Allah mengabulkan doa beliau, yaitu dengan menjadikan negeri tersebut (Mekah) aman, mencurahkan rezeki kepada penduduknya dengan berbagai jenis buah-buahan, menjadikan beliau sebagai sosok imam/pemimpin teladan, menjadikan keturunanannya sebagai orang yang mendirikan sholat, dan Allah pun mengabulkan permintaannya…” (Jami’ al-Bayan [17/17] Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir. Maktabah as-Syamilah)

Allah juga memerintahkan untuk mensyukuri nikmat keamanan dengan beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah ta’ala berfirman,

“Maka hendaknya mereka beribadah kepada Rabb pemilik rumah/Ka’bah ini, yaitu yang telah memberikan makanan kepada mereka sehingga terbebas dari kelaparan, dan memberikan keamanan kepada mereka sehingga terlepas dari cekaman ketakutan.” (Qs. Quraisy: 3-4)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah mengaruniakan kepada mereka keamanan dan murahnya segala sesuatu diperoleh di sana, maka semestinya mereka mengesakan-Nya semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam beribadah dan tidak justru menyembah kepada selain-Nya, entah itu berujud patung, sesembahan tandingan, ataupun berhala dalam bentuk apa saja.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/593] cet. 1417 Penerbit Dar al-Fikr)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Rezeki yang melimpah ruah dan rasa aman dari cekaman ketakutan termasuk nikmat keduniaan yang paling besar, yang sudah semestinya melahirkan sikap dan perilaku bersyukur kepada Allah ta’ala.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1305] cet 1418 penerbit Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)

Maka ayat yang mulia di atas mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat keamanan, sedangkan bentuk syukur yang paling agung -bahkan yang menjadi pokoknya- adalah dengan mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah. Termasuk dalam realisasi rasa syukur ini adalah dengan memelihara keamanan dan tidak merusaknya dengan berbagai bentuk teror dan kekacauan.

Oleh karena itulah, dakwah tauhid yang diserukan oleh para ulama Ahlus Sunnah di sepanjang jaman senantiasa memperhatikan hal ini yaitu terjaganya keamanan dan ketentraman umum serta keselamatan umat dari kekacauan politik dan sosial serta menyingkirkan ambisi-ambisi pribadi atau golongan yang ingin meraih tampuk kekuasaan -walaupun dengan tujuan memberantas kemungkaran-. Sebab dengan  stabilitas keamanan itulah akan muncul manfaat yang meluas bagi masyarakat secara umum dan umat Islam pada khususnya, dan Ahlus Sunnah terlebih khusus lagi.

Tidakkah anda ingat kisah kesabaran Imam Ahmad bin Hanbal -salah seorang imam Ahlus Sunnah- semoga Allah merahmatinya? Beliau rela disiksa dan menahan kejamnya hukuman penguasa yang zalim. Beliau tidak mengajak ribuan pengikutnya untuk berdemonstrasi serta memberontak kepada penguasa tatkala itu, padahal beliau berada di pihak yang benar. Karena tekanan itu pula, beliau terpaksa mendekam di dalam penjara selama tiga masa pemerintahan. Ingatlah juga, kesabaran para sahabat ketika menghadapi kekejaman al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Kenapa penderitaan yang sedemikian berat itu rela mereka tanggung? Hal itu tidak lain dikarenakan mereka menyadari dengan sepenuhnya bahwa maslahat yang didapatkan dengan tidak memberontak dan tetap berada di bawah satu kepimpinan yang sah dan diakui merupakan salah satu sebab utama keamanan dan stabilitas negara.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dan Amirul Mukminin yang baik maupun yang fajir dan siapa pun yang menduduki tampuk khilafah, yang umat manusia telah bersatu di bawah kekuasaannya dan ridha kepadanya. Demikian juga terhadap orang yang berhasil menggulingkan kekuasaan mereka dengan pedang/senjata sehingga merebut posisi khalifah dan dijuluki sebagai Amirul Mukminin.” (Ushul as-Sunnah yang dicetak bersama Syarah Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafzihahullah, hal. 51 Penerbit Dar al-Minhaj cet. 1428 H)

Salamah bin Yazid al-Ju’fi radhiyallahu’anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Nabi Allah! Bagaimana pendapat anda jika ada pemimpin-pemimpin yang menguasai kami yang meminta agar hak-hak mereka dipenuhi namun mereka menghalangi kami dari mendapatkan hak-hak kami, maka apakah yang anda perintahkan kepada kami di saat seperti itu?” Maka beliau pun berpaling darinya. Lalu dia pun bertanya kembali kepada beliau dan beliau pun berpaling darinya. Lalu dia bertanya untuk kedua atau ketiga kalinya maka al-Asy’ats bin Qais radhiyallahu’anhu pun menariknya seraya mengatakan (ketika itu Nabi hadir dan tidak mengingkari ucapannya, pent),

“Tetaplah kamu mendengar dan taat. Sesungguhnya dosa yang mereka lakukan itu adalah tanggungan mereka, dan wajib bagi kalian menunaikan apa yang dibebankan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan bahwa akan muncul sesudah beliau wafat para pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk dan Sunnah beliau. Di antara mereka terdapat orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan yang menjelma di dalam tubuh manusia. Mendengar hal itu Huzdaifah pun bertanya, “Apa yang harus saya lakukan wahai Rasulullah, jika saya menemui hal itu?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya- bersabda,

“Tetaplah kamu mendengar dan patuh kepada pemimpin, meskipun punggungmu harus dipukuli dan hartamu diambil. Kamu harus bersikap mendengar dan patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi bersabda,
“Sesungguhnya akan menguasai kalian pemimpin-pemimpin yang kalian kenali kekeliruan mereka dan kalian pun mengingkarinya. Barang siapa yang membenci hal itu sungguh dia telah berlepas diri darinya. Dan barang siapa yang mengingkari sungguh telah selamat. Akan tetapi yang salah ialah apabila orang justru meridhai dan setia mengikuti kekeliruannya.” Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami perangi saja mereka itu?” Maka beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih melaksanakan sholat.” Arti ungkapan di atas adalah, “Barang siapa yang membenci dengan hatinya dan mengingkari dengan hatinya.” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak mampu menghilangkan kemungkaran maka dia tidak berdosa semata-mata karena dia bersikap diam. Akan tetapi dia menjadi berdosa apabila dia meridhainya, tidak mau membencinya dengan hati, atau justru dengan setia mengikutinya.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [6/485] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)

Camkanlah hadits-hadits di atas baik-baik, wahai para pemuda!
Pikirkanlah masak-masak dampak yang akan muncul di esok hari sebagai akibat dari tindakan kita…

Jumat, 08 Juni 2012

Bom rakitan meledak, satu rumah di Langkat rusak



Rumah milik Selamat Menyan, warga Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, rusak setelah salah satu dari delapan bom rakitan yang ditemukan meledak di rumahnya. Tidak ada korban dalam peristiwa itu.

"Bom yang meledak itu di kediaman Selamat Menyan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut," kata Wakapolres Langkat, Komisaris Polisi Sofyan Khayat, seperti dilansir Antara, Kamis (7/6/12). 

Usai mendapat laporan adanya ledakan bom, tim Gegana Brimob Polda Sumatera Utara langsung menuju lokasi. Tujuh bom rakitan akhirnya berhasil dijinakkan petugas. Diduga bom tersebut merupakan bom ikan yang sering digunakan secara ilegal oleh nelayan.

"Bom tersebut sudah dijinakkan oleh tim Gegana Brimob Polda Sumatera Utara," lanjutnya.

Hingga kini, polisi masih mengawasi dan berjaga-jaga di lokasi terjadinya ledakan bom rakitan tersebut. Dan sebagian lainnya melakukan penyisiran disekitar rumah warga.

Kamis, 07 Juni 2012

Google Peringatkan Akun Gmail Diserang Hacker


(CALIFORNIA) - Pengguna Gmail diminta waspada masuknya virus melalui akun email mereka. Peringatan tersebut disampaikan Google terkait kecurigaan adanya hacker yang diduga disponsori negara tertentu untuk menyebarkan virus.
Perusahaan berbasis di California itu mengungkapkan, sistem peringatan baru Selasa (5/6) memberikan informasi kepada para pengguna Gmail terkait ancaman tersebut. Seperti dilansir VOA, Google mendeteksi banyak pengguna Gmail yang berbasis di Tiongkok melaporkan menerima peringatan itu dalam bentuk pesan yang menonjol di atas akun email mereka.

Peringatan serupa juga dikabarkan muncul pada akun pengguna Gmail di Amerika dan Jepang. Dijelaskan, meski munculnya peringatan itu tidak selalu berarti akun tersebut telah dibajak, tetapi hal itu menunjukkan kemungkinan akun tersebut telah dijadikan sasaran serangan.

Raksasa mesin pencarian itu menganjurkan para pemilik akun Gmail untuk menciptakan password yang kuat dan memastikan keamanan akun mereka. Juga antisipasi keamanan lainnya untuk pencegahan.

Tidak disebutkan secara jelas bagaimana dugaan serangan itu disponsori pemerintah atau kelompok yang disponsori negara. Namun, banyak analis teknologi berpendapat kemungkinan ini merupakan babak baru dalam sengketa Google dan Tiongkok yang sudah berlangsung sejak lama.

Rabu, 06 Juni 2012

Pengakuan Mantan wahabi sesat LDII (Islam Jamaah)


Majelis Intelektual Dan Ulama Muda (MIUMI) menerima kunjungan dari mantan anggota Islam Jamaah. Islam Jamaah adalah organisasi yang kini ditengarai berganti nama menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).
Keempat orang tersebut adalah H. Durahim Darmo (Mantan Wakil Imam Daerah Islam Jamaah untuk daerah Jakarta Selatan), Adam Amrullah (Mantan Ketua Pemuda Islam Jamaah Wilayah Jakarta Timur), Mauludin Akhyar (Mantan Wakil Ketua) lalu Muhammad Imam Nasa’I salah satu mantan Mubaligh LDII.


Kehadiran keempat orang di kantor MIUMI di, Jalan Tebet Timur Dalam VIII No. 44. Jakarta Selatan selain bertujuan untuk bersilahturahim juga untuk melaporkan fakta-fakta ajaran yang dikembangkan oleh Islam Jamaah dengan payung organisasinya LDII.
Adam Amrullah menjelaskan bahwa di dalam kajian LDII itu tidak ada sekalipun selama 32 tahun dia aktif diajarkan mengenai Ketauhidan.


“Sejujurnya saya baru memahami tauhid itu setelah saya keluar dari LDII. Selama saya di LDII saya hanya diajarkan untuk berbai’at kepada Imam LDII dan mendapat jaminan masuk surga dan orang selain LDII adalah adalah kafir dan sesat,” jelasnya.


Adam Amrullah menjelaskan di dalam LDII ada yang namanya konsep Bithonah.
Konsep Bithonah ini istilah yang sama dengan konsep Taqiyah di Syiah. Fungsinya adalah menghalalkan berdusta, berbohong untuk kepentingan dakwah LDII.


“Jadi kalau ditanya oleh orang luar LDII apakah mereka mengkafirkan orang di luar jamaahnya mereka akan berkata tidak. Apapun untuk menjaga kepentingan LDII mereka dibolehkan berbohong, walaupun ke orang tua mereka sendiri. Begitupun ketika LDII mengatakan ke ketua MUI bahwa LDII sudah berubah itu semua bagian dari strategi Bithonah. Kenyataannya sampai hari ini mereka tetap sama tidak ada yang berubah,” jelasnya.


Ada tiga prinsip dalam berkomunikasi dengan masyarakat di luar LDII yang dijelaskan Adam Amrullah kepada hidayatullah.com.
Pertama, mereka dituntut untuk fathonah yaitu cerdas dalam membaca situasi ketika menyampaikan hal hal terkait LDII.
Bithonah adalah membolehkan berbohong ketika terdapat ancaman dalam kepentingan LDII. Yang ketiga adalah Budi Luhur yaitu anggota LDII dituntut untuk menunjukkan perilaku baik, lemah lembut dan ramah untuk merebut simpati masyarakat.
Mauludin Akhyar mantan wakil ketua Islam Jamaah ini menjelaskan bahwa anggota LDII sampai sekarang tidak boleh menjadi makmum sholat dengan orang di luar jamaahnya. Ini karena ajaran LDII yang memang mengkafirkan orang diluar jamaahnya.


“Jadi kalau sampai terpaksa makmum dengan orang lain. Biasanya diulang lagi dirumah. Kalaupun tidak diulang, niat seorang LDII sholat berjamaah dengan orang diluarnya tetap dengan niat munfarid. Walaupun jasadnya, hati kecil mereka tidak mengakui imam sholat dan mereka tetap meniatkan sholat sendiri. Dan ini bagian dari ijtihan imam LDII” jelasnya.
Muhammad Imam Nasa’I juga menjelaskan bahwa di LDII ada yang namanya pengakuan dosa. Jadi perbuatan dosa di LDII bisa ditebus dengan membayarkan sejumlah uang sesuai aturan yang sudah ditetapkan oleh pengurus pusat  LDII di Kediri.


“Tradisinya itu disetiap menjelang Ramadhan, mereka mengumpulkan surat taubat. Jadi kesalahan kesalahan dosa itu seperti permainan. Dari surat taubat itu maka seorang anggota LDII bisa menebus dosanya dengan membayar sejumlah uang ke pengurus pusat sesuai yang sudah ditentukan, dengan ini maka dosanya hilang” jelasnya
Seperti yang dijelaskan oleh Muhammad Imam Nasa’i ke Hidayatullah.com. Beberapa biaya penebusan itu sendiri antara lain mulai dari dosa masturbasi penebusan dosanya Rp.180.000 sedangkan untuk dosa perzinahan Rp.180.000 dikali enam.


LDII sendiri membolehkan jamaahnya untuk mencuri dari orang – orang diluar jamaahnya. Setiap bulan setiap anggota diwajibkan untuk menyetor 10 persen dari pendapatannya kepada Pemimpin Islam Jamaah. Bahkan dalam ajaran mereka, Pemimpin Islam Jamaah atau LDII bisa memberikan syafaat untuk masuk surga diakhirat nanti. 

Membendung Terorisme dengan Deradikalisasi


Terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis, ekstrem, dan merasa tidak mendapat perlakuan yang berkeadilan.Gembong teroris nomor wahid di Indonesia, Noor Din M. Top dan Dr Azahari, sudah tewas. Namun, tak ada jaminan terorisme telah raib. Menurut beberapa kajian,terorisme bukan semata-mata menyangkut si pelaku, melainkan berkaitan dengan keyakinan. Dan, ibarat tanaman, terorisme bisa patah tumbuh hilang berganti.

Dalam bukunya,Terorisme. Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, (Jenderal) Abdullah Mahmud Hendropriyono menulis terorisme sebagai ancaman abadi terhadap keamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Ia menyarankan pentingnya melakukan kajian filsafat untuk menyusun metode, strategi, teknik, dan taktik operasional dalam menumpas terorisme.Buku setebal hampir 500 halaman itu adalah kajian ilmiah Hendropriyono untuk meraih gelar doktor di bidang ilmu filsafat, yang dipertahankan pada 25 Juli lalu dihadapan tim penguji Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Menurut Hendro, terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis atau ekstrem sebagai fenomena global.

Terorisme juga bisa tumbuh di kalangan semua penganut agama. Tak hanya dikalangan penganut Islam, tapi juga penganut Kristen dan Yahudi. Fundamentalisme Kristen tumbuh di Amerika Serikat sejak abad ke-19, dan terus berkembang hingga kini. Pada era pemerintah Presiden George W. Bush, mereka merupakan pendukung utama neo-imperialis. Mereka menganggap kapitalisme modern merusak agama, jadi harus dilawan dan dikembalikan pada ajaran Tuhan. 

Sementara itu, lahirnya fundamentalisme Yahudi berkaitan erat dengan konstelasi geopolitik ditandai dengan lahirnya Gerakan Zionis. Mereka meyakini bahwa Palestina adalah "tanah berkah" yang ditakdirkan bagi anak-anak Tuhan, yaitu bangsaYahudi. Maka muncullah kemudian negara Israel pada 1948, yang ditentang oleh bangsa Palestina, yang sebelumnya sudah lama menghuni "tanah yang dijanjikan" itu.

Adapun fundamentalisme Islam yang sangat dirasakan akhir-akhir ini justru terjebak dalam perangkap terorisme yang mengatasnamakan jihad. Sementara itu, dalam praktek, jihad sebagai ajaran agama yang suci menjelma menjadi perilaku kekerasan yang dibungkus dengan teror.

Selasa, 05 Juni 2012

PERNYATAAN DIREKTUR PENCEGAHAN DALAM PENUTUPAN SIMULASI PELATIHAN PENANGGULANGAN TERORISME UNTUK MANAJER SATPAM TERKAIT


Mitra strategis BNPT adalah Manajer Satuan Pengamanan karena satuan pengamanan adalah ujung tombak dari suatu kegiatan pecegahan terorisme bersama-sama dengan masyarakat, ujar Dir I Bid Pencegahan Brigjen Polisi Drs Esa Permadi.

Satuan Pengamanan merupakan garis depan dalam mencegah suatu kejadian-kejadian, apabila terjadi hal yang tidak diinginkan maka satuan pengamanan sudah mengerti apa yang harus dilakukan untuk mengatasi dan berkoordinasi dengan badan atau satuan yang terkait, dalam mengurangi kerugian materil mau pun personil.

PENUTUPAN SIMULASI PELATIHAN MANAJER SATPAM TERHADAP PENANGGULANGAN TERORISME


      Salah Satu Program BNPT Adalah Melakukan Pelatihan2 Terhadap Satpam Agar Bisa Mengetahui Spesifikasi Aksi Terorisme.

"Pencegahan Terorisma Adalah Tanggung Jawab Seluruh Masyarakat, Aksi Terorisme Dari Awal Kita Harus Cegah, Kalau Pun Tidak Bisa Di Cegah Bisa Meminimalisir Kerugian Baik Materi Maupun Personil" Kata Deputi I Bnpt Bidang Pencegahan. 

Dalam Melakukan Pencegahan Harus Bersama-Sama Seluruh Elemen Masyarakat, Kita Berharap Di Negara Kita Ini Tidak Ada Lagi Aksi-Aksi Terorisme Kata Deputi I. Sehingga Masyarakat tidak khawatir mengunjungi tempt-tempat keramaian seperti Mall, Hotel, Bandara Dll.