Banyak di antara instansi-instansi yang concern pada tema-tema keberagaman, keberagamaan dan toleransi, baik pemerintah maupun non-pemerintah, melaporkan bahwa kondisi keberagaman tahun 2012 di Indonesia kurang memuaskan. Laporan-laporan tersebut dapat dilihat dari rilis The Wahid Institute, Kementrian Agama dan Kementrian Polhukam.
Sebagai negara yang majemuk ras, agama, suku, budaya dan bahasanya, tentu laporan ini sangat mengkhawatirkan. Ini karena matinya toleransi dalam keberagaman dapat merongrong dan meruntuhkan kebersamaan hidup Indonesia itu sendiri.
Menurut peneliti dari UGM, Najib Azca, fenomena intoleransi yang meningkat tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor sosial, ekonomi dan politik yang berkembang belakangan. Menurutnya pembangunan Indonesia akhir-akhir ini mendorong berkembang-biaknya pola-pola kehidupan konsumtif, komunal dalam komunitas-komunitas parsial sekaligus intoleran pada kelompok identitas di luarnya.
Secara implisit Najib Azca hendak mengatakan bahwa perekat sosial yang bisa menyatukan seluruh elemen bangsa mengalami pengikisan berkat pola-pola kehidupan yang semakin individualis, hedonis dan terfragmentasi. Dalam kondisi semacam ini, Indonesia bisa dikatakan defisit kohesi sosialnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar