KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Kamis, 26 Juli 2012

RADIKALISASI PETANI DAN ISLAM RADIKAL


Radikalisasi petani lebih dikenal dengan istilah pemberontakan petani disebabkan oleh Pertama, polarisasi masyarakat pedesaan yang susunan kelasnya terdiri atas tuan tanah dan petani penggarap, yang keduanya Pada situasi berkesenjangan. Kedua, ketegangan kultural antara mereka yang kuat agama (santri) dan tidak taat agama (abangan) berdasarkan politik aliran. Ketiga, anggapan masyarakat pedesaan Indonesia yang menderita dua konflik sosial-ekonomi dan kultural yang menimbulkan konflik kepentingan antara tuan tanah yang diwakili fanatisme agama melawan kepentingan petani yang diwakili oleh komunisme.

Aksi kelompok islam radikal dilandasi pemikiran yang sama dengan pemberontakan petani. Tujuan dan spirit keduanya untuk melawan ketidakadilan dan penindasan oleh kekuatan lain. Ratu Adil, sebagai sebuah impian keadilan wong cilik (terutama kelas petani kecil) yang dicita-citakan petani dan jihad fi-sabilillah, perang suci di jalan Allah dalam arti menentang segala bentuk ketidakadilan dengan segala bentuknya, dimanapun dapat ditemui dan demi mereka yang tertindas siapa pun mereka demi keadilan dan kebenaran yang harus ditegakan oleh umat islam yang mempunyai impian untuk mendapatkan kedamaian di Sisi Allah sebagai tujuan akhir kehidupan.

Radikalisasi petani mayoritas disebabkan oleh kondisi pertanian yang tidak bisa menjadi penopang perekonomian petani, dibandingkan dengan sektor pekerjaan lain. Kemudian permasalahan ekonomi tersebut bergeser menjadi permasalahan politik yang ditopang oleh ideologi marxisme menjadi kekuatan kolektif. Sementara sebaliknya, aksi teror yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal lebih didasarkan pada permasalahan konflik politik dan ideologi yang tidak bisa menjadi kekuatan dominan. Konflik ideologi ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari kepentingan ekonomi dan kesejahteraan yang ingin diwujudkan oleh kelompok tersebut.

Melihat latar belakang dan motive aksi yang dilakukan oleh petani ataupun kelompok Islam radikal, maka bentuk strategi penanganannya juga berbeda. Jika pendekatan penyelesaikan permasalahan petani pada pendekatan ekonomi, sementara aksi kelompok Islam radikal lebih komplek. Permasalahan politik dan ideologi, dalam hal ini kehidupan keberagamaan yang mesti ditata. Bagaimana mensosialisasikan kehidupan beragama dalam konteks keIndonesiaan serta mewujudkan law enforcement dalam arti substansil, bukan formil. Langkah ini harus dilakukan secara terus menerus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar