KERAGAMAN ETNIS

KERAGAMAN ETNIS

Jumat, 03 Agustus 2012

Umat Budha Akan Gelar Aksi Solidaritas Untuk Rohingya


Umat Buddha siap menggelar aksi solidaritas terhadap etnis Rohingya yang mengalami kekerasan di Myanmar sebagai bentuk kepedulian antarumat beragama.

Umat Buddha tak berjalan sendirian. Mereka juga akan merangkul umat Islam untuk mengikuti gerakan penyelamatan ini serta terus menyuarakan aspirasi hingga ke taraf internasional.

Bersama komunitas masyarakat dan agama lain, mereka akan menggelar unjuk rasa di kantor Kedutaan Besar Myanmar atau Bundaran Hotel Indonesia pada Jumat besok, 3 Agustus 2012, sebagai tanda keprihatinan atas kasus Rohingya.

“Kita akan bergerak bersama dengan umat Islam. Sekarang ini masih dalam tingkat pembicaraan mencari solusi bersama. Kemudian ini akan disampaikan kepada kedutaan besar Myanmar dan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jakarta,” ujar Biksu Jimmu Gunabadhra dari Lembaga Bantuan Hukum Buddhis Indonesia seperti dilansir INILAH.COM saat acara ‘Bincang Rohingya!’ di Masjid Salman ITB, Kota Bandung, Kamis 02 Agustus 2012.

Aksi menolak kekerasan terhadap etnis Rohingya ini tidak hanya ditujukan oleh umat Buddha kepada mereka yang ada di Myanmar. Tapi juga seluruh dunia. Karena di sudut dunia manapun manusia yang tertindas, harus dibela.

“Dan aksi itu tidak hanya terhadap etnis yang tertindas di Myanmar. Di sudut dunia manapun bila ada manusia yang tertindas pasti ditentang apalagi kita dari Indonesia. Karena tidak sesuai dengan pembukaan UUD dan piagam PBB,” jelasnya.

Lebih dari itu ia menyesalkan isu yang berkembang bahwa tragedy Rohingya adalah konflik umat Buddha versus Islam. Menurut Jimmu, umat Buddha tidak pernah berkonflik dengan manusia atau umat agama lain. “Bahkan membunuh ayam pun kami tidak bisa,” ujarnya seperti dikutip Tempo.

Ia lantas mempertanyakan umat Buddha yang terlibat konflik agama dan kemanusiaan di Myanmar. “Di mana letak kebuddhaannya? Sepertinya salah ajaran pada agamanya itu,” katanya.

Dasar sikap umat Buddha untuk Rohingya, kata Jimmu, yaitu maitri. Prinsip itu menekankan cinta kasih yang universal, tidak hanya kepada manusia juga hewan dan makhluk hidup lain di dunia. “Masalahnya, suku Rohingya tidak diakui keberadaannya oleh negara sendiri dan dianggap sebagai pendatang gelap,” ujarnya.

Sumber: tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar