Orang yang mudah didoktrin dan dikader untuk jadi teroris adalah mereka yang cenderung berpikir hitam putih dan memiliki pemahaman yang fundamentalis. Bibit-bibit seperti ini mudah untuk didoktrin menjadi teroris. Hal tersebut diungkapkan Psikolog Prof Dr Hamdi Muluk.
“Orang yang berpikir doktriner seperti itu mudah dikecohkan pemikirannya dan dibikin simple saja. Misalnya, itu musuh Islam, maka dibom, tanpa berpikir panjang,” kata Guru Besar Universitas Indonesia (UI) ini.
Jadi, kata Hamdi, ketika orang direkrut menjadi teroris, pola pikir kritisnya memang sengaja dimatikan agar bertaklid buta pada pemimpinnya. Dan biasanya mereka tidak terbuka terhadap orang lain, tidak membuka dialog, dan ekslusif.
Menurut Hamdi, dalam ilmu psikologi, mereka ini mengidap penyakit otoritarianisme. Orang yang mengidap penyakit ini hanya patuh pada pimpinan mereka, taklid buta, menyerahkan jiwa dan raganya pada pemimpinnya.
Orang seperti ini, kata Hamdi, selalu melihat orang luar sebagai ancaman, tidak mau berpikir demokratis, karena berpikir demokratis dianggap melemahkan sendi-sendi dari otoritarianisme itu. “Mareka ini antidemokrasi, tidak suka dengan pembaharuan, selalu curiga pada pembaharuan, sangat puritan, dan sangat dokmatis,” ungkapnya.
“Dan fundamentalisme keberagamaan itu disebabkan oleh cara berpikir yang sangat dokmatis tadi. Secara psikologi, hal tersebut menjadi bibit-bibit seseorang mempunyai sikap radikal,” tegasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar