Bandara Tjilik Riwut di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah baru-baru ini didatangi oleh ribuan warga setempat. Mereka menanti kedatangan sebuah pesawat udara dari Jakarta.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah warga Kalimantan Tengah itu sedang menunggu kedatangan seorang pejabat tinggi dari Jakarta ataukah tokoh masyarakat terkenal alias kondang? Masyarakat setempat rupanya menunggu kedatangan tokoh-tokoh dari organisasi kemasyarakatan Front Pembela Islam alias FPI, yang datang ke Kalteng untuk meresmikan perwakilan FPI di provinsi itu.
Namun sayangnya ribuan orang Palangka Raya atau sekitarnya itu bukannya untuk menyambut kedatangan tokoh-tokoh FPI itu malahan sebaliknya justru mereka menentang hadirnya ormas Islam itu di Kalteng.
"Saya minta jangan ada yang berbuat anarkis. Saya minta semuanya untuk membubarkan diri," kata Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang.
Masyarakat mencari-cari, terutama Ketua FPI Habib Rizieq, namun ternyata tokoh yang biasa mengenakan pakaian khas Arab itu tidak muncul. Penolakan kehadiran FPI itu antara lain untuk menghindarkan munculnya suasana tidak kondusif di daerah tersebut.
Sekalipun masalah penolakan kehadiran FPI itu sudah usai, ternyata Habib Rizieq masih tetap melakukan kegiatan sehari-harinya . Bahkan dia muncul di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat pada hari Jumat (30/03) di tengah-tengah suasana panas menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak atau bbm bersubsidi.
"Kita sudah siap merebut Istana," kata Habib Rizieq dengan suara garangnya yang sudah terkenal kemana-mana.
Sementara itu, sebuah ormas Islam lainnya yang juga dikenal sebagai organisasi beraliran radikal atau keras, Hisbut Tahrir Indonesia(HTI) tidak mau kalah menyuarakan penolakannya terhadap rencana kenaikan harga BBM tersebut.
Bahkan di tengah demo antikenaikan harga BBM itu, anggota dan simpatisan HTI memperlihatkan perjuangan mereka menegakkan ajaran Islam versi mereka.
Sekalipun akhirnya DPR dan juga pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga bbm mulai 1 April 2012 itu, masih bergunakah membicarakan FPI dan HTI tersebut? Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama baru- baru ini di Palembang dan Kabupaten Musi Banyu Asin Provinsi Sumatera Selatan menyelenggarakan Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural Intern Pemuka Agama Islam Pusat dan Daerah.
Pada acara tersebut diundang beberapa tokoh dari berbagai ormas Islam mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Irsyad, Majelis Dakwah Islamiyah, Dewan Masjid Indonesia hingga Fatayat NU.
Di dalam dialog beberapa hari tersebut, muncul berbagai topik yang menarik untuk direnungkan mulai dari bagaimana meningkatkan taraf hidup umat Islam yang sebagian besar masih dalam keadaan memprihatinkan hingga bagaimana menghadapi ormas-orams Islam yang "beraliran keras atau radikal" seperti FPI dan HTI.
"Kementerian Agama sedang menginventarisasikan ormas-ormas Islam yang selama ini dikenal radikal atau beraliran keras seperti Hizbut Tahrir Indonesia, Ikhwanul Muslimin serta FPI," kata Kepala Diklat Kehidupan Keagamaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama Imam Tholkhah di Palembang ketika membuka pertemuan sangat penting ini.
Imam Tholkhah mengatakan bahwa HTI dan Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi-organisasi yang terkait dengan organisasi internasional.
Tak suka Ketika pada hari Rabu (28/03) menghadiri pertemuan di Kantor Kementerian Agama di Jakarta untuk menyepakati hasil pertemuan Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural Intern Pemuka Agama Islam di Sumatera Selatan tersebut, Imam mengeluarkan pernyataan menarik untuk direnungkan.
"Mereka tidak suka disebut sebagai organisasi yang radikal," kata Imam ketika menunjuk nama-nama HTI, Ikhwanul Muslimin hingga FPI.
Kalau mereka menentang sebutan sebagai organisasi radikal, maka pertanyaannya adalah apa yang mereka lakukan selama ini sehingga kemudian mendapat sebutan "tidak sedap" itu? Jika orang atau warga Jakarta, misalnya mendengar nama FPI, maka biasanya yang terbayangkan adalah saat orang-orang dengan seragam sorban putih menyerbu atau menyerang tempat-tempat yang mereka anggap maksiat seperti tempat perjudian atau lokalisasi pekerja seks komersial. Jika dalam bulan ramadhan, yang dianggap bulan suci oleh umat Islam, masih terjadi perjudian, maka biasanya anggota atau simpatisan FPI tiba-tiba muncul.
Dengan suara garang atau bahkan menakutkan dan sambil membawa senjata tajam, sekonyong-konyong muncul puluhan anggota FPI untuk mengobrak-abrik tempat-tempat maksiat tersebut. Orang-orang yang ada didalamnya langsung kocar-kacir dan kemudian kabur. Tapi yang anehnya adalah biasaya aparat keamanan seperti polisi jarang sekali datang pada saat seperti itu sehingga timbul kesan bahwa FPI bebas untuk berbuat semaunya sendiri.
Setelah terjadinya operasi mendadak di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya itu, kemudian Ketua FPI Habib Rizieq datang ke kantor Kementerian Agama untuk menemui Menteri Agama Suryadharma Ali. Dalam pertemuan itu, Habib Rizieq menyatakan bahwa FPI sudah tidak lagi melakukan tindak kekerasan seperti masa lalu itu.
Sekalipun Habib Rizieg mengaku sudah tidak bertindak keras lagi, Kementerian Agama sedang menyusun peraturan untuk menangani ormas-ormas radikal atau keras itu.
"Mudah-mudahan tahun 2012 , aturan itu sudah selesai," kata Toha sambil menambahkan bahwa yang bakal muncul adalah surat keputusan bersama karena Kementerian Agama tidak berhak menangani aspek hukum ormas-ormas radikal tersebut. Ketika menangani Ahmadiyah yang muncul adalah surat keputusan bersama Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri serta Jaksa Agung.
Umat Islam dan juga umat agama-agama lainnya tentu berhak membentuk berbagai organisasi. Tapi yang diharapkan adalah organisasi- organisasi itu tidak merasa sebagai wadah yang paling benar dan menganggap organisasi lainnya sebagai orang yang salah sehingga patut untuk dimusuhi.
Kalau Ketua FPI Habib Rizieq saja sampai menemui Menteri Agama Suryadharma Ali maka berarti bahwa mereka mengakui arti pentingnya kementerian itu.
Karena itu, Kementerian Agama tentu sah-sah saja mengeluarkan aturan bersama-sama instansi lainnya agar kehidupan umat agama bisa berjalan baik dan tidak dinodai oleh tindakan- tindakan yang radikal, ekstrim atau keras sehingga malahan umat beragama malah saling mencurigai sesamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar