Santoso, pentolan kelompok teror Poso yang sudah lama menjadi buron kepolisian, diakui oleh Mabes Polri cukup terkenal di kalangan masyarakat Poso. Namun hal itu bukan berarti warga Poso mendukung aktivitas kelompok radikal-teror di sana.
Pandangan itu dikemukakan oleh peneliti kelompok radikal Poso dan Ambon, Najib Azca, Ph.D. Menurut dia, sosok Santoso alias Abu Wardah hanya populer di kalangan kelompok militan baru yang menjelma menjadi kelompok teror.
Lebih dari itu, menanggapi adanya semacam perlawanan dari sebagian kecil warga Poso terhadap kepolisian saat melakukan penangkapan terhadap beberapa terduga teroris, ia melihat hal itu tidak serta merta bisa ditafsirkan sebagai bentuk pembelaan terhadap kelompok teroris.
“Itu sekadar ekspresi kekecewaan warga terhadap perilaku kepolisian yang represif dalam beberapa penanganan kasus teror, seperti melakukan penahanan yang tidak didasari dengan data yang akurat. Hal ini memicu semacam antipati dari masyarakat terhadap kepolisian,” terang pengajar Departemen Sosiologi FISIP UGM itu kepada Lazuardi Birru.
Namun demikian, lanjut Najib, hal itu bukan merupakan bentuk simpati, dukungan, atau bahkan pembelaaan terhadap kelompok-kelompok teroris.
Saat ditanya apakah mantan kombatan konflik horizontal Poso banyak terlibat dalam aktivitas kelompok teror? penulis buku “After Jihad” ini menjelaskan bahwa pascaperjanjian Malino, tidak ada jalur aktivitas tunggal bagi mereka.
“Sebagian besar dari mereka kembali ke kehidupan normal, menjadi bagian dari masyarakat, harus memikirkan kebutuhan ekonomi keluarganya. Namun memang sebagian lain yang jumlahnya sangat kecil masih terlibat dengan kelompok-kelompok militan seperti Jamaah Ansharut Tauhid (JAT),” ungkapnya.
Dalam hematnya, ada variasi aktivitas yang cukup luas di kalangan eks kombatan Poso. “Kita tidak bisa melakukan jeneralisasi bahwa semuanya atau sebagian besar masih terkait dengan terorisme,” imbuhnya.
Ia menyerukan agar pemerintah, terutama aparat keamanan, melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam, cermat dan teliti mengenai pola-pola kegiatan warga yang sebelumnya terlibat dalam gerakan milisi yang berafiliasi pada kelompok jihad atau kelompok teroris pada masa lalu.
“Bagaimana mereka mencukupi kebutuhan-kebutuhan ekonominya, afiliasi sosialnya, dan sebagainya, itu harus dilakukan pemetaan yang mendalam,” tutupnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar